alexametrics

Cegah WO Bodong, Setiap Jasa Pernikahan Bakal Miliki Sertifikat Resmi

loading...
Cegah WO Bodong, Setiap Jasa Pernikahan Bakal Miliki Sertifikat Resmi
Indonesia Wedding Business Summit 2020 digelar di Ritz Carlton Jakarta. Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Ketua Umum Himpunan Perusahaan Penata Acara Pernikahan (Hastana), Gandi Priapratama, berencana memberikan sertifikat resmi kepada perusahaan wedding organizer (WO). Hal ini demi mencegah maraknya penipuan berkedok WO yang merugikan pasangan pengantin di Depok, yang sedang ramai diperbincangkan.

Pasalnya, pernikahan merupakan acara yang sakral dan resepsi pernikahan yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa justru berantakan gara-gara ulah WO yang tak bertanggung jawab.

"Ya memang belum semuanya wedding orginzer itu resmi karena kan banyak dan susah didata. Tapi kami akan terus mempermudah wedding organizer dengan berencana memberi sertifikat resmi. Sehingga para konsumen tidak tertipu lagi," ujar Gandi di Jakarta, Selasa (11/2/2020).

Dia menerangkan saat ini, baru ada 86 wedding organizer yang terdaftar resmi di Hastana. Dengan pemberian sertifikat resmi akan meningkatkan perusahaan WO sekaligus mencegah adanya WO yang bodong alias hanya menipu.

"Saat ini memang baru ada 85 WO resmi di Hastana. Kami akan tingkatkan dengan pemberian sertifikat resmi. Tapi untuk saat ini, kalau konsumen mau pakai jasa WO bisa lihat di situs dan data kami," ujarnya.

Menurut Gandi, dengan adanya WO bodong ini sempat mengkhawatirkan industri bisnis acara pernikahan. Dan memukul keuntungan mereka. Pasalnya, banyak konsumen yang khawatir dan membatalkan untuk menggunakan wedding organizer.

"Kasus WO bodong sempat menurunkan keuntungan bisnis ini, meski kami belum hitung karena kasusnya baru. Tapi sudah ada yang membatalkan menggunakan WO. Dan kita sudah edukasi kalau menggunakan WO yang resmi, itu aman," katanya.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak