alexametrics

Bermitra dengan BUMDes, Pertamina Siap Bangun SPBU Mini di 3.827 Kecamatan

loading...
Bermitra dengan BUMDes, Pertamina Siap Bangun SPBU Mini di 3.827 Kecamatan
PT Pertamina (Persero) tahun ini akan membangun lembaga penyalur bahan bakar minyak (BBM) berskala kecil atau Pertashop di 3.827 kecamatan. Foto/Istimewa
A+ A-
NUSA DUA - PT Pertamina (Persero) tahun ini akan membangun lembaga penyalur bahan bakar minyak (BBM) berskala kecil atau Pertashop di 3.827 kecamatan melalui kerja sama kemitraan dengan pemerintah desa atau Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Berdasarkan data Pertamina, terdapat 3.827 kecamatan yang belum memiliki lembaga penyalur besar (stasiun pengisian bahan bakar umum/SPBU) dari total keseluruhan mencapai 7.196 kecamatan.

“Kalau kita bangun SPBU demand-nya belum sebesar investasi. Untuk itu, kami membuat investasi yang rasional dengan membangun kemitraan dengan pemerintah desa,” ujar Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Mas’ud Khamid di acara Kick-Off Pertashop Pertamina di Nusa Dua, Bali, kemarin.

Menurut dia, kemitraan membangun Pertashop dengan pemerintah desa tersebut terjalin berkat kerja sama antara Pertamina dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Sesuai Undang-Undang Nomor 30/2007 tentang Energi, Pertamina wajib menjamin ketersediaan energi di seluruh pelosok Nusantara. Sebab itu, Pertashop merupakan solusi membangun lembaga penyalur kecil di seluruh desa di Indonesia.



“Mekanismenya, Pertamina yang investasi membangun Pertashop, kemudian pemerintah desa yang menjalankan atau pemerintah desa melalui BUMDes yang investasi sekaligus menjadi pengelola dengan keuntungan menarik,” kata dia.

Dia melanjutkan, apabila investasi ditanggung desa keuntungan bersih per bulan yang diperoleh sekitar Rp3–7,5 juta untuk Gold, Rp4,75–12,5 juta untuk Platinum, dan Rp14–28 juta untuk Diamond. Sementara jika investasi oleh Pertamina, perolehan keuntungan per bulannya sekitar Rp2,5–5,3 juta untuk Gold, Rp4–8,5 juta untuk Platinum, dan Rp10,7–19 juta untuk Diamond.

Pertashop memiliki tiga jenis kategori, yakni Gold, Platinum, dan Diamond. Pertashop jenis Gold berkapasitas penyaluran 400 liter per hari dengan luasan lahan yang dibutuhkan sekitar 144 meter persegi. Lokasi dari desa ke SPBU, lebih dari 10 kilometer atau sesuai dengan hasil evaluasi. Investasi Pertashop Gold mencapai sekitar Rp300 juta.

Adapun jenis Platinum, berkapasitas penyaluran 1.000 liter per hari, memiliki tangki penyimpanan 10 kl luas lahan 200 meter persegi, dan lokasinya di kecamatan yang belum terdapat SPBU. Investasi yang dibutuhkan sekitar Rp500 juta.

Sementara jenis Diamond berkapasitas penyaluran 3.000 liter per hari, memiliki tangki timbun 10 kl luas lahan 500 meter persegi, dan berlokasi di kecamatan yang belum terdapat SPBU. Pertashop jenis ini diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp700 juta.

Mas'ud menjamin, investasi membangun Pertashop tidak memberatkan pemerintah desa. Kebutuhan investasinya sekitar Rp300–800 juta bergantung besaran kapasitas dan luas Pertashop. Di samping itu, Pertamina juga membuka peluang kerja sama dengan perorangan ataupun UKM.

“Tapi utamanya kami menawarkan kepada pemerintah desa terlebih dahulu. Kalau tidak mau bisa UKM ataupun perorangan,” kata dia.

Dia menjelaskan, SPBU mini tersebut akan menyalurkan BBM dengan kualitas oktan atau RON 92 setara pertamax. Terkait harganya, kata dia, sama dengan yang dipasarkan di SPBU besar.

“Itu sesuai dengan kesepakatan global bahwa kita ke depan harus mendistribusikan BBM yang sehat dengan menjual RON 92,” kata dia.

Tidak hanya itu, pembangunan Pertashop juga sesuai dengan standar keselamatan seperti membangun SPBU besar. Pembangunan Pertashop melibatkan sinergi dengan PT Len Industri (Persero), PT Pindad (Persero), serta PT Barata Indonesia (Persero).

Len Industri berperan dalam penyediaan dan fabrikasi sarana dan prasarana Pertashop sesuai dengan standar dan spesifikasi yang ditetapkan Pertamina. “Keselamatan menjadi perhatian utama kami karena menyangkut bahan bakar. Untuk harganya, kami pastikan sama dengan SPBU Pertamina dan takaran BBM dijamin akurat,” kata dia.

Dia berharap kehadiran SPBU mini tersebut mampu menjadi penggerak ekonomi di perdesaan. Selain Pertashop, kata dia, pemerintah desa dapat mengembangkan toko retail supaya lebih menarik dengan menjual makanan ataupun kerajinan khas lokal.

“Jadi, ujungnya di desa akan terjadi pergerakan ekonomi. Semua pihak akan mendapatkan manfaat baik Pertamina maupun Kemendagri di masing-masing daerah lokasi,” kata dia.

Direktur Jenderal Bina Pemerintahan Desa Kemendagri Nata Irawan mengatakan, pembangunan Pertashop dapat menggunakan dana desa yang digelontorkan APBN mencapai Rp1 miliar per tahun. Dia optimistis jika dikelola dengan baik, SPBU mini tersebut mampu menggerakkan ekonomi desa.

Konversi Pembangkit ke Gas PLN Hemat Rp3,3 T

Sementara itu, PT PLN (Persero) berpotensi menghemat sebesar Rp3,3 triliun pertahun dari mengonversi pembangkit listrik berbasis bahan bakar minyak ke gas. Upaya tersebut telah diwujudkan dengan penandatanganan head of agreement(HoA) antara PLN dengan PT Pertamina (Persero). Penandatanganan tersebut dilakukan oleh Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini dengan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, disaksikan oleh Menteri ESDM Arifin Tasrif di Kantor Kementerian ESDM.

Menurut Arifin, kerjasama ini merupakan tindak lanjut dari Keputusan Menteri ESDM Nomor 13K/13/MEM/2020 tentang Penugasan Pelaksanaan Penyediaan Pasokan dan Pembangunan Infrastruktur (liquefiednatural gas/LNG) serta Konversi Penggunaan BBM dengan LNG dalam Penyediaan Tenaga Listrik. PLN dan Pertamina melaksanakan komitmen penyediaan pasokan dan pembangunan infrastruktur untuk pembangkit tenaga listrik milik PLN.

“Kerja sama yang dilakukan PLN ini merupakan langkah konkret mendorong penggunaan gas untuk pembangkit listrik di Indonesia. Selain itu, upaya ini dilakukan dalam rangka mendukung gasifikasi yang sedang dilakukan oleh PLN,” katanya.

Sementara itu, Zulkifli Zaini menyambut baik sinergi yang terjalin. Dari hasil identifikasi yang dilakukan PLN, pemenuhan kebutuhan gas untuk pembangkit listrik, khususnya yang dilakukan gasifikasi, memiliki potensi penghematan yang cukup besar, terutama diperoleh dengan mengurangi penggunaan BBM dari 2,6 juta kilo liter (kl) menjadi 1,6 juta kl.

Bagi PLN, perjanjian ini akan mengurangi pengeluaran, dari Rp16 triliun untuk BBM menjadi sekitar Rp12 triliun pertahun untuk gas,” ujar Zulkifli.

Selain gasifikasi, kebutuhan gas PLN juga meningkat dengan akan beroperasinya beberapa pembangkit baru seperti Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Tanjung Selor berkapasitas 15 megawatt (MW), PLTMG Krueng Raya berkapasitas 50 MW, PLTMG Nias berkapasitas 25 MW, PLTG Gilimanuk berkapasitas 130 MW, PLTMG Sorong berkapasitas 50MW, dan PLTMG Jayapura berkapasitas 50 MW. (Nanang Wijayanto)
(ysw)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak