alexametrics

Neraca Dagang Kembali Defisit, Saatnya Dongkrak Ekspor di Luar China

loading...
Neraca Dagang Kembali Defisit, Saatnya Dongkrak Ekspor di Luar China
Defisit neraca dagang pada Januari 2020 disebabkan nilai ekspor yang lebih rendah dibanding impor, karena itu ekonom menerangkan sudah seharusnya membuka pasar ekspor baru di luar China. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Defisit neraca dagang pada Januari 2020 disebabkan nilai ekspor yang mencapai USD13,41 miliar atau jauh lebih rendah dibanding dengan nilai impor sebesar USD14,28 miliar. Lebih detail lagi ekspor nonmigas anjlok 5,33% menjadi USD12,61 miliar terhadap Desember 2019 atau turun 0,69% terhadap Januari 2019.

Ekonom BNI Ryan Kiryanto mengatakan, penurunan terbesar terjadi pada ekspor nonmigas pada komoditas lemak dan minyak hewani/ nabati sebesar 34,08% mtm atau USD703,2 juta. Menurutnya sangat mendesak bagi pemerintah agar membuka pasar ekspor baru di luar China yang tengah berkutat menghadapi wabah virus corona.

"Apapun penyebab turunnya nilai ekspor yang berdampak pada tingginya defisit neraca dagang, ke depannya tetap harus diupayakan untuk mendongkrak ekspor terutama ke negara-negara tradisional di luar China yang sedang suspect coronavirus," ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Senin (17/2/2020).



Selain itu sambung Ryan, penerapan skema CEPA juga harus diperkuat untuk membuka pasar baru. "Paralel dengan itu, upaya mencari substitusi impor seperti program B30 dan seterusnya harus dijalankan dengan serius supaya defisit bisa ditekan, bahkan menciptakan surplus di bulan-bulan mendatang," katanya.

Sebagai informasi berdasarkan sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari 2020 naik 3,16% dibanding bulan yang sama tahun 2019, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 4,54%. Sementara ekspor hasil tambang dan lainnya turun 19,15%.

Ekspor nonmigas Januari 2020 terbesar adalah ke China yaitu USD2,10 miliar, disusul Amerika Serikat USD1,62 miliar dan Jepang USD1,12 miliar dengan kontribusi ketiganya mencapai 38,41%. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar USD1,18 miliar.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak