alexametrics

Airlangga Sebut Industri Kelapa Sawit Tuntaskan Kemiskinan di Indonesia

loading...
Airlangga Sebut Industri Kelapa Sawit Tuntaskan Kemiskinan di Indonesia
Ilustrasi industri kelapa sawit. Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan penjelasan mengenai penanganan komoditas kelapa sawit dan program pemerintah dalam mengatasi deforestasi dalam pertemuan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss.

"Sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar, Indonesia memanfaatkan forum ini untuk memberikan penjelasan yang utuh mengenai penanganan komoditas kelapa sawit serta menyampaikan berbagai program pemerintah untuk mengatasi deforestasi," terang Airlangga dalam keterangan yang diterima SINDOnews di Jakarta, Jumat (24/1/2020).

Dalam pertemuan WEF 2020, Airlangga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk melihat industri sawit secara holistik, termasuk dari aspek lingkungan, ekonomi, kontribusi terhadap pembangunan global--terutama untuk pencapaian SDGs--perspektif bisnis, serta kebijakan yang telah diambil Pemerintah Indonesia.



"Indonesia merupakan produsen minyak sawit utama dunia. Komoditas ini berkontribusi terhadap 3,5% PDB nasional. Dengan memanfaatkan tidak lebih dari 10% (sekitar 6%-7%) dari total global land bank for vegetable oil, Indonesia mampu menghasilkan 40% dari total minyak nabati dunia," ujarnya.

Menurut Airlangga, sektor minyak sawit nasional telah berkontribusi mengentaskan kemiskinan bagi 10 juta orang. "Industri kelapa sawit merupakan sektor strategis bagi perekonomian masyarakat yang perlu dikawal oleh pemerintah," jelasnya.

Airlangga menyampaikan, pemerintah saat ini tengah mengembangkan kebijakan yang mendorong domestic demand dari produk sawit, antara lain melalui pengembangan B30 sebagai salah satu alternatif BBM untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar berbasis fosil.

Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah mengurangi emisi karbon dan mengimplementasikan pembangunan rendah karbon. "Indonesia juga sedang mengembangkan skema kredit karbon guna mendukung upaya pelestarian lingkungan," kata Airlangga.

Sebagaimana diketahui, Indonesia memiliki luas perkebunan kelapa sawit sekitar 14 juta hektar yang dapat menyerap sekitar 2,2 miliar ton karbon dioksida (CO2) dari udara setiap tahun.

Bagi Indonesia, investasi lingkungan, terutama menyangkut reforestasi, tidak harus dibatasi hanya dalam konteks replanting. Namun perlu diperluas hingga mencakup aspek monetization dari emisi karbon yang dapat diserap oleh perkebunan sawit.

Karena itu, Indonesia mengusulkan agar para stakeholders yang hadir bisa ikut memikirkan mekanisme atau skema penerapan carbon credit yang tepat dalam merealisasikan potensi Indonesia sebagai the capital of carbon credit.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak