alexametrics

Sentimen Global Masih Membayangi Pergerakan Bursa Saham

loading...
Sentimen Global Masih Membayangi Pergerakan Bursa Saham
Sentimen global diprediksi masih membayangi pergerakan bursa saham nasional, dimana laba korporasi juga akan menjadi sentimen pasar minggu ini. Foto/Dok
A+ A-
JAKARTA - Sentimen global diprediksi masih membayangi pergerakan bursa saham nasional, dimana laba korporasi juga akan menjadi sentimen pasar minggu ini. Di awal musim laporan keuangan mencatatkan data yang baik. Dari 7% dari perusahaan S&P 500 telah melaporkan keuangannya, menurut data FactSet 76,5% perusahan-perusahaan membukukan laba lebih baik dari perkiraan.Diperkirakan keuntungan perusahaan menurun pada periode pelaporan kali ini. "Pelaku pasar direkomendasikan sell on strength atau SOS ketika pasar menguat," ujar Direktur PT. Anugerah Mega Investama Hans Kwee di Jakarta.
FactSet memperkirakan laba S&P 500 berpeluang turun 2% pada kuartal keempat secara year-over-year. Sedangkan sebagian analis memperkirakan laba emiten pada indeks S&P 500 berpeluang turun 0,8 % pada kuartal keempat, tetapi analis memperkirakan terjadi kenaikan laba 5,8% pada kuartal pertama 2020.

Pekan lalu pasar diwarnai sentimen positif dari penandatangan fase pertama AS China. Dimana hal ini menghentikan perang dagang 19 bulan yang menekan pertumbuhan ekonomi global dan menjadi beban bagi pasar keuangan global. Langkah Departemen Keuangan AS, yang mengeluarkan China dari daftar manipulator mata uang juga menjadi sentimen positif pasar.

Ini merupakan isyarat niat baik ketika delegasi China yang dipimpin Wakil Perdana Menteri Liu He melakukan penandatanganan perjanjian perdagangan parsial. Perwakilan AS dan China telah melakukan penandatangan kesepakatan perdagangan parsial, di mana AS setuju untuk tidak mengenakan tarif tambahan dan mengurangi tarif terhadap sejumlah barang China senilai USD120 miliar.



Dalam kesepakatan itu China akan meningkatkan pembelian produk AS. China dikabarkan akan membeli lebih dari USD50 miliar minyak, gas alam cair, dan produk energi AS lainnya dalam dua tahun. Tetapi ada keraguan apakah China akan memenuhi hal tersebut. Selain itu perjanjian perdagangan AS-China juga mencakup ketentuan untuk mengekang pencurian kekayaan intelektual bersama dengan transfer teknologi. Hal ini masih harus dibahas antar kedua Negara karena berbeda pendapat kedua Negara.

Kesepakatan fase satu ini dipandang masih sangat rapuh karena banyak hal teknis yang harus dibicarakan. Pernyataan Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, bahwa Amerika akan mempertahankan tarif barang-barang China sampai kesepakatan tahap kedua berakhir juga menjadi sentiment negative pasar. Laporan Bloomberg News sebelumnya mengatakan AS bisa mempertahankan tarif lebih dari USD300 miliar terhadap barang-barang impor dari China sampai November 2020 atau sampai pilpres AS dilakukan.

Sementara tensi konflik Timur Tengah mereda, tetapi investor masih perlu mewaspadai kemungkinan kembali panasnya ketegangan geopolitik AS-Iran. Pasar menanti langkah sanksi baru apa yang diumumkan AS baru kepada Iran terkait pengayaan uranium dan tudingan Teheran sengaja menyerang fasilitas AS di Irak. Inggris, Perancis dan Jerman juga secara resmi menuduh Iran melanggar perjanjian nuklir yang disepakati 2015. Hal ini membuat peluang sanksi-sanksi kembali dikenakan.

Setelah negosiasi perang dagang AS China pasar menanti kelanjutan negosiasi AS dan Uni Eropa. Dikabarkan Hogan menyatakan terdapat sinyal positif terkait pembicaraan dengan Robert Lighthizer, Representative Trade USA di Washington. Pembicaraan dilakukan terkait keinginan Komisi Uni Eropa untuk melakukan menegosiasikan sengketa perdagangan terbuka antara AS dan Uni Eropa.

Negosiasi kedua wilayah diharapkan menjadi langkah baik dalam memecahkan masalah-masalah seperti pajak digital Perancis dan subsidi industri dirgantara. Hal lain yang juga menjadi sentiment optimisme pasar.

Di China, langkah otoritas yang dalam beberapa bulan terakhir menerapkan kebijakan untuk mendorong aktivitas ekonomi seperti melonggarkan batas kredit dinilai berhasil. Pertumbuhan ekonomi China berhasil tumbuh 6,1% di periode tahun 2019, dan hal ini sesuai dengan perkiraan para analis. Pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2019 China sebesar 6,0%. Hal ini menunjukan hal yang positif bagi negara tersebut.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak