Pendapatan Perusahaan Energi Tertekan Akibat Covid-19
Kamis, 03 September 2020 - 09:12 WIB
loading...
Foto/dok
A
A
A
JAKARTA - Pergerakan harga minyak maupun penurunan permintaan minyak akibat pandemi corona (Covid-19) dinilai memberikan tekanan sangat signifikan terhadap keuangan dan operasional perusahaan energi nasional dan internasional. Khususnya yang memiliki bisnis utama pada minyak dan gas bumi.
Sebagai contoh, pendapatan perusahaan-perusahaan energi sampai dengan kuartal II/2020 ini bernilai negatif. Perusahaan tersebut antara lain Shell (-USD18,1 miliar berbanding dengan USD9 miliar pada periode yang sama 2019), BP (-USD21,9 miliar vs USD4,9 miliar di 2019), Total (-USD8,4 miliar vs USD5,9 miliar di 2019), Chevron (-USD4,6 miliar vs USD6,9 miliar di 2019), dan ENI (-USD8,2 miliar vs USD1,7 miliar di 2019). (Baca: Kepemimpinan KAMI Sudah Final, Struktur Anggota Segera Dibentuk)
"Total penurunan net income dari seluruh perusahaan tersebut mencapai -USD90 miliar," ujar Gubernur Indonesia untuk OPEC (2015–2016) Widhyawan Prawiraatmadja di Jakarta kemarin.
Menurut Widhyawan, hal yang sama dirasakan perusahaan energi di Indonesia, salah satunya Pertamina yang ikut terguncang oleh triple shock yang terjadi pada semester I/2020. Pukulan pertama terjadi pada penurunan konsumsi BBM karena Covid-19.
Kedua, terjadi akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD yang menyebabkan kerugian selisih kurs sebesar USD211 juta pada semester I/2020. Ketiga, penurunan harga minyak dunia karena kondisi pasar yang over-supply. "Cukup masuk akal jika melihat kondisi keuangan yang negatif pada semester satu," ungkapnya. (Baca juga: Pesta Gay di Kuningan Jakarta Digerebek, Puluhan Pria Diamankan Polisi)
Sebagai contoh, pendapatan perusahaan-perusahaan energi sampai dengan kuartal II/2020 ini bernilai negatif. Perusahaan tersebut antara lain Shell (-USD18,1 miliar berbanding dengan USD9 miliar pada periode yang sama 2019), BP (-USD21,9 miliar vs USD4,9 miliar di 2019), Total (-USD8,4 miliar vs USD5,9 miliar di 2019), Chevron (-USD4,6 miliar vs USD6,9 miliar di 2019), dan ENI (-USD8,2 miliar vs USD1,7 miliar di 2019). (Baca: Kepemimpinan KAMI Sudah Final, Struktur Anggota Segera Dibentuk)
"Total penurunan net income dari seluruh perusahaan tersebut mencapai -USD90 miliar," ujar Gubernur Indonesia untuk OPEC (2015–2016) Widhyawan Prawiraatmadja di Jakarta kemarin.
Menurut Widhyawan, hal yang sama dirasakan perusahaan energi di Indonesia, salah satunya Pertamina yang ikut terguncang oleh triple shock yang terjadi pada semester I/2020. Pukulan pertama terjadi pada penurunan konsumsi BBM karena Covid-19.
Kedua, terjadi akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD yang menyebabkan kerugian selisih kurs sebesar USD211 juta pada semester I/2020. Ketiga, penurunan harga minyak dunia karena kondisi pasar yang over-supply. "Cukup masuk akal jika melihat kondisi keuangan yang negatif pada semester satu," ungkapnya. (Baca juga: Pesta Gay di Kuningan Jakarta Digerebek, Puluhan Pria Diamankan Polisi)
Lihat Juga :