Lebih dari 50 Negara Singkirkan Dolar AS, Pilih Yuan, Rupee, dan Rubel

Senin, 09 Juni 2025 - 19:15 WIB
loading...
Lebih dari 50 Negara...
Lebih dari 50 negara kini meninggalkan dominasi dolar AS dalam perdagangan internasional dan beralih menggunakan tiga mata uang lokal. FOTO/Watcher Guru
A A A
JAKARTA - Lebih dari 50 negara kini meninggalkan dominasi dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan internasional dan beralih menggunakan tiga mata uang lokal seperti yuan China, rupee India, dan rubel Rusia. Langkah ini mencerminkan percepatan tren dedolarisasi yang digerakkan oleh kerja sama ekonomi negara-negara BRICS.

Perdagangan berbasis mata uang lokal semakin meluas, terutama dalam sektor energi dan pertahanan. Kemitraan antara India dan Rusia menjadi contoh konkret. India saat ini membeli minyak dari Rusia menggunakan rupee, langsung membayar perusahaan Rosneft tanpa melalui sistem pembayaran internasional berbasis dolar.

Di sektor pertahanan, Rusia memasok sekitar dua pertiga kebutuhan militer India. Dalam beberapa tahun terakhir, kesepakatan di sektor ini juga dilakukan menggunakan mata uang lokal ketimbang dolar. Hal ini mempercepat realisasi perdagangan bilateral lintas negara anggota BRICS dengan mekanisme yang lebih mandiri secara finansial.

Volume perdagangan India dan Rusia meningkat tajam, dari 13 miliar dolar AS pada 2021-2022 menjadi USD27 miliar pada 2022. Lonjakan ini sebagian besar didorong oleh metode transaksi alternatif dengan yuan, rupee, dan rubel untuk kebutuhan energi dan teknologi.

Baca Juga: Jelang KTT BRICS 2025 di Brasil, AS Awasi Ketat Modi dan Dedolarisasi

Pergeseran juga terjadi di kawasan Timur Tengah. Arab Saudi memperbarui perjanjian tukar-menukar mata uang dengan China dan membuka peluang perdagangan minyak dalam mata uang yuan. Langkah ini dinilai sebagai pukulan serius terhadap dominasi petrodolar di pasar global.

Presiden Rusia Vladimir Putin menilai penggunaan dolar sebagai senjata geopolitik justru menjadi bumerang. "Kami benar-benar melihat hal ini. Saya pikir ini adalah kesalahan besar bagi mereka yang melakukannya," kata Putin dalam KTT BRICS di Kazan beberapa waktu lalu, seperti dikutip Watcher Guru, Senin (9/6/2025).

Sementara, blok Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS) turut memperkuat tren dedolarisasi. Lebih dari 85 persen transaksi lintas batas di kawasan tersebut kini dilakukan dengan mata uang nasional masing-masing.

Presiden Brasil Luiz Ianan global. "Dalam menghadapi polarisasi dan fragmentasi, satu-satnácio Lula da Silva menyatakan bahwa unilateralisme ekonomi mengancam tatunya jalan ke depan adalah mempertahankan multilateralisme secara konsisten," tegas Lula dalam forum BRICS yang sama.

Baca Juga: Kerusuhan Meluas di Los Angeles, Demonstran Bentrok dengan Garda Nasional

Seiring penguatan dedolarisasi, negara-negara BRICS mengembangkan sistem pembayaran alternatif bernama BRICS Pay. Meskipun belum memiliki mata uang tunggal, sistem ini memungkinkan perdagangan lintas batas dalam mata uang lokal, mempermudah transaksi tanpa melibatkan sistem perbankan Barat.

BRICS Pay juga menjadi solusi bagi negara-negara yang ingin menghindari risiko sanksi ekonomi. Infrastruktur ini memungkinkan mekanisme pembayaran yang lebih fleksibel, independen, dan berkelanjutan di tengah ketegangan geopolitik global.

Dengan infrastruktur baru ini, lebih dari 50 negara kini aktif melakukan perdagangan luar negeri tanpa dolar. Ekspansi penggunaan yuan, rupee, dan rubel diperkirakan akan terus meluas seiring meningkatnya kerja sama ekonomi global berbasis multipolar.

Fenomena ini mencerminkan transformasi besar dalam lanskap ekonomi internasional, yang tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga politik dan strategis. Dedolarisasi bukan lagi wacana, melainkan kenyataan yang terus bergulir.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
24 Negara Pembeli Minyak...
24 Negara Pembeli Minyak Terbesar AS, Cek Posisi Indonesia
Hindari Selat Hormuz!...
Hindari Selat Hormuz! India Diam-Diam Gandeng Rusia Buka Jalur Es Ekstrem
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Siapa Liao Dan? Pria...
Siapa Liao Dan? Pria yang Dijuluki Penipu Paling Setia di China
Trump: 2 Minggu Lagi,...
Trump: 2 Minggu Lagi, AS Nyatakan Kemenangan Total atas Iran!
Helikopter Apache AS...
Helikopter Apache AS Jatuh di Dekat Selat Hormuz, Ditembak Iran?
Rekomendasi
Terungkap! 3 Modus Propaganda...
Terungkap! 3 Modus Propaganda Disintegrasi yang Membonceng Film Pesta Babi
Jet Tempur Masa Depan...
Jet Tempur Masa Depan untuk Menggantikan Rafale dan Eurofighter Gagal Terwujud, Ini 4 Alasannya
Jenderal Sigit Tegaskan...
Jenderal Sigit Tegaskan Polri Tidak Sembarangan Tempatkan Personel di Luar Struktur
Berita Terkini
Rupiah Terus Melemah,...
Rupiah Terus Melemah, BI Keluarkan Lima Jurus Tambahan
Prabowo Panggil Chatib...
Prabowo Panggil Chatib Basri ke Istana, Ada Apa?
Akar Pelemahan Rupiah...
Akar Pelemahan Rupiah Dibeberkan Chatib Basri, Kredibilitas Fiskal Jadi Kunci
Purbaya: Kebijakan Fiskal...
Purbaya: Kebijakan Fiskal 2027 Diarahkan Dorong Ekonomi Makin Tinggi, Rakyat Sejahtera Lebih Cepat
Anggaran Sekolah Rakyat...
Anggaran Sekolah Rakyat di Jember Tembus Rp221 Miliar, Punya Lapangan Bola Standar FIFA
Darurat Rupiah, BI Kembali...
Darurat Rupiah, BI Kembali Kerek Suku Bunga Acuan Jadi 5,50% dan Rilis 4 Operasi Moneter
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved