LPEI Salurkan Pembiayaan Ekspor Melalui Skema PKE Rp26 Triliun hingga Juni 2025

Kamis, 10 Juli 2025 - 16:26 WIB
loading...
LPEI Salurkan Pembiayaan...
LPEI atau Indonesia Eximbank melaporkan pembiayaan ekspor melalui skema Penugasan Khusus Ekspor (PKE). FOTO/dok.SindoNews
A A A
LABUAN BAJO - Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank mencatat telah menyalurkan pembiayaan ekspor senilai lebih dari Rp26 triliun melalui skema Penugasan Khusus Ekspor (PKE) hingga akhir Juni 2025. Pembiayaan tersebut mendukung ekspor ke lebih dari 90 negara tujuan dan berhasil menciptakan devisa negara senilai Rp66,3 triliun.

Pelaksana Tugas Direktur Pelaksana Pengembangan Bisnis LPEI, Maqin U. Norhadi, menjelaskan bahwa skema PKE difokuskan untuk mendukung komoditas unggulan Indonesia yang berdaya saing di pasar global, mulai dari pesawat terbang, kereta api, vaksin, alat kesehatan, furnitur, makanan olahan, hingga produk kimia.

"Total penyaluran sudah lebih dari Rp26 triliun ke lebih dari 90 negara dan menciptakan devisa negara sebesar Rp66,3 triliun," ujar Maqin dalam media briefing di Labuan Bajo, Kamis (10/7).

Baca Juga: Lewat Pemberdayaan BRI, Couplepreneur Ini Bawa Kerajinan Craftote Tembus Ekspor ke Asia dan Amerika

Selain menyasar negara utama seperti Amerika Serikat, China, dan kawasan Eropa Barat, LPEI juga mendorong ekspansi ekspor ke pasar nontradisional seperti Afrika, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Eropa Timur. Salah satu proyek yang menjadi sorotan adalah dukungan pembiayaan ekspor untuk Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Labuan Bajo.

Pembiayaan untuk DPSP Labuan Bajo dilakukan melalui skema blended financing secara sindikasi dengan perbankan. Total pembiayaan mencapai lebih dari Rp1 triliun. Berdasarkan kajian InterCAFE Institut Pertanian Bogor, program ini mendorong peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar Rp437,3 miliar, menyerap 6.536 tenaga kerja, dan meningkatkan pendapatan rumah tangga hingga Rp1,48 triliun.

Sebagai Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan, LPEI mengemban mandat berdasarkan Undang-Undang No. 2 Tahun 2009 untuk mendukung daya saing ekspor melalui pembiayaan, penjaminan, asuransi, dan jasa konsultasi. Skema PKE sendiri ditujukan untuk transaksi atau proyek yang secara komersial sulit dibiayai, namun penting bagi kebijakan ekspor nasional.

Direktur Pengelolaan Risiko Keuangan Negara, DJPPR Kementerian Keuangan, Tony Prianto, menjelaskan bahwa PKE merupakan instrumen APBN untuk meningkatkan jumlah dan kapasitas eksportir, memperluas pasar ekspor, serta memperkuat daya saing produk nasional. Melalui Keputusan Menteri Keuangan No. 272/2022, program PKE juga diarahkan untuk mendukung infrastruktur pariwisata di Labuan Bajo, termasuk pengembangan marina dan sarana pendukung lainnya.

"Ini adalah investasi jangka panjang yang tak hanya menciptakan devisa, tapi juga memperluas potensi ekspor seperti tenun khas NTT," ujar Tony.

Baca Juga: Kolaborasi KB Bank dan LPEI untuk Pembiayaan Ekspor Nasional

Dengan dukungan Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp13,7 triliun, LPEI mampu menjalankan program PKE secara berkelanjutan. Menurut Maqin, skema ini tidak hanya soal pembiayaan, tetapi juga menciptakan dampak nyata bagi masyarakat dan ekonomi lokal.

"Labuan Bajo kami dorong menjadi contoh bagaimana pariwisata bisa tumbuh inklusif dan berkelanjutan. Dukungan PKE adalah bukti kehadiran negara mendorong ekosistem ekspor yang berdampak luas," tambah Maqin.

Di tingkat daerah, khususnya Kabupaten Manggarai Barat, program PKE berdampak pada peningkatan jumlah penduduk bekerja hingga 17.332 orang, penurunan pengangguran sebesar 663 orang, serta penurunan angka kemiskinan menjadi 16,74 persen.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dampak Pembiayaan PNM...
Dampak Pembiayaan PNM Diakui, Kini Melayani 23 Juta Nasabah Perempuan Prasejahtera
Perkuat Ekonomi Rakyat,...
Perkuat Ekonomi Rakyat, BSI Apresiasi Penempatan SAL untuk Pembiayaan Produktif
Indonesia Buka Peluang...
Indonesia Buka Peluang Ekspor 10.000 Ton Beras ke Singapura
Panaskan Mesin Ekonomi,...
Panaskan Mesin Ekonomi, Purbaya Tawarkan Bunga Kredit 4% untuk UKM Eksportir
Jalur Hormuz Mulai Stabil,...
Jalur Hormuz Mulai Stabil, Saudi Aramco Kembali Ekspor Minyak setelah Mandek 4 Bulan
MEKAR Kembangkan Ekosistem...
MEKAR Kembangkan Ekosistem Pembiayaan Produktif
Studi: Surplus Ekspor...
Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang
Pengamat: Dugaan Manipulasi...
Pengamat: Dugaan Manipulasi Ekspor Minyak Sawit Harus Diusut demi Kepastian Hukum
Membangun Ekonomi Jabar...
Membangun Ekonomi Jabar dari Rumah: Sinergi Baru untuk Pembiayaan Hunian yang Lebih Inklusif
Rekomendasi
Tepis Isu Pecah Kongsi...
Tepis Isu Pecah Kongsi dengan Dokter Tifa, Roy Suryo: Saling Membersamai
Mencicipi Lima Abad...
Mencicipi Lima Abad Jakarta dari Meja Makan, Warisan Kuliner Peranakan di Kota Tua
GSDC 2026 di ICE BSD...
GSDC 2026 di ICE BSD Perkuat Posisi Indonesia dalam Industri MICE Berkelanjutan
Berita Terkini
Apes, Uni Eropa Terancam...
Apes, Uni Eropa Terancam Kehilangan Pasokan Gas AS usai Tinggalkan Rusia
Dampak Pembiayaan PNM...
Dampak Pembiayaan PNM Diakui, Kini Melayani 23 Juta Nasabah Perempuan Prasejahtera
Investasi Hijau, Pertamina...
Investasi Hijau, Pertamina Port & Logistics Tanam 600 Mangrove di Balikpapan
Belanja Puas, Dompet...
Belanja Puas, Dompet Aman dengan Promo Spesial Blibli BRIDAY
Jatuhkan Denda ke 97...
Jatuhkan Denda ke 97 Pindar, Putusan KPPU Dinilai Tidak Sah
Hadir di CEO Talks Unand,...
Hadir di CEO Talks Unand, Pegadaian Ajak Generasi Muda Melek Investasi Sejak Dini
Infografis
8 Kebijakan Baru Pemerintah...
8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global! WFH hingga MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved