alexametrics

Pertumbuhan Ekonomi Berat, Pemerintah Harus Kreatif Ciptakan Lapangan Kerja

loading...
Pertumbuhan Ekonomi Berat, Pemerintah Harus Kreatif Ciptakan Lapangan Kerja
Para pencari kerja memadati Bursa Efek Kerja Terbuka 2019 di Gedung Convention Hall, Surabaya, Selasa (14/5/2019). SINDOnews/Aan Haryono
A+ A-
JAKARTA - Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai pemerintah harus kreatif membuka lapangan kerja di tengah pertumbuhan ekonomi yang diasumsikan lebih rendah pada tahun ini.

Dia mencatat, elastisitas tenaga kerja dengan asumsi realisasi pertumbuhan ekonomi hanya 5% di tahun 2019 dengan tambahan 2,55 juta tenaga kerja per Agustus 2019. Ini berarti elastisitas per 1% pertumbuhan ekonomi mampu menciptakan pekerjaan untuk 510.000 orang.

Sementara untuk asumsi di 2020 ekonomi lebih rendah dari 2019 yakni 4,8% dan serapan tenaga kerja baru lebih rendah dari 2 juta orang. Maka, kata dia, elastisitasnya akan turun ke 416.000 orang setiap 1% pertumbuhan ekonomi.



"Itu tidak akan cukup untuk menurunkan angka pengangguran ke 4,8% atau turun secara nominal dari 7,05 juta menjadi 6,5 juta. Pasalnya, Indonesia akan membutuhkan 550.000 lapangan kerja baru. Sementara, penduduk yang masuk usia kerja juga naik setiap tahun," ujar Bhima di Jakarta, Rabu (8/1/2020).

Lebih lanjut dia menjelaskan antisipasi yang harus dilakukan dengan merevitalisasi sektor pertanian dan manufaktur. Menurut dia, dua sektor itu paling besar dalam membuka lapangan kerja. Insentif sektor pertanian dan industri harus lebih besar khususnya yang padat karya.

Pemanfaatan kartu prakerja disebutnya juga harus dipercepat dan tepat sasaran. "Booming ekonomi digital harus dimanfaatkan untuk menciptakan lapangan kerja. Bukan saja untuk pekerjaan low skill seperti ojek online tapi juga di sektor IT yang high skill," tandasnya.
(ind)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak