alexametrics

Tahun 2019, Pendapatan PLN Disjaya Capai Rp43,12 Triliun

loading...
Tahun 2019, Pendapatan PLN Disjaya Capai Rp43,12 Triliun
PLN UID Jakarta Raya (PLN Disjaya) pada tahun 2019 mencetak pendapatan Rp43,12 triliun. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya (PLN Disjaya) pada 2019 berhasil mencatatkan pendapatan sebesar 4,28% atau mencapai Rp43,12 triliun. Capaian itu lebih tinggi dibandingkan tahun 2018 yang sebesar Rp41,35 triliun.

"Pada 2019 lalu capaiannya luar biasa. Kita harapkan tahun ini investasi lebih menggeliat lagi. Tahun ini kami menargetkan pendapatan meningkat 5-6%," ujar General Manager PLN UID Jakarta Raya Muhammad Ikhsan Asaad, di Jakarta, Minggu (23/2/2020).

Menurut dia naiknya pendapatan PLN tersebut Disjaya ditopang dari meningkatkan penjualan listrik. Adapun penjualan listrik PLN Disjaya sepanjang tahun lalu meningkat sebesar 4,05% dibandingkan tahun 2018. Adapun realisasi penjualan listrik PLN Disjaya pada 2019 mencapai 34,1 terra watt hour (TWh) lebih tinggi dibandingkan tahun 2018 mencapai 32,78 TWh.



"Penjualan mayoritas bersumber dari pelanggan rumah tangga yang mencapai 14 TWh kemudian diikuti pelanggan bisnis sebesar 12,3 TWh dan pelanggan industri sebanyak 4,3 TWh," terangnya.

Dia mengatakan bahwa konsumsi listrik pelanggan industri di Jakarta memang lebih rendah dibandingkan pelanggan rumah tangga. Hal itu lantaran para pelaku industri mulai banyak meninggalkan Jakarta seiring dengan regulasi zonasi pemerintah daerah.

"Melalui regulasi itu Jakarta akan menjadi kota bisnis. Untuk porsi pelanggan bisnis PLN Disjaya sendiri saat ini mencapai 20% sementara porsi pelanggan rumah tangga sebesar 70%," kata dia.

Pihaknya optimistis target pendapatan tahun ini dapat tercapai. Adapun pendapatan akan diperoleh dari penambahan pelanggan rumah tangga di daerah perbatasan seperti Pondok Gede dan Ciputat. Tidak hanya itu, target pendapatan juga diperoleh dari pertumbuhan penggunaan listrik gedung-gedung perkantoran maupun kawasan bisnis baru.

Bahkan ketika proses konstruksi kawasan bisnis dan perkantoran pun PLN sudah mendistribusikan pasokan listrik melalui powerbank. Dengan begitu, kebutuhan listrik selama konstruksi tak lagi menggunakan genset.

Dia mengungkapkan power bank lebih ramah lingkungan dan efisien serta dikenakan tarif layanan khusus sebesar Rp1.644/kWh. Sejumlah industri yang menggunakan genset pada saat beban puncak mulai beralih memakai power bank. "Power bank juga banyak disewakan untuk penyelenggaraan konser musik. Ini strategi kami dalam rangka meningkatkan penjualan listrik," kata dia.

Strategi lainnya, kata dia, PLN Disjaya juga memberikan tarif diskon listrik bagi pelanggan industri. Bagi pelanggan industri dengan daya diatas 200 kilo volt ampere (kVA) diberi potongan tarif bila beroperasi dari pukul 22.00-08.00.

Program diskon tersebut telah bergulir sejak Desember 2019 dan berlaku hingga akhir Februari tahun ini. Namun tarif diskon tersebut, kata Ikhsan, berpotensi diperpanjang kembali. "Saat ini, sebanyak 137 pelanggan industri yang sudah menikmati diskon tarif. Terutama industri padat karya," kata dia.

Dikatakannya PLN Disjaya pun siap menyongsong era kendaraan listrik. Sejumlah stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) telah terpasang di sejumlah titik. Namun hingga kini belum ada regulasi yang menetapkan tarif pengisian daya tersebut. Ikhsan mengungkapkan pihaknya berencana melakukan survei ke masyarkat terkait besaran tarif ideal pengisian daya kendaraan listrik. "Tentunya tarifnya lebih murah daripada mengisi BBM di kendaraan konvensional," kata dia.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak