Tenaga Ahli Menteri ESDM Kunjungi Terminal BBM Ujung Berung, Pastikan Pasokan Energi Stabil
Selasa, 01 Juli 2025 - 23:16 WIB
loading...
A
A
A
Ia juga menyoroti tingkat stok BBM dan LPG di Indonesia yang hanya berkisar 2-3 minggu, lebih rendah dibandingkan negara lain yang bisa mencapai 6 bulan, menjadikan ini sebagai poin diskusi penting untuk cadangan energi di masa depan, terutama mengingat ketegangan geopolitik global saat ini.
Hangga mengungkapkan, “Terminal BBM Ujung Berung menjadi terminal penting dalam penyediaan dan pendistribusian stok BBM buat Jawa Barat dengan jumlah penduduk lebih dari 50 jt org (17,8% dari total penduduk di Indonesia). Dengan pasokan minyak yang disalurkan melalui pipa dari RU IV Cilacap dan penerapan sistem AI untuk monitoring dan performance evaluation, Terminal BBM Ujung Berung menjadi salah satu terminal yang advanced dan paling ideal di Indonesia. Kami berharap agar QQ (Quality dan Quantity) BBM dari Terminal BBM Ujung Berung dapat dijaga dengan baik dengan kualitas yg selalu (on-spec) untuk masyarakat dan industri.”
Operations Manager Fuel Terminal Bandung Ujung Berung, Debbi Juliana, menyambut Hangga dan tim Kementerian ESDM. Ia memaparkan, profil Terminal BBM Ujung Berung yang memiliki dua lokasi di Ujung Berung dan satu di Padalarang. Terminal Ujung Berung memiliki kapasitas tangki timbun 94.956 KL dan penyaluran harian lebih dari 4.548 KL/hari, sementara Padalarang memiliki kapasitas 57.860 KL dan penyaluran 2.317 KL/hari. Terminal ini disuplai melalui jalur pipa dari kilang Cilacap, menjamin pasokan yang aman.
Mengenai kualitas produk, Group Head Operation Regional Jawa Bagian Barat, Moch. Toriq menegaskan, bahwa produk yang dikirimkan ke terminal Pertamina dari kilang selalu sesuai spesifikasi (on-spec).
"Bahkan produk impor dari kapal hanya dibongkar jika sudah on-spec, setelah melalui berbagai tes laboratorium oleh Pertamina, dengan persetujuan akhir dari Migas," tambahnya.
Operations Manager FT Bandung Ujung Berung, Debbi Juliana menambahkan, bahwa Pertalite tidak memiliki toleransi kandungan air, sedangkan Biosolar memiliki kandungan air maksimal 380 ppm dan saat ini di lokasi mereka 197 ppm, sesuai spesifikasi Migas.
Hangga juga membahas isu kepercayaan publik dan citra Pertamina. Ia mengakui, bahwa masyarakat menginginkan kuantitas dan kualitas yang tepat (QQ) untuk bahan bakar, karena kendaraan mereka terdampak langsung.
Hangga mengungkapkan, “Terminal BBM Ujung Berung menjadi terminal penting dalam penyediaan dan pendistribusian stok BBM buat Jawa Barat dengan jumlah penduduk lebih dari 50 jt org (17,8% dari total penduduk di Indonesia). Dengan pasokan minyak yang disalurkan melalui pipa dari RU IV Cilacap dan penerapan sistem AI untuk monitoring dan performance evaluation, Terminal BBM Ujung Berung menjadi salah satu terminal yang advanced dan paling ideal di Indonesia. Kami berharap agar QQ (Quality dan Quantity) BBM dari Terminal BBM Ujung Berung dapat dijaga dengan baik dengan kualitas yg selalu (on-spec) untuk masyarakat dan industri.”
Operations Manager Fuel Terminal Bandung Ujung Berung, Debbi Juliana, menyambut Hangga dan tim Kementerian ESDM. Ia memaparkan, profil Terminal BBM Ujung Berung yang memiliki dua lokasi di Ujung Berung dan satu di Padalarang. Terminal Ujung Berung memiliki kapasitas tangki timbun 94.956 KL dan penyaluran harian lebih dari 4.548 KL/hari, sementara Padalarang memiliki kapasitas 57.860 KL dan penyaluran 2.317 KL/hari. Terminal ini disuplai melalui jalur pipa dari kilang Cilacap, menjamin pasokan yang aman.
Mengenai kualitas produk, Group Head Operation Regional Jawa Bagian Barat, Moch. Toriq menegaskan, bahwa produk yang dikirimkan ke terminal Pertamina dari kilang selalu sesuai spesifikasi (on-spec).
"Bahkan produk impor dari kapal hanya dibongkar jika sudah on-spec, setelah melalui berbagai tes laboratorium oleh Pertamina, dengan persetujuan akhir dari Migas," tambahnya.
Operations Manager FT Bandung Ujung Berung, Debbi Juliana menambahkan, bahwa Pertalite tidak memiliki toleransi kandungan air, sedangkan Biosolar memiliki kandungan air maksimal 380 ppm dan saat ini di lokasi mereka 197 ppm, sesuai spesifikasi Migas.
Hangga juga membahas isu kepercayaan publik dan citra Pertamina. Ia mengakui, bahwa masyarakat menginginkan kuantitas dan kualitas yang tepat (QQ) untuk bahan bakar, karena kendaraan mereka terdampak langsung.
Lihat Juga :