alexametrics

Avtur Satu Harga, Pengamat: Apa Pantas Orang Kaya Disubsidi

loading...
Avtur Satu Harga, Pengamat: Apa Pantas Orang Kaya Disubsidi
Wacana penerapan kebijakan avtur satu harga, menurut Pengamat Ekonomi Drajad Wibowo bisa saja dilakukan. Namun pemerintah mau menanggung selisih harga. Foto/Dok
A+ A-
JAKARTA - Wacana penerapan kebijakan avtur satu harga, menurut Pengamat Ekonomi Drajad Wibowo bisa saja dilakukan. Namun ada syaratnya, dimana pemerintah harus konsekuen menanggung selisih harga dan biaya.

“Apakah pemerintah mau menanggung selisih harga Jawa dengan luar Jawa? Jangan Pertamina yang dipaksa menanggungnya," katanya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (20/2/2020).

Namun menyatakan, jika avtur satu harga diberlakukan, berarti pemerintah memberi subsidi kepada maskapai penerbangan yang pemiliknya orang-orang kaya. “Apakah mereka pantas ikut mendapatkan subsidi,?" katanya.



Terkait hal itu Drajad mempertanyakan wacana avtur satu harga, dimana seluruh harga avtur di seluruh bandara di Indonesia seragam. Karena jika dipaksa menjual avtur satu harga mengikuti harga di Jawa, berarti Pertamina dipaksa menjual avtur tanpa untung atau merugi di luar Jawa.

Sambung Drajad Wibowo menilai wajar saat ini harga avtur berbeda di berbagai wilayah di Tanah Air, karena hal itu merupakan konsekuensi Indonesia sebagai negara kepulauan. "Biaya distribusi menjadi sangat tinggi. Jarak kilang dengan end users bukan belasan kilometer, tapi ratusan bahkan bisa ribuan kilometer. Bahkan, seandainya negara mampu membangun pipa sepanjang itu, biaya distribusi tetap sangat mahal. Jadi itu memang konsekuensi negara kepulauan,” katanya.

Di sisi lain Ia mempertanyakan, Indonesia National Air Carriers Association (INACA) yang selalu menuding pihak lain terkait mahalnya harga tiket, dalam hal ini, selalu avtur yang disalahkan. Padahal banyak sumber inefisiensi di internal maskapai.

Dalam hal ini lanjutnya, poin yang ingin ditekankan adalah, bahwa mahalnya tiket pesawat tidak terlepas dari inefisiensi internal maskapai penerbangan Indonesia. Selain itu, tentu saja karena Indonesia sebagai negara kepulauan.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak