Siasat Krakatau Steel Hadapi Proteksionisme dan Dumping dalam Perdagangan Baja Global
Sabtu, 22 Februari 2025 - 19:40 WIB
loading...
A
A
A
Di sisi lain, Jepang mengajukan permohonan kepada AS agar dibebaskan dari tarif baja dan aluminium yang diberlakukan sejak era pemerintahan Donald Trump. Langkah ini menegaskan bahwa kebijakan proteksionisme AS memiliki dampak luas terhadap perdagangan baja global.
Proteksionisme merupakan isu terpenting dalam kesepakatan global tentang perdagangan bebas, sehingga praktik proteksionisme melawan gagasan perdagangan bebas yang memberikan kemanfaatan bagi semua pihak (negara). Amerika Serikat menerapkan kebijakan perdagangan yang bersifat proteksionisme untuk melindungi industri dalam negerinya (Watson, James: 2013).
Kebijakan politik perdagangan internasional Trump yang proteksionistik tidak main-main dampaknya berupa tarif masuk yang tinggi, hilangnya pendapatan, dan berkurangnya kesempatan kerja (IMF, 1978).
Proteksionisme terhadap industri baja dalam negeri AS ditransformasikan ke dalam harga kendaraan yang lebih tinggi (IMF, 1978: 53). Krisis finansial atau defisit penerimaan AS akibat pembiayaan perang pun menjadi alasan penerapan kebijakan proteksionistik tersebut (Hobe, Griebel, 2010: 426).
Baca Juga: Krakatau Steel Catatkan Rekor Penjualan Pipa Baja Tertinggi Sepanjang Sejarah
China pun muncul sebagai kekuatan di bidang perekonomian global, menyaingi eksistensi dan dominasi AS. Kekuatan China tersebut “memaksa” AS untuk melakukan dialog tingkat tinggi dengan China untuk Kemitraan Trans-Pasifik (Trans-Pacific Partnership) dan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Transatlantik (Trans-Atlantic Trade and Investment Partnership) (Nwoke, 2019).
AS menerapkan taktik SunTzu mendekatkan diri pada musuh yang sulit dikalahkan melalui dialog tersebut. Indonesia pun dapat memanfaatkan kemitraan tersebut untuk menjaga kepentingan industri baja dalam negeri, sekaligus mengupayakan penetrasi pasar AS.
Proteksionisme merupakan isu terpenting dalam kesepakatan global tentang perdagangan bebas, sehingga praktik proteksionisme melawan gagasan perdagangan bebas yang memberikan kemanfaatan bagi semua pihak (negara). Amerika Serikat menerapkan kebijakan perdagangan yang bersifat proteksionisme untuk melindungi industri dalam negerinya (Watson, James: 2013).
Kebijakan politik perdagangan internasional Trump yang proteksionistik tidak main-main dampaknya berupa tarif masuk yang tinggi, hilangnya pendapatan, dan berkurangnya kesempatan kerja (IMF, 1978).
Proteksionisme terhadap industri baja dalam negeri AS ditransformasikan ke dalam harga kendaraan yang lebih tinggi (IMF, 1978: 53). Krisis finansial atau defisit penerimaan AS akibat pembiayaan perang pun menjadi alasan penerapan kebijakan proteksionistik tersebut (Hobe, Griebel, 2010: 426).
Baca Juga: Krakatau Steel Catatkan Rekor Penjualan Pipa Baja Tertinggi Sepanjang Sejarah
China pun muncul sebagai kekuatan di bidang perekonomian global, menyaingi eksistensi dan dominasi AS. Kekuatan China tersebut “memaksa” AS untuk melakukan dialog tingkat tinggi dengan China untuk Kemitraan Trans-Pasifik (Trans-Pacific Partnership) dan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Transatlantik (Trans-Atlantic Trade and Investment Partnership) (Nwoke, 2019).
AS menerapkan taktik SunTzu mendekatkan diri pada musuh yang sulit dikalahkan melalui dialog tersebut. Indonesia pun dapat memanfaatkan kemitraan tersebut untuk menjaga kepentingan industri baja dalam negeri, sekaligus mengupayakan penetrasi pasar AS.
(akr)
Lihat Juga :