alexametrics

Tahun Tikus Logam, Investasi Properti Diramal Bakal Melejit

loading...
Tahun Tikus Logam, Investasi Properti Diramal Bakal Melejit
Sektor properti diramal bakal ramai di Tahun Tikus Logam. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Memasuki tahun Tikus Logam dalam kalender China, analis pasar modal Hans Kwee memprediksi dua sektor akan melejit pada tahun tersebut, yaitu properti dan tambang logam. Di tahun Tikus Logam, diyakini unsur tanah paling dominan.

Hans Kwee mengatakan, sektor properti mendapat dukungan dari suku bunga acuan yang turun 100 bsp tahun lalu, dan beberapa pelongaran di kebijakan LTV. Selain itu, kata dia, tahun lalu masih tahun Pemilu di mana orang menahan diri berinvestasi di properti, sedangkan setahun setelah Pemilu orang mulai berpikir untuk berinvestasi.

"Goyangnya investasi di produk asurasi dan reksa dana sedikit banyak juga membuka angin segar bagi investasi properti," ujar Hans Kwee di Jakarta, Jumat (24/1/2020).



Dia melanjutkan, kemungkinan orang mengalihkan investasi pun sangat terbuka. Investor akan berhati-hati dengan penawaran fixed rate industri asuransi akibat khasus Jiwasraya. Meski produk dari beberapa perusahaan asuransi menawarkan fixed rate lumayan tinggi, menurutnya investor tetap akan melakukan penempatan di investasi saham dan pasar modal.

"Investor kami perkirakaan akan memilih investasi yang menjajikan dan perlu waktu untuk memulihkan trauma yang ada," tuturnya.

Mengenai sektor properti, Hans menambahkan, target get top sektor ini akan terjadi di tahun 2023-2025 dengan awal kenaikan dari tahun 2020.

"Selain membeli properti langsung investor juga dapat membeli beberapa saham atau produk turunannya seperti real estate investment trust (REIT) melalui pasar modal.

Dia pun merekomendasikan BSDE (1.550), DUTI (5.820), LPCK (1.450), PWON (625) dan APLN (1.320) sebagai pilihan sektor properti.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak