alexametrics

Breakthrough

Ini Pekerjaan yang Bakal Lenyap Dalam 10 Tahun ke Depan?

loading...
Ini Pekerjaan yang Bakal Lenyap Dalam 10 Tahun ke Depan?
Survei McKinsey (2017) menunjukkan sampai dengan 10 tahun ke depan sekitar 800 juta pekerjaan akan hilang oleh dampak otomasi yang digerakkan oleh artificial intelligence (AI). Foto/Istimewa
A+ A-
JAKARTA - Survei McKinsey (2017) menunjukkan sampai dengan 10 tahun ke depan sekitar 800 juta pekerjaan akan hilang oleh dampak otomasi yang digerakkan oleh artificial intelligence (AI).

Sementara studi yang dilakukan MIT-IBM's Watson AI Lab menyimpulkan bahwa revolusi otomasi AI tak serta-merta berarti robot menggantikan pekerja manusia, tapi pekerjaannya yang berubah karena adanya campur tangan algoritma AI.

Minggu lalu saya sudah menampilkan 10 pekerjaan yang akan didisrupsi oleh AI. Berikut ini adalah deretan panjang pekerjaan-pekerjaan lain yang bakal tergantikan oleh AI:



#11. Di sektor perbankan, analis kredit juga semakin tidak dibutuhkan ketika machine learning (ML) modeling platform bakal merevolusi metode credit scoring dalam memotret risiko kreditur secara holistik, efisien, dan presisi. ML mampu adaptif dan “belajar” secara intuitif terhadap big data nasabah yang di-feeding kepadanya. Persetujuan kredit bisa demikian presisi dan bisa dilakukan secara real time.

#12. Dokter semakin berkurang perannya ketika dengan predictive analytics AI akan bisa meramalkan bahwa seseorang bakal terkena kanker, misalnya jauh sebelum penyakit mematikan itu datang. Jadi, berbagai upaya pencegahan bisa dilakukan, katakan 10 atau 20 tahun sebelum kanker terjadi. Inilah yang disebut predictive care.

#13. Secara massal AI mulai menggantikan pekerjaan kognitif yang berpola seperti akuntan, pengacara, wartawan, apoteker, peneliti, hingga analis saham. Pekerjaan manusia yang mengandalkan analisa dan olah data akan tergantikan karena AI mampu melakukannya secara lebih cepat, presisi, nir-bias.

#14. Namun menyedihkannya, tak hanya pekerjaan-pekerjaan kognitif, AI pun mulai bisa menulis novel sekelas karya JK Rowling, komposisi musik sekelas gubahan Lennon-McCartney, atau menulis skenario film sekaligus menyutradarainya. Bahkan Brad Pitt pun akan tergusur oleh CGI (computer-generated imagery) sebagai aktor (lihat: film Avatar dan terakhir Alita: Battle Angel). Pekerjaan seniman pun di ujung tanduk.

#15. Tentara juga di ambang kepunahan karena mereka akan tergantikan oleh robot seperti di film Iron Man yang bisa mengendalikan dirinya sendiri tanpa campur tangan manusia. Deep learning memungkinkan soldier robot melakukan analisis situasi, menghitung kekuatan lawan, dan kemudian mengambil keputusan penyerangan secara mandiri tanpa sedikit pun intervensi manusia. Perang tak lagi antara manusia vs manusia, tapi robot vs robot.

#16. Teroris dan disiden bakal tak berkutik dan akhirnya punah. China menggunakan pemindai wajah (facial recognition) berbasis AI yang memungkinkan pemerintah mengawasi setiap gerak-gerik warga negaranya, di mana pun, kapan pun. Secara agresif China mengembangkan jejaring kamera pemindai wajah dengan menggunakan teknologi biometrik sehingga tak satu pun warga negara yang bisa luput dari pengawasan pemerintah. Welcome the era of government surveillance.

#17. Bisa jadi profesi petinju, pegulat, atau atlet UFC kian tak populer karena tersaingi oleh robot olympic yang lebih seru dan sangar. Pertarungan dua humanoid robot hingga mati dapat menjadi olahraga dan hiburan baru dalam perkembangan teknologi di masa depan. Hal tersebut dapat menggantikan pertarungan antarpetinju. Menciptakan hiburan baru kepada masyarakat yang diwakili oleh robot.

#18. Nasib sial juga akan menimpa salah satu industri tertua, yaitu prostitusi. Sexbot berbasis AI akan menggantikan PSK untuk memuaskan orgasme setiap pelanggannya. Harmony by RealDoll adalah salah satunya. Sexbot pertama di dunia ini bisa berbicara sensual, mendesah, berkedip menggoda, dan memahami emosi/kepribadian setiap pria pelanggannya karena diperlengkapi self-learning software.

#19. Di bidang transportasi, mobil bensin dan disel (internal combination engine) pelan-pelan akan lenyap tergantikan oleh mobil listrik (electric vehicle) seperti Tesla, mobil nir-sopir (autonomous vehicle), seperti Google Waymo, bahkan taksi terbang (electric vertical take-off and landing e-VTOL) vehicle seperti Uber Air.

#20. Minimarket, supermarket, hypermarket, akan kian tergusur karena kita tak perlu shopping lagi. Lemari es kita di rumah bakal dipasangi computer vision sensor yang bisa memindai dan memonitor apakah persediaan susu, daging, atau sayur kita masih cukup. Begitu habis, maka sistem AI akan “memerintahkan” vendor produk-produk tersebut untuk mengirim barang-barang yang telah habis tersebut. Semuanya berlangsung secara otomatis tanpa campur tangan manusia. Kita akan memasuki era zero-click shopping.

#21. Akademi dan universitas konvensional akan tutup tergantikan instructional tutorial system (ITS) yang mampu memberikan instruksi dan feedback pembelajaran secara customized kepada mahasiswa tanpa ada campur tangan pengajar manusia. Dengan ITS, pembelajaran akan berlangsung secara one-to-one, personalized tutoring tidak massal di kelas seperti sekarang. Teknologi MOOCs akan terus diperbaiki dengan memanfaatkan AI (natural language processing, machine learning, semantic web, social/emotional computing) untuk menyempurnakan learning experience terbaik.

Kata Prof Clayton Christensen, pencipta teori disruptive innovation pada 2017: “50% of the 4,000 colleges and universities in the US will be bankrupt in 10 to 15 years.”.

Yuswohady
Managing Partner Inventure, www.yuswohadi.com
(ysw)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak