alexametrics

Rupiah Perkasa Bikin BI Pede Turunkan Suku Bunga Acuan Lagi

loading...
Rupiah Perkasa Bikin BI Pede Turunkan Suku Bunga Acuan Lagi
Keputusan BI untuk kembali menurunkan suku bunga acuan alias BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) yang kali ini sebanyak 25 bps menjadi 4,75% dinilai karena kurs rupiah terus melaju. Foto/Dok
A+ A-
JAKARTA - Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk kembali menurunkan suku bunga acuan alias BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) yang kali ini sebanyak 25 basis points (bps) menjadi 4,75% dinilai karena kurs rupiah melaju pada tren perbaikan. Ekonom Core Piter Abdullah menerangkan, kebijakan suku bunga rendah menjadi sinyal BI cukup percaya diri (pede) dengan kurs rupiah yang perkasa.

"Keputusan BI menurunkan suku bunga mengindikasikan BI cukup pede dengan nilai tukar rupiah. BI yakin tekanan terhadap rupiah tidak akan besar, walaupun suku bunga acuan diturunkan," ujar Piter saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Kamis (20/2/2020).

Lebih lanjut Ia menerangkan, keputusan BI dalam menurunkan suku bunga juga dikarenakan dampak negatif wabah corona terhadap pertumbuhan. Tetapi mengenai proyeksi pertumbuhan sendiri perlu direvisi atau tidak akan sangat bergantung kepada response kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah dan BI.



"Sektor-sektor yang terdampak wabah corona cukup luas yang jelas adalah sektor pariwisata dan turunannya seperti transportasi, hotel hingga restoran. Lalu juga usaha atau industri oleh-oleh serta kerajinan," paparnya.

Sambung dia menambahkan, wabah virus corona juga berdampak kepada sektor manufaktur karena produksi terhambat setelah pasokan barang bahan baku dari China terganggu. Demikian juga barang komoditas yang permintaan ya di pasar global menurun dan menyebabkan harga jatuh.

Sambung Piter mengutarakan, ekspor nasional juga menurun dengan dampak lebih lanjut adalah income masyarakat akan turun demikian juga dengan konsumsi. Sementara investasi asing berpotensu terhenti akibat corona. Jadi bisa dibayangkan besarnya dampak negatif virus corona terhadap konsumsi dan produksi, investasi hingga aliran modal asing. "Untuk mengantisipasi perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut, BI saya kira mencoba melonggarkan likuiditas," jelasnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak