Trump Singgung Sosok Xi Jinping: 'Orangnya Sangat Keras dan Sulit Dihadapi'
Kamis, 05 Juni 2025 - 08:24 WIB
loading...
Ketegangan hubungan perdagangan antara AS dan China kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Presiden China, Xi Jinping. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Ketegangan hubungan perdagangan antara Amerika Serikat dan China kembali memanas setelah Presiden Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Presiden China, Xi Jinping. Trump menyebut Xi adalah sosok yang sangat keras dan sulit dihadapi.
Pernyataan Trump ini memicu kekhawatiran di pasar global terkait kelanjutan pembebasan tarif antara AS dan China. Para analis menilai komentar tersebut dapat menambah tekanan pada nilai tukar dolar AS dan memperburuk ketidakpastian dalam aturan perdagangan internasional.
"Saya menyukai Presiden Xi China, selalu, dan akan selalu begitu, tetapi dia SANGAT KERAS, dan SANGAT SULIT untuk diajak berunding!!!" ujar Trump dalam unggahan di Truth Social medianua, dikutip dari Watcher Guru, Kamis (5/6).
Baca Juga: Amerika Desak India Tinggalkan BRICS: 'Berbisnislah dengan AS'
Reaksi pasar terhadap pernyataan tersebut terlihat dari meningkatnya volatilitas dolar AS. Para pelaku pasar kini tengah menilai dampak pernyataan Trump terhadap prospek pembebasan tarif dan hubungan dagang kedua negara, yang merupakan dua perekonomian terbesar dunia.
Ketegangan ini juga beriringan dengan perkembangan diskusi kelompok BRICS, yang semakin intensif membahas upaya memperkuat perdagangan di luar pengaruh negara-negara Barat. Ketidakpastian aturan perdagangan global ini menambah tekanan pada sistem keuangan global dan memengaruhi sentimen investor di berbagai sektor.
Sejarah ketegangan perdagangan antara Trump dan Xi sebenarnya sudah berlangsung sejak masa kepresidenan Trump yang pertama. Meskipun pernah tercapai kesepakatan dagang tahap pertama yang sempat meredakan ketegangan, pernyataan terbaru Trump menunjukkan bahwa perselisihan antara kedua negara masih jauh dari selesai.
Sejumlah analis menilai, jika ketegangan ini terus berlanjut dampaknya akan sangat besar terhadap perdagangan global. Ketidakpastian hukum dan kebijakan dapat mengganggu perencanaan rantai pasok dan operasional bisnis internasional.
Diskusi BRICS yang sedang berlangsung juga mencerminkan upaya negara-negara anggota untuk membangun hubungan ekonomi baru sebagai antisipasi atas perubahan dalam hubungan dagang AS-China. Hal ini juga terkait dengan potensi pergeseran penggunaan dolar AS sebagai mata uang utama dalam perdagangan internasional.
Baca Juga: 8 Negara Penyokong Dana Israel Terbesar, 2 Ada di Asia
Bank-bank sentral di berbagai negara memperhatikan perkembangan ini dengan seksama, mengingat ancaman terhadap posisi dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia dapat memengaruhi stabilitas keuangan global.
Berlanjutnya konflik perdagangan antara Trump dan Xi menjadi tantangan serius bagi stabilitas ekonomi global. Para pelaku pasar dan investor terus memantau dengan cermat dampak ketegangan ini terhadap rantai pasokan, nilai mata uang, dan arus investasi di masa mendatang.
Pernyataan Trump ini memicu kekhawatiran di pasar global terkait kelanjutan pembebasan tarif antara AS dan China. Para analis menilai komentar tersebut dapat menambah tekanan pada nilai tukar dolar AS dan memperburuk ketidakpastian dalam aturan perdagangan internasional.
"Saya menyukai Presiden Xi China, selalu, dan akan selalu begitu, tetapi dia SANGAT KERAS, dan SANGAT SULIT untuk diajak berunding!!!" ujar Trump dalam unggahan di Truth Social medianua, dikutip dari Watcher Guru, Kamis (5/6).
Baca Juga: Amerika Desak India Tinggalkan BRICS: 'Berbisnislah dengan AS'
Reaksi pasar terhadap pernyataan tersebut terlihat dari meningkatnya volatilitas dolar AS. Para pelaku pasar kini tengah menilai dampak pernyataan Trump terhadap prospek pembebasan tarif dan hubungan dagang kedua negara, yang merupakan dua perekonomian terbesar dunia.
Ketegangan ini juga beriringan dengan perkembangan diskusi kelompok BRICS, yang semakin intensif membahas upaya memperkuat perdagangan di luar pengaruh negara-negara Barat. Ketidakpastian aturan perdagangan global ini menambah tekanan pada sistem keuangan global dan memengaruhi sentimen investor di berbagai sektor.
Sejarah ketegangan perdagangan antara Trump dan Xi sebenarnya sudah berlangsung sejak masa kepresidenan Trump yang pertama. Meskipun pernah tercapai kesepakatan dagang tahap pertama yang sempat meredakan ketegangan, pernyataan terbaru Trump menunjukkan bahwa perselisihan antara kedua negara masih jauh dari selesai.
Sejumlah analis menilai, jika ketegangan ini terus berlanjut dampaknya akan sangat besar terhadap perdagangan global. Ketidakpastian hukum dan kebijakan dapat mengganggu perencanaan rantai pasok dan operasional bisnis internasional.
Diskusi BRICS yang sedang berlangsung juga mencerminkan upaya negara-negara anggota untuk membangun hubungan ekonomi baru sebagai antisipasi atas perubahan dalam hubungan dagang AS-China. Hal ini juga terkait dengan potensi pergeseran penggunaan dolar AS sebagai mata uang utama dalam perdagangan internasional.
Baca Juga: 8 Negara Penyokong Dana Israel Terbesar, 2 Ada di Asia
Bank-bank sentral di berbagai negara memperhatikan perkembangan ini dengan seksama, mengingat ancaman terhadap posisi dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia dapat memengaruhi stabilitas keuangan global.
Berlanjutnya konflik perdagangan antara Trump dan Xi menjadi tantangan serius bagi stabilitas ekonomi global. Para pelaku pasar dan investor terus memantau dengan cermat dampak ketegangan ini terhadap rantai pasokan, nilai mata uang, dan arus investasi di masa mendatang.
(nng)
Lihat Juga :