alexametrics

Dirut Baru Harus Mampu Angkat Pamor Garuda

loading...
Dirut Baru Harus Mampu Angkat Pamor Garuda
Sejumlah tantangan jangka pendek maupun panjang telah menanti direksi baru Garuda Indonesia. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk hari ini resmi menunjuk Irfan Setiaputra menjadi Direktur Utama menggantikan Ari Askhara.

Menahkodai Garuda, Irfan didampingi Dony Oskaria sebagai Wakil Direktur Utama, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Fuad Rizal, Direktur Operasi Tumpal Manumpak Hutapea, Direktur Human Capital Aryaperwira Adileksana, Direktur Teknik Rahmat Hanafi, Direktur Layanan, Pengembangan Usaha, dan IT Ade R Susardi dan Direktur Niaga dan Kargo M Rizal Pahlevi.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, tim baru manajemen BUMN penerbangan tersebut tak bisa santai karena sejumlah tantangan sudah menghadang di depan mata.



Tantangan pertama yang akan dihadapi Irfan dan tim manajemen menurutnya adalah mengembalikan pamor Garuda dan kepercayaan yang tercoreng akibat sejumlah kasus belakangan ini, terutama skandal penyelundupan motor dan sepeda mewah oleh direksi lama.

"Saya pikir tantangan pertama Garuda yang baru yaitu mengembalikan pamor Garuda yang sempat meredup karena beberapa kasus belakangan ini. Meskipun kasusnya merupakan kasus pribadi, namun ikut menyeret nama besar Garuda," ujar Yusuf kepada SINDOnews di Jakarta, Rabu (22/1/2020).

Untuk meningkatkan pamor dan kepercayaan publik kepada Garuda, kata Yusuf, manajemen Garuda perlu bekerja keras meningkatkan kembali pelayanan kepada publik, seperti tingkat ketepatan waktu, memperbaiki komunikasi publik, hingga memulihkan kepercayaan investor.

Tantangan selanjutnya, sambung dia, adalah semakin ketatnya persaingan di industri penerbangan. Garuda perlu berbenah guna memenangi persaingan di tingkat domestik maupun internasional.

Berikutnya, kata Yusuf, permasalahan harga avtur pastinya akan tetap menjadi tantangan besar dalam operasional Garuda. Seperti diketahui, harga bahan bakar menyumbang 40% dari biaya penerbangan pesawat.

Terakhir, sambung Yusuf, untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, Garuda harus mampu meningkatkan kinerja keuangannya. Untuk itu, kata dia, manajemen perlu menelusuri kembali aliran cash-flow perusahaan.

"Perlu dilihat apakah aliran investing, financing dan juga operating yang sekarang telah menguntungkan perusahaan untuk bersaing," pungkasnya.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak