Pertumbuhan Sektor Pertanian 10,45 Persen, Tingkatkan Ketahanan Pangan dan Ekonomi Nasional
Rabu, 02 Juli 2025 - 22:11 WIB
loading...
Sektor pertanian mencapai pertumbuhan 10,45 persen pada kuartal I-2025. (Dok. Sindonews)
A
A
A
JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025 yang mencapai 4,87 persen secara tahunan (year on year) menghadirkan fenomena menarik. Meskipun angka tersebut berada di bawah target 5 persen, kontribusi luar biasa dari sektor pertanian telah memberikan harapan baru dan diakui sebagai penyelamat perekonomian nasional.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengakui lonjakan sektor pertanian yang tidak biasa ini. Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Nathan Kacaribu menyebutkan bahwa meroketnya sektor pertanian ini adalah berkat gebrakan reformasi regulasi yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto, yang memangkas 145 peraturan di sektor pertanian menjadi hanya satu Peraturan Presiden (Perpres).
"Pertumbuhan ekonomi 4,87 persen dan nampaknya menekankan itu sektor-sektor yang langsung terkena ancaman global. Tetapi yang sangat menarik dan harusnya ini sering kita bahas, sektor pertanian tumbuh mencapai 10,45 persen, sepanjang sejarah belum pernah," ujar Febrio dalam diskusi, dikutip MNC Portal, Senin (30/6/2025).
Febrio menegaskan bahwa pertumbuhan 10,45 persen di sektor pertanian ini merupakan yang pertama kali terjadi sepanjang sejarah berdirinya Republik Indonesia. Angka ini sangat kontras dengan kondisi sektor pertanian sebelumnya yang seringkali tumbuh rendah, bahkan negatif, yang memaksa Indonesia melakukan impor beras dan jagung.
"Bahkan kalau lihat 10 tahun terakhir bukan hanya tumbuhnya rendah tumbuhnya selalu negatif, makanya sering kita impor beras, impor jagung," kata Febrio.
Pencapaian tersebut, lanjutnya, tidak lepas dari langkah reformasi regulasi yang dilakukan oleh Presiden Prabowo, khususnya terkait penyaluran pupuk.
“Apa yang terjadi pada triwulan I-2025, banyak sekali peraturan tentang penyaluran pupuk, 145 peraturan dipotong, ditebas habis jadi satu Perpres,” tutur alumni SMA Taruna Nusantara itu.
Penyederhanaan aturan tersebut, menurut Febrio, berdampak positif terhadap sektor pertanian dan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas serta dampak berkelanjutan bagi ketahanan pangan dan ekonomi nasional.
"Bayangkan dulu kalau mau melakukan penyaluran pupuk itu kita butuh waktu hampir satu semester urus distribusi saja. Karena apa aturannya panjang sekali dari pemerintah pusat, provinsi, turun lagi ke kabupaten, kelurahan dan baru sampai ke petani," tegas mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu itu.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat adanya kontribusi besar dari sektor pertanian dalam menopang pertumbuhan ekonomi triwulan I-2025 sebesar 4,87 persen secara tahunan. Peran sektor pertanian ini sungguh di luar dugaan di tengah melemahnya konsumsi.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan bahwa dari sisi produksi, lapangan usaha pertanian mencatatkan pertumbuhan tertinggi, yaitu sebesar 1,11 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi.
"Jika dilihat dari sumber pertumbuhan pada kuartal I-2025, lapangan usaha pertanian menjadi sumber pertumbuhan terbesar, yaitu sebesar 1,11 persen," kata Amalia, yang akrab disapa Winny, di Kantor BPS, Jakarta, Senin (5/5/2025).
Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh lapangan usaha lain seperti industri pengolahan yang menyumbang 0,93 persen, perdagangan 0,66 persen, serta informasi dan komunikasi 0,53 persen. Sementara itu, 1,64 persen sisanya disumbang dari sektor lapangan usaha lain.
Lonjakan pertumbuhan sektor pertanian ini, menurut Winny, disebabkan oleh suksesnya panen raya serta peningkatan permintaan domestik di kuartal I-2025.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengakui lonjakan sektor pertanian yang tidak biasa ini. Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Nathan Kacaribu menyebutkan bahwa meroketnya sektor pertanian ini adalah berkat gebrakan reformasi regulasi yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto, yang memangkas 145 peraturan di sektor pertanian menjadi hanya satu Peraturan Presiden (Perpres).
"Pertumbuhan ekonomi 4,87 persen dan nampaknya menekankan itu sektor-sektor yang langsung terkena ancaman global. Tetapi yang sangat menarik dan harusnya ini sering kita bahas, sektor pertanian tumbuh mencapai 10,45 persen, sepanjang sejarah belum pernah," ujar Febrio dalam diskusi, dikutip MNC Portal, Senin (30/6/2025).
Febrio menegaskan bahwa pertumbuhan 10,45 persen di sektor pertanian ini merupakan yang pertama kali terjadi sepanjang sejarah berdirinya Republik Indonesia. Angka ini sangat kontras dengan kondisi sektor pertanian sebelumnya yang seringkali tumbuh rendah, bahkan negatif, yang memaksa Indonesia melakukan impor beras dan jagung.
"Bahkan kalau lihat 10 tahun terakhir bukan hanya tumbuhnya rendah tumbuhnya selalu negatif, makanya sering kita impor beras, impor jagung," kata Febrio.
Pencapaian tersebut, lanjutnya, tidak lepas dari langkah reformasi regulasi yang dilakukan oleh Presiden Prabowo, khususnya terkait penyaluran pupuk.
“Apa yang terjadi pada triwulan I-2025, banyak sekali peraturan tentang penyaluran pupuk, 145 peraturan dipotong, ditebas habis jadi satu Perpres,” tutur alumni SMA Taruna Nusantara itu.
Penyederhanaan aturan tersebut, menurut Febrio, berdampak positif terhadap sektor pertanian dan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas serta dampak berkelanjutan bagi ketahanan pangan dan ekonomi nasional.
"Bayangkan dulu kalau mau melakukan penyaluran pupuk itu kita butuh waktu hampir satu semester urus distribusi saja. Karena apa aturannya panjang sekali dari pemerintah pusat, provinsi, turun lagi ke kabupaten, kelurahan dan baru sampai ke petani," tegas mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu itu.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat adanya kontribusi besar dari sektor pertanian dalam menopang pertumbuhan ekonomi triwulan I-2025 sebesar 4,87 persen secara tahunan. Peran sektor pertanian ini sungguh di luar dugaan di tengah melemahnya konsumsi.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan bahwa dari sisi produksi, lapangan usaha pertanian mencatatkan pertumbuhan tertinggi, yaitu sebesar 1,11 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi.
"Jika dilihat dari sumber pertumbuhan pada kuartal I-2025, lapangan usaha pertanian menjadi sumber pertumbuhan terbesar, yaitu sebesar 1,11 persen," kata Amalia, yang akrab disapa Winny, di Kantor BPS, Jakarta, Senin (5/5/2025).
Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh lapangan usaha lain seperti industri pengolahan yang menyumbang 0,93 persen, perdagangan 0,66 persen, serta informasi dan komunikasi 0,53 persen. Sementara itu, 1,64 persen sisanya disumbang dari sektor lapangan usaha lain.
Lonjakan pertumbuhan sektor pertanian ini, menurut Winny, disebabkan oleh suksesnya panen raya serta peningkatan permintaan domestik di kuartal I-2025.
(unt)
Lihat Juga :