Mengenal Scandinasian, Gaya Desain Hunian Masa yang Kini Diminati di Bali
Senin, 07 Juli 2025 - 09:53 WIB
loading...
A
A
A
Amanda Gunawan, Founding Partner OWIU Studio yang berbasis di Los Angeles, mengamati bahwa fleksibilitas desain Skandinavia membuatnya sangat cocok untuk dipadupadankan. Desain ini menggabungkan fungsi dan keindahan, serta selalu berusaha menciptakan harmoni dalam sebuah ruang. ”Gaya Skandinavia mengutamakan desain yang tahan lama dan tidak mudah ketinggalan zaman, serta menekankan pada kualitas pengerjaan yang baik," terangnya.
Keberlanjutan tercapai secara alami melalui standar durabilitas Skandinavia dan desain yang sadar energi. Dikombinasikan dengan strategi ventilasi alami, rumah-rumah ini hanya memerlukan sedikit pendingin udara buatan, namun tetap menjaga interior yang nyaman dan terang. Pendekatan ini menggunakan keterampilan pengrajin lokal yang menghasilkan karya kontemporer, di mana teknik tradisional membuahkan produk berkualitas modern.
Tren ini mencerminkan sesuatu yang mendalam tentang bagaimana pembeli properti internasional memaknai kualitas hidup saat ini. Mereka menginginkan ruang yang terasa elegan sekaligus nyaman, mengesankan namun tetap layak huni. Perpaduan kehangatan ala Skandinavia, kesadaran ala Jepang, dan harmoni khas Bali menciptakan hunian yang cocok untuk semua orang. Baca juga: 5 Miliarder Perempuan Terkaya di Dunia dari Properti, Paling Tajir Rp210,7 Triliun
Itu sebabnya estetika ini begitu kuat pengaruhnya di lanskap multikultural Bali. Ketika orang Australia, Eropa, Amerika, dan Asia sama-sama mengapresiasi prinsip desain yang sama, berarti Anda telah menemukan sesuatu yang bersifat universal.
CORE Concept Living, perusahaan pengembang yang didirikan oleh duo asal Swedia Shanny Poijes dan Victoria Fernandez, mengkhususkan diri pada pendekatan bergaya Scandinasian ini. Proyek terbaru mereka, Leviro Residences di Munggu, mewakili konsep hunian Scandinavian X Japandi X Balinese Soul.
Bahkan menjadi proyek properti pertama yang menggunakan konsep desain unik ini di Bali. Menurut rencana, proyek ini akan diluncurkan pada Oktober 2025, di mana pembangunan dimulai pada Desember 2025 dan rencana serah terima unit pada kuartal keempat 2027.
Keberlanjutan tercapai secara alami melalui standar durabilitas Skandinavia dan desain yang sadar energi. Dikombinasikan dengan strategi ventilasi alami, rumah-rumah ini hanya memerlukan sedikit pendingin udara buatan, namun tetap menjaga interior yang nyaman dan terang. Pendekatan ini menggunakan keterampilan pengrajin lokal yang menghasilkan karya kontemporer, di mana teknik tradisional membuahkan produk berkualitas modern.
Tren ini mencerminkan sesuatu yang mendalam tentang bagaimana pembeli properti internasional memaknai kualitas hidup saat ini. Mereka menginginkan ruang yang terasa elegan sekaligus nyaman, mengesankan namun tetap layak huni. Perpaduan kehangatan ala Skandinavia, kesadaran ala Jepang, dan harmoni khas Bali menciptakan hunian yang cocok untuk semua orang. Baca juga: 5 Miliarder Perempuan Terkaya di Dunia dari Properti, Paling Tajir Rp210,7 Triliun
Itu sebabnya estetika ini begitu kuat pengaruhnya di lanskap multikultural Bali. Ketika orang Australia, Eropa, Amerika, dan Asia sama-sama mengapresiasi prinsip desain yang sama, berarti Anda telah menemukan sesuatu yang bersifat universal.
CORE Concept Living, perusahaan pengembang yang didirikan oleh duo asal Swedia Shanny Poijes dan Victoria Fernandez, mengkhususkan diri pada pendekatan bergaya Scandinasian ini. Proyek terbaru mereka, Leviro Residences di Munggu, mewakili konsep hunian Scandinavian X Japandi X Balinese Soul.
Bahkan menjadi proyek properti pertama yang menggunakan konsep desain unik ini di Bali. Menurut rencana, proyek ini akan diluncurkan pada Oktober 2025, di mana pembangunan dimulai pada Desember 2025 dan rencana serah terima unit pada kuartal keempat 2027.
(poe)
Lihat Juga :