alexametrics

Neraca Dagang Januari 2020 Diprediksi Ekonom Cetak Surplus

loading...
Neraca Dagang Januari 2020 Diprediksi Ekonom Cetak Surplus
Neraca perdagangan pada Januari 2020 diperkirakan ekonom bakal mencetak surplus, saat laju bulanan impor yang terkontraksi lebih besar dibandingkan ekspor. Foto/Dok
A+ A-
JAKARTA - Neraca perdagangan pada bulan Januari 2020 diperkirakan oleh ekonom Bank Permata Josua Pardede, bakal mencetak surplus USD67juta. Adapun surplus kecil neraca perdagangan bulan Januari dipengaruhi oleh ekspektasi laju bulanan impor yang terkontraksi lebih besar dibandingkan laju ekspor.

"Kinerja ekspor bulan Januari 2020 diperkirakan terkontraksi -4,4%month of mont (mom) atau melambat -0,7%year on year (yoy) yang didorong oleh penurunan dari sisi harga maupun volume secara bersamaan," ujar Josua saat dihubungi SINDOnews di Jakarta.

Sambung dia menerangkan, perlambatan laju ekspor didorong oleh kontraksi harga komoditas, di mana CPO mengalami penurunan harga sebesar -11,54%mtm, karet juga mengalami penurunan harga sebesar -4,89%mtm. Sementara harga batu bara hanya naik tipis 1,18% mtm.



"Selain kenaikan harga komoditas, volume eskpor pun diperkirakan menurun seiring adanya penurunan PMI dari 2 mitra dagang utama Indonesia yakni AS dan Tiongkok, sementara negara/kawasan lainnya seperti Jepang, India, dan Eropa mengalami kenaikan PMI," katanya.

Sementara itu, laju impor diperkirakan terkontraksi -5,1%mtm atau turun -8,2%yoy. Hal ini akibat dari adanya penurunan harga minyak sebesar 15,56%mtm, yang akan mendorong penurunan impor migas secara bulanan.

"Penurunan impor juga akan didorong oleh kontraksi impor non-migas akibat industri manufaktur Indonesia masih dalam kondisi terkontraksi. Selain itu, masih rendahnya impor bahan baku dan barang modal juga dipengaruhi faktor siklus awal tahun dimana aktivitas pabrik atau industri dalam negeri belum maksimal," jelasnya.

Selain faktor siklus tersebut, mempertimbangkan penyebaran virus corona yang bersamaan dengan perayaan Chinese New Year di China diperkirakakan akan mengurangi volume perdagangan. "Terkait dengan isu virus Corona, permintaan impor bahan baku dari Tiongkok belum meningkat tajam di awal tahun dan mengingat inventory atau supply bahan baku masih cukup untuk memenuhi permintaan produksi industri, maka dampak dari virus corona belum cukup signifikan," papar Josua.

Namun demikian, dampaknya akan lebih signifikan mempengaruhi sekitar bulan Februari dan Maret dan akan berpengaruh besar terhadap defisit transaksi berjalan pada kuartal I tahun 2020.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak