alexametrics

Utang Garuda Indonesia Rp6,8 Triliun Akan Jatuh Tempo, Ini Kata Dirut Irfan

loading...
Utang Garuda Indonesia Rp6,8 Triliun Akan Jatuh Tempo, Ini Kata Dirut Irfan
Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengomentari utang perseroan yang akan jatuh tempo pada Mei 2020, dengan nilai sekitar RpUSD500 juta atau setara Rp6,8 triliun. Foto/Dok
A+ A-
JAKARTA - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menegaskan komitmen untuk membayar utang perseroan yang akan jatuh tempo pada Mei 2020, dengan nilai sekitar RpUSD500 juta atau setara Rp6,8 triliun (kurs Rp13.632 per USD). Sebelumnya disebutkan Menteri BUMN Erick Thohir bahwa kondisi maskapai pelat merah itu tengah dalam tekanan luar biasa ketika utangnya sudah mendekati jatuh tempo.

"Tapi begini kita tetap optimistis, lagi diskusi dengan banyak pihak, melakukan bridging dan didukung juga oleh temen-teman dari Kementerian, soal utang ini," ujar Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia Irfan Setiaputra di Jakarta, Kamis (27/2/2020).

(Baca Juga: Gawat, Menteri Erick Sebut Utang Garuda Indonesia Mau Jatuh Tempo)



Lebih lanjut Irfan menerangkan, bakal melakukan restrukturisasi utang dengan keyakinan membuat keuangan perseroan membaik. "Restructure lah, kita semua orang punya credential, capability, untuk melakukan ini. Saya punya keyakinan Pak Fuad, Direktur Keuangan kami, punya kemampuan yang sangat menakjubkan dalam mengelola itu. Yang penting, Anda lihat masih terbang engga? Kalau terbang berarti persoalan utang berarti diselesaikan dalam ruangan tutup," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Komisaris Utama Garuda Indonesia Yenny Wahid mengatakan, pihaknya akan mencari pendanaan agar bisa membayar utang perseroan. "Yang akan jatuh tempo biar direksi yang umumkan, kalau soal utang-utang," ungkapnya.

"Terpenting komisaris itu memberikan guideline, batasan-batasan, kalau mau melakukan, tentu harus melakukan, serta memastikan, cashflow pasti akan terhambat kalau semua untuk bayar utang. Jadi harus ada sumber pendanaan baru untuk membayar utang, tanpa harus menerbitkan utang baru," jelas Yenny Wahid.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak