Beban Sejarah Defisit Perdagangan dan Melemahnya Dolar AS

Selasa, 10 Juni 2025 - 09:53 WIB
loading...
Beban Sejarah Defisit...
Jika Amerika Serikat (AS) ingin secara signifikan mengurangi atau menghilangkan defisit perdagangan, maka dolar AS mungkin harus melemah. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Jika Amerika Serikat (AS) ingin secara signifikan mengurangi atau menghilangkan defisit perdagangannya, maka dolar AS mungkin harus melemah. Namun seberapa besar masih belum jelas, karena sejarah menunjukkan bahwa pelamahan dolar yang besar jarang terjadi dan memiliki konsekuensi yang tidak terduga untuk perdagangan.

Mengurangi defisit perdagangan AS adalah tujuan utama dari agenda ekonomi Presiden, Donald Trump karena dia percaya, ada puluhan negara-negara lain yang mendapatkan miliaran dolar setiap tahun dari Amerika. Hal ini yang melandasi tarif Trump terhadap hampir semua mitra dagang Amerika.

Ketua Dewan Penasihat Ekonomi, Stephen Miran menerbitkan sebuah makalah pada bulan November, yang berjudul "Panduan Pengguna untuk Restrukturisasi Sistem Perdagangan Global" di mana ia mengklaim bahwa dolar "secara terus-menerus dinilai terlalu tinggi" dari perspektif perdagangan.

"Tarif yang menyeluruh dan pergeseran dari kebijakan dolar yang kuat" dapat secara fundamental mengubah sistem perdagangan dan keuangan global.

Baca Juga: Daya Tarik Dolar AS Meredup, Ternyata Ini Sebabnya

Jika nilai tukar yang lebih lemah menjadi tujuan pemerintahan Trump, maka menurutnya hal itu berada di jalur yang benar, dimana dolar AS turun hampir 10% tahun ini akibat meningkatnya kekhawatiran tentang jalur fiskal dan kredibilitas kebijakan Washington serta berakhirnya "keistimewaan AS" dan status "tempat aman" dari obligasi Treasury.

Namun menjadi penting untuk diingat bahwa penurunan 15% pada dolar selama masa jabatan pertama Trump tidak berdampak pada defisit perdagangan, dimana ketika itu tetap antara 2,5% dan 3,0% dari PDB hingga pandemi. Oleh karena itu, untuk mengurangi defisit AS akan memerlukan langkah yang jauh lebih besar.

Beban Sejarah

Mengurangi defisit perdagangan akan menjadi tantangan, menghilangkannya tanpa resesi adalah prestasi bersejarah. Amerika Serikat telah mengalami defisit yang terus-menerus selama setengah abad terakhir, karena permintaan konsumen yang tak terpuaskan telah menyerap barang-barang dari seluruh dunia.

Ditambah nafsu besar untuk aset AS dari luar negeri telah menjaga aliran modal tetap masuk ke dalam negeri. Satu-satunya pengecualian terjadi pada kuartal ketiga tahun 1980, ketika AS mencatatkan surplus perdagangan tipis sebesar 0,2% dari PDB, dan perdagangan hampir seimbang, tapi hanya sebentar yakni di 1982 dan 1991-92.

Namun, periode-periode ini semuanya bertepatan dengan - atau merupakan akibat dari - perlambatan tajam dalam aktivitas ekonomi AS yang pada akhirnya berakhir dalam resesi. Seiring menyusutnya pertumbuhan, permintaan impor menurun dan defisit perdagangan menyempit. Dolar hanya memainkan peran signifikan, salah satu dari mereka.

Pada tahun 1987, defisit perdagangan mencapai 3,1% dari PDB yang merupakan rekor saat itu. Namun, hampir menghilang pada awal 1990-an, akibat sebagian besar karena devaluasi dolar sebesar 50% dari 1985-87, penyusutan terbesar yang pernah ada.

Penurunan tiga tahun itu dipercepat oleh Plaza Accord pada bulan September 1985, respons terkoordinasi antara kekuatan ekonomi dunia untuk melemahkan dolar setelah kenaikan parabolisnya pada paruh pertama tahun 1980-an.

Tetapi hal itu tidak berarti depresiasi besar selalu berbarengan dengan pengurangan dalam defisit perdagangan. Penurunan terbesar kedua dolar adalah penurunan 40% antara tahun 2002 dan pertengahan 2008, tepat sebelum Lehman Brothers bangkrut.

Namun, defisit perdagangan AS sebenarnya melebar sepanjang periode itu, mencapai rekor 6% dari PDB pada tahun 2005. Meskipun telah menyusut lebih dari tiga poin secara persentase pada tahun 2009, namun itu lebih disebabkan jatuhnya impor selama Resesi Hebat daripada nilai tukar.

Dua episode depresiasi dolar yang dalam dan berkepanjangan ini menjadi menonjol karena selama 50 tahun terakhir, indeks dolar hanya mengalami dua penurunan lainnya yang melebihi 20%, yaitu pada 1977-78 dan awal 1990-an, serta beberapa penurunan lain antara 15-20%. Tidak satu pun memiliki dampak yang terlihat pada neraca perdagangan AS.

Defisit Menjadi Hilang?

Pemerintahan AS benar bahwa dolar secara historis menguat menurut beberapa ukuran. Mengingat bahwa Presiden Trump dan Menteri Keuangan Scott Bessent tampaknya bertekad untuk menyeimbangkan perdagangan global, tapi tekanan terhadap dolar tampaknya tidak akan menghilang dalam waktu dekat.

Tapi seberapa banyak dolar harus turun untuk mengurangi defisit perdagangan yang membengkak, dimana tahun lalu tercatat mencapai USD918 miliar, atau 3,1% dari PDB.

Manajer hedge fund, Andreas Steno Larsen memperkirakan, depresiasi 20-25% selama dua tahun ke depan akan membuat defisit "menghilang". Sementara Peter Hooper dari Deutsche Bank berpikir depresiasi 20-30% bisa cukup untuk "pada akhirnya" memperkecil defisit sekitar 3% dari PDB.

Baca Juga: Campakkan Dolar AS, 44 Negara Kepincut Agenda Dedolarisasi

"Ini berarti bahwa pembalikan signifikan dari apresiasi sekitar 40% dolar dalam istilah riil (disesuaikan dengan harga) terhadap berbagai mata uang sejak 2010, bisa jadi cukup untuk mengembalikan defisit saat ini ke saldo nol," tulis Hooper minggu lalu.

Sejarah menunjukkan bahwa, ini mungkin sulit dilakukan tanpa perlambatan ekonomi yang parah. Tapi itu adalah risiko yang tampaknya siap diterima oleh pemerintah.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kenaikan Kurs Dolar...
Kenaikan Kurs Dolar dan Harga Energi Hantam Industri Galangan Kapal Nasional
24 Negara Pembeli Minyak...
24 Negara Pembeli Minyak Terbesar AS, Cek Posisi Indonesia
Rekor Terburuk Lagi,...
Rekor Terburuk Lagi, Rupiah Tembus Rp18.187 per Dolar AS Sore Ini
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
Pasar Keuangan Ambruk...
Pasar Keuangan Ambruk Lebih Dalam, Rupiah Diramal Tembus Rp19.000 Akhir Bulan Ini
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
Trump: 2 Minggu Lagi,...
Trump: 2 Minggu Lagi, AS Nyatakan Kemenangan Total atas Iran!
Helikopter Apache AS...
Helikopter Apache AS Jatuh di Dekat Selat Hormuz, Ditembak Iran?
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia, China dan Rusia Bersaing Ketat
Rekomendasi
Barang Bukti OTT Bupati...
Barang Bukti OTT Bupati Muara Enim, Uang Tunai hingga Rekening Senilai Rp2 M
Jet Tempur Masa Depan...
Jet Tempur Masa Depan untuk Menggantikan Rafale dan Eurofighter Gagal Terwujud, Ini 4 Alasannya
Tokoh Nasional Ajukan...
Tokoh Nasional Ajukan Amicus Curiae, Nadiem: Dukungan Tegakkan Keadilan dan Kebenaran
Berita Terkini
Purbaya: Kebijakan Fiskal...
Purbaya: Kebijakan Fiskal 2027 Diarahkan Dorong Ekonomi Makin Tinggi, Rakyat Sejahtera Lebih Cepat
Anggaran Sekolah Rakyat...
Anggaran Sekolah Rakyat di Jember Tembus Rp221 Miliar, Punya Lapangan Bola Standar FIFA
Darurat Rupiah, BI Kembali...
Darurat Rupiah, BI Kembali Kerek Suku Bunga Acuan Jadi 5,50% dan Rilis 4 Operasi Moneter
Kenaikan Kurs Dolar...
Kenaikan Kurs Dolar dan Harga Energi Hantam Industri Galangan Kapal Nasional
Begini Hasil Pertemuan...
Begini Hasil Pertemuan Dasco dan Bos Himbara, Dirut BNI: Fundamental Bagus, Tak Perlu Cemas
Chatib Basri: Tugas...
Chatib Basri: Tugas Menteri Keuangan Sebetulnya Gampang! Potong, Naikkan, Pinjam
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved