alexametrics

Rupiah Melemah Mendekati Rp14.000, BI Segera Berikan Obat Kuat

loading...
Rupiah Melemah Mendekati Rp14.000, BI Segera Berikan Obat Kuat
Bank Indonesia siap melakukan aksi pasar demi stabilitas rupiah. Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Data pasar spot pada sesi perdagangan I, Kamis (27/2/2020), rupiah terpuruk 45 poin atau 0,32% ke level Rp13.985 per USD. Melihat lemahnya rupiah, Bank Indonesia (BI) siap melakukan intervensi demi menjaga stabilitas mata uang kecintaan kita.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Nanang Hendarsah, mengatakan bank sentral akan memberikan obat kuat pada rupiah agar tidak terus melemah. Salah satunya dengan melakukan aksi pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dengan tegas.

"BI konsisten berada di pasar untuk menjaga pelemahan rupiah agar tidak terlalu tajam. Untuk mencegah pelepasan SBN asing yang dapat mengarah pada aksi lepas yang besar-besaran (large sell off) dan menganggu stabilitas pasar keuangan, BI siap melakukan aksi pembelian SBN dengan tegas," ujar Nanang saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Kamis (27/2/2020).



Nanang menjelaskan pada Kamis ini, seluruh mata uang Asia melemah termasuk rupiah. Disebabkan kekhawatiran dampak ekonomi dari meluasnya wabah Covid-19 ke berbagai negara, terutama di Eropa, yang memicu aksi Flight to Quality dari emerging market asset ke safe haven instrument, terutama obligasi pemerintah AS atau US Treasury Bond.

"Oleh kerenanya, yield US Treasury bond turun ke 1,30%, level terendah sepanjang masa karena investor mengalihkan dana ke US bond, dan melepas aset yang dipandang berisiko," katanya.

Dia pun mengimbau pelaku pasar terutama traders di treasury perbankan untuk terus memperkuat koordinasi dan kemunikasi dengan otoritas. "Hal ini sebagai bentuk integritas dan stabiligas pasar keuangan terjaga kondusif," ungkapnya.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak