Arus Modal ke Bitcoin Capai Rp669 Triliun, Harga Diprediksi Tembus USD150.000
Kamis, 01 Mei 2025 - 21:32 WIB
loading...
A
A
A
Dia menyampaikan, pergerakan besar ini menandakan semakin menariknya pasar kripto secara global. Arus dana institusional ini dapat menjadi acuan penting bagi investor ritel di Indonesia.
Oscar juga menekankan, pertumbuhan ekosistem kripto kini lebih stabil berkat regulasi yang terus berkembang dan adopsi yang semakin meluas secara global. Standard Chartered, memproyeksikan Bitcoin berpotensi menembus harga USD150.000 pada akhir 2025, berpotesni all time high (ATH) baru diprediksi akan tercapai di kuartal II-2025, seiring meningkatnya permintaan dari ETF dan efek dari halving Bitcoin yang terjadi pada April 2024.
Menurut analis dari Standard Chartered, mayoritas arus masuk ETF saat ini tidak berasal dari investor ritel, melainkan institusi seperti dana pensiun dan perusahaan manajemen aset besar. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap Bitcoin bersifat jangka panjang dan lebih stabil.
Selain itu, ETF dari BlackRock, yaitu iShares Bitcoin Trust (IBIT), telah menjadi salah satu ETF dengan pertumbuhan tercepat dalam sejarah keuangan Amerika Serikat. IBIT mengelola lebih dari 270.000 BTC atau setara USD17,8 miliar hingga April 2025, mengungguli ETF Ethereum dan produk derivatif lainnya.
Oscar menilai, jika tren ini terus berlanjut, ekspektasi harga Bitcoin menembus sekitar USD100.000 bukan lagi hal yang mustahil. "Bitcoin semakin diakui sebagai emas digital. Bedanya, ia jauh lebih mudah diakses dan didistribusikan lintas negara. Ini merupakan peluang strategis bagi masyarakat Indonesia untuk mulai berpartisipasi dalam aset digital global," jelasnya.
Dia menambahkan, fenomena pembelian Bitcoin oleh institusi turut berperan dalam lonjakan arus dana ini. Adopsi institusi seperti MicroStrategy menunjukkan bahwa strategi Dollar Cost Averaging (DCA) tetap menjadi metode yang digunakan bahkan oleh perusahaan berskala internasional, sejalan dengan prinsip pengelolaan risiko yang disiplin dalam dunia keuangan.
Oscar juga menekankan, pertumbuhan ekosistem kripto kini lebih stabil berkat regulasi yang terus berkembang dan adopsi yang semakin meluas secara global. Standard Chartered, memproyeksikan Bitcoin berpotensi menembus harga USD150.000 pada akhir 2025, berpotesni all time high (ATH) baru diprediksi akan tercapai di kuartal II-2025, seiring meningkatnya permintaan dari ETF dan efek dari halving Bitcoin yang terjadi pada April 2024.
Menurut analis dari Standard Chartered, mayoritas arus masuk ETF saat ini tidak berasal dari investor ritel, melainkan institusi seperti dana pensiun dan perusahaan manajemen aset besar. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap Bitcoin bersifat jangka panjang dan lebih stabil.
Selain itu, ETF dari BlackRock, yaitu iShares Bitcoin Trust (IBIT), telah menjadi salah satu ETF dengan pertumbuhan tercepat dalam sejarah keuangan Amerika Serikat. IBIT mengelola lebih dari 270.000 BTC atau setara USD17,8 miliar hingga April 2025, mengungguli ETF Ethereum dan produk derivatif lainnya.
Oscar menilai, jika tren ini terus berlanjut, ekspektasi harga Bitcoin menembus sekitar USD100.000 bukan lagi hal yang mustahil. "Bitcoin semakin diakui sebagai emas digital. Bedanya, ia jauh lebih mudah diakses dan didistribusikan lintas negara. Ini merupakan peluang strategis bagi masyarakat Indonesia untuk mulai berpartisipasi dalam aset digital global," jelasnya.
Dia menambahkan, fenomena pembelian Bitcoin oleh institusi turut berperan dalam lonjakan arus dana ini. Adopsi institusi seperti MicroStrategy menunjukkan bahwa strategi Dollar Cost Averaging (DCA) tetap menjadi metode yang digunakan bahkan oleh perusahaan berskala internasional, sejalan dengan prinsip pengelolaan risiko yang disiplin dalam dunia keuangan.
Lihat Juga :