alexametrics

Tugas Berat Pertamina, Produksi 800 Ribu Barel Sedang Konsumsi 1,6 Juta Barel

loading...
Tugas Berat Pertamina, Produksi 800 Ribu Barel Sedang Konsumsi 1,6 Juta Barel
Direktur Eksekutif Reforminer Institue, Komaidi Notonegoro saat berbicara di acara Nongkrong Bareng Pertamina bersama awak media Jateng di Semarang, Kamis (27/2/2020). Foto: SINDOnews/Ahmad Antoni
A+ A-
SEMARANG - Direktur Eksekutif Reforminer Institue, Komaidi Notonegoro menyatakan, PT Pertamina (Persero) sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memegang peranan yang cukup besar dalam keberlangsungan energi di Indonesia mulai dari sektor hulu hingga hilir.

“Bisnis Energi Pertamina yang cukup besar pengaruhnya terutama bagi Indonesia ada di bidang hilir. Sebagai latar belakang, saat ini kondisi produksi dan konsumsi migas di Asia Pasifik berbanding cukup jauh. Produksi migas di Asia Pasifik saat ini mengambil porsi hanya 30% sedangkan konsumsinya 60%,” ungkap Komaidi saat berbicara di acara Nongkrong Bareng Pertamina” bersama awak media Jateng di Semarang, Kamis (27/2/2020).

Hal tersebut saat ini juga terjadi di Indonesia. Dia menyebutkan, saat ini produksi minyak di Indonesia hanya berkisar di angka 800 ribu barel sedangkan konsumsi berada di angka 1,6 juta barel. “Sehingga, pemenuhan kebutuhan minyak di Indonesia saat ini adalah melalui impor," ujarnya.



Karena kondisi tersebut lanjut dia, sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Pertamina memiliki tugas yang cukup berat dalam pemenuhan energi di Indonesia. Rumit dan panjangnya rantai birokrasi di Indonesia membuat Pertamina sulit dalam mengambil langkah-langkah strategis dalam kemandirian energi bangsa Indonesia.

“Sebenarnya hal tersebut bisa diantisipasi jika seluruh pemangku kebijakan telah memahami permasalahan-permasalahan yang ada dan bersama-sama mencari jalan keluar,” jelasnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak