alexametrics

Terbongkar Banyak Kasus Serupa dengan Jiwasraya

loading...
Terbongkar Banyak Kasus Serupa dengan Jiwasraya
Dewan Asuransi Indonesia (DAI) menyebut, permasalahan asuransi yang muncul ke publik hanyalah kasus Jiwasraya, Bumiputera. Namun sesungguhnya banyak perusahaan asuransi mengalami hal yang sama. Foto/Michelle Natalia
A+ A-
JAKARTA - Dewan Asuransi Indonesia (DAI) membongkar, bahwa banyak kasus serupa telah terjadi seperti yang sedang dialami PT Asuransi Jiwasraya. Diterangkan mulai dari kategori sistemik seperti kasus gagal bayar Jiwasraya, Bumiputera, Bakrie Life, hingga yang bersifat non sistemik seperti kelalaian atau salah kelola banyak juga dialami oleh beberapa perusahaan asuransi dalam pembayaran klaim.

Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia (DAI) Dadang Sukresna menyebut, bahwa permasalahan asuransi yang muncul ke publik hanyalah kasus Jiwasraya, Bumiputera, dan Bakrie Life. Namun sesungguhnya banyak perusahaan asuransi mengalami hal yang sama walau dengan skala dan dampak yang masih bisa dikendalikan sehingga tidak menjadi kasus besar.

"Pada kebanyakan kasus gagal bayar klaim asuransi ini, ada banyak faktor yang menyebabkan. Namun yang perlu menjadi perhatian bersama saat ini adalah tentang kegagalan dalam penciptaan produk asuransi dan kegagalan dalam pengelolaan investasi," ujar Dadang dalam Sarasehan Industri Asuransi di Grand Ballroom Hotel JS Luwansa Jakarta, Kamis (27/2/2020).



Sambung dia menerangkan, bahwa hal tersebut bermula dari lemahnya penerapan Risk Governance and Compliance. Masalah-masalah tersebut menurutnya lama kelamaan akan menggerus kepercayaan yang pada akhirnya berakumulasi menjadi krisis kepercayaan kepada industri asuransi nasional.

"Industri asuransi yang pada dasarnya sebagai industri yang mengandalkan kepercayaan (trust), seringkali terjebak dengan tuntutan-tuntutan jangka pendek sehingga pada akhirnya memunculkan praktek-praktek windows dressing serta menciptakan produk-produk yang cepat laku dan atraktif," ungkap Dadang.

Lebih lanjut ungkapnya, tindakan ini dilakukan dengan kalkulasi aktuaria yang tidak tepat serta memilih instrumen investasi yang high risk walau memberikan high return. Hingga pada akhirnya membuat laporan keuangan dalam hal perhitungan cadangan teknik atau pencatatan nilai investasi yang tidak sesungguhnya.

"Dalam penciptaan produk, sangat penting perhitungan aktuaria dimana termasuk didalamnya perhitungan cadangan teknik asuransi, dan tidak kalah penting adalah instrumen investasi yang berpotensi menyebabkan banyak kasus di perusahaan asuransi," jelasnya.

Dengan gelaran Sarasehan ini, Dadang berharap agar para pelaku industri melakukan introspeksi dan melakukan perbaikan tata kelola dan kepatuhan. "Saya juga berharap kepada para pelaku industri asuransi nasional untuk mengurangi praktik windows dressing dan mengurangi bisnis jangka pendek," ucapnya.

Kemudian, ia juga menyarankan untuk mengaktifkan fungsi dewan komisaris dengan komisaris independen sebagai pengawas perusahaan dan dilengkapi direksi dengan direktur kepatuhan untuk memperkuat fungsi pengawasan. "Dalam industri ini, kita harus menciptakan persaingan yang sehat dengan fokus kepada aspek jasa pelayanan dengan cepat, tepat dan efisien," tutup Dadang.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak