Kadin Gelar Seminar Cyber Security Digital Defense, Ajak Pelaku Usaha Tingkatkan Keamanan Siber
Jum'at, 18 Juli 2025 - 19:42 WIB
loading...
Kadin Indonesia Gelar Seminar Cybersecurity dengan Tema: Digital Defense: Waspada Siber, Lindungi Usaha. FOTO/Arif Julianto
A
A
A
JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyelenggarakan seminar bertema "Digital Defense: Waspada Siber, Lindungi Usaha" di Menara Kadin, Jakarta Selatan pada Kamis (17/7). Seminar yang diinisiasi oleh Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Komunikasi dan Digital Kadin Indonesia, Clarissa Tanoesoedibjo ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dunia usaha terhadap pentingnya keamanan siber.
Clarissa menekankan, keamanan siber kini menjadi aspek penting dalam keberlangsungan bisnis. Menurutnya, perkembangan teknologi yang semakin pesat tidak hanya membawa manfaat, namun juga membuka celah baru yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.
"Keamanan siber bukan lagi isu teknis semata, melainkan bagian penting dari strategi keberlanjutan bisnis di era digital," ujar dia melalui pernyataan resmi, Jumat (18/7).
Baca Juga: Kadin dan Sarawak Malaysia Dorong Kolaborasi Pengembangan Energi Terbarukan hingga Sport Tourism
Clarissa menjelaskan kerja sama lintas sektor menjadi kunci untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapan dunia usaha dalam menghadapi berbagai potensi serangan siber.
"Melalui kolaborasi dengan BSSN dan para praktisi, kami berharap para anggota Kadin dapat memahami risiko nyata di ranah digital, serta mulai menerapkan langkah-langkah perlindungan yang konkret di lingkup usahanya masing-masing," jelasnya.
Sementara, Ketua Komite Tetap Bidang Pengembangan Infrastruktur Digital Kadin Indonesia Rio Anugrah menggarisbawahi bahwa serangan siber kini semakin kompleks dan tidak bisa diremehkan. Ia mencontohkan pengalamannya menghadapi insiden keamanan siber. Salah satunya adalah kasus OTP brute force yang sempat dianggap sepele, tetapi terbukti cukup berbahaya jika tidak ditangani serius.
"Ancaman siber sekarang luar biasa. Bahkan hal-hal yang awalnya tampak tidak berbahaya bisa berdampak besar. Dengan meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan, kita bisa mengatasi isu-isu seperti itu," ujar Rio.
Baca Juga: Eksistensi E-Commerce dan Kinerja Inflasi
Rio juga menyinggung peran AI yang saat ini bagai pedang bermata dua. Di satu sisi, AI membantu efisiensi operasional, namun di sisi lain, AI juga digunakan oleh peretas untuk melancarkan serangan yang lebih canggih.
"Jadi AI itu di satu sisi memang sangat membantu, di sisi lain juga menjadi ancaman. Maka dari itu kita berharap supaya kita bisa sejalan antara tantangan cyber dan juga penerapan AI yang bisa mengatasi isi-isi yang terjadi karena ancaman security," papar Rio.
Senada dengan Rio, Wakil Ketua Komite Tetap Penerapan AI dan Pelindungan Data Pribadi Kadin Indonesia Eryk Budi Pratama menekankan bahwa peretas kini sudah meninggalkan metode tradisional dan mulai memanfaatkan AI untuk menyerang sistem keamanan digital. Hal ini menuntut pelaku usaha dan organisasi untuk memahami bahwa AI harus dilawan dengan AI.
"Faktor manusia adalah tameng utama dari serangan siber. Bahkan dalam etika AI pun, manusia memegang peranan penting dalam menentukan bagaimana AI belajar dan bertindak," ungkap Eryk.
Eryk juga menambahkan pentingnya menguji sistem AI untuk mencegah bias dan halusinasi data, serta memastikan seluruh organisasi mematuhi regulasi Perlindungan Data Pribadi (PDP) sebagai fondasi dalam mengembangkan AI secara etis dan aman. Dari sisi pemerintah, Deputi BSSN Slamet Aji Pamungkas mengapresiasi inisiatif Kadin dalam menyelenggarakan seminar ini.
Ia menyebut kegiatan tersebut relevan dengan agenda percepatan transformasi digital nasional yang sejatinya juga meningkatkan potensi gangguan siber. "Saya harap acara ini menjadi langkah awal dari kolaborasi jangka panjang antara BSSN dan Kadin untuk menjaga keamanan digital Indonesia, khususnya di sektor ekonomi digital," ujar Slamet.
Lebih lanjut, CEO Cybermate Rifky Reinaldo menyoroti pentingnya pendekatan berbasis manusia dalam menangani keamanan siber. Ia menekankan bahwa mayoritas kasus pelanggaran siber masih bersumber dari kesalahan manusia.
"Kasus seperti deep fake, pemalsuan suara, phishing, hingga pencurian identitas umumnya berakar dari kelengahan manusia. Oleh karena itu, pendekatan kami di Cybermate berfokus pada edukasi dan kesadaran individu," tandasnya.
Clarissa menekankan, keamanan siber kini menjadi aspek penting dalam keberlangsungan bisnis. Menurutnya, perkembangan teknologi yang semakin pesat tidak hanya membawa manfaat, namun juga membuka celah baru yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.
"Keamanan siber bukan lagi isu teknis semata, melainkan bagian penting dari strategi keberlanjutan bisnis di era digital," ujar dia melalui pernyataan resmi, Jumat (18/7).
Baca Juga: Kadin dan Sarawak Malaysia Dorong Kolaborasi Pengembangan Energi Terbarukan hingga Sport Tourism
Clarissa menjelaskan kerja sama lintas sektor menjadi kunci untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapan dunia usaha dalam menghadapi berbagai potensi serangan siber.
"Melalui kolaborasi dengan BSSN dan para praktisi, kami berharap para anggota Kadin dapat memahami risiko nyata di ranah digital, serta mulai menerapkan langkah-langkah perlindungan yang konkret di lingkup usahanya masing-masing," jelasnya.
Sementara, Ketua Komite Tetap Bidang Pengembangan Infrastruktur Digital Kadin Indonesia Rio Anugrah menggarisbawahi bahwa serangan siber kini semakin kompleks dan tidak bisa diremehkan. Ia mencontohkan pengalamannya menghadapi insiden keamanan siber. Salah satunya adalah kasus OTP brute force yang sempat dianggap sepele, tetapi terbukti cukup berbahaya jika tidak ditangani serius.
"Ancaman siber sekarang luar biasa. Bahkan hal-hal yang awalnya tampak tidak berbahaya bisa berdampak besar. Dengan meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan, kita bisa mengatasi isu-isu seperti itu," ujar Rio.
Baca Juga: Eksistensi E-Commerce dan Kinerja Inflasi
Rio juga menyinggung peran AI yang saat ini bagai pedang bermata dua. Di satu sisi, AI membantu efisiensi operasional, namun di sisi lain, AI juga digunakan oleh peretas untuk melancarkan serangan yang lebih canggih.
"Jadi AI itu di satu sisi memang sangat membantu, di sisi lain juga menjadi ancaman. Maka dari itu kita berharap supaya kita bisa sejalan antara tantangan cyber dan juga penerapan AI yang bisa mengatasi isi-isi yang terjadi karena ancaman security," papar Rio.
Senada dengan Rio, Wakil Ketua Komite Tetap Penerapan AI dan Pelindungan Data Pribadi Kadin Indonesia Eryk Budi Pratama menekankan bahwa peretas kini sudah meninggalkan metode tradisional dan mulai memanfaatkan AI untuk menyerang sistem keamanan digital. Hal ini menuntut pelaku usaha dan organisasi untuk memahami bahwa AI harus dilawan dengan AI.
"Faktor manusia adalah tameng utama dari serangan siber. Bahkan dalam etika AI pun, manusia memegang peranan penting dalam menentukan bagaimana AI belajar dan bertindak," ungkap Eryk.
Eryk juga menambahkan pentingnya menguji sistem AI untuk mencegah bias dan halusinasi data, serta memastikan seluruh organisasi mematuhi regulasi Perlindungan Data Pribadi (PDP) sebagai fondasi dalam mengembangkan AI secara etis dan aman. Dari sisi pemerintah, Deputi BSSN Slamet Aji Pamungkas mengapresiasi inisiatif Kadin dalam menyelenggarakan seminar ini.
Ia menyebut kegiatan tersebut relevan dengan agenda percepatan transformasi digital nasional yang sejatinya juga meningkatkan potensi gangguan siber. "Saya harap acara ini menjadi langkah awal dari kolaborasi jangka panjang antara BSSN dan Kadin untuk menjaga keamanan digital Indonesia, khususnya di sektor ekonomi digital," ujar Slamet.
Lebih lanjut, CEO Cybermate Rifky Reinaldo menyoroti pentingnya pendekatan berbasis manusia dalam menangani keamanan siber. Ia menekankan bahwa mayoritas kasus pelanggaran siber masih bersumber dari kesalahan manusia.
"Kasus seperti deep fake, pemalsuan suara, phishing, hingga pencurian identitas umumnya berakar dari kelengahan manusia. Oleh karena itu, pendekatan kami di Cybermate berfokus pada edukasi dan kesadaran individu," tandasnya.
(nng)
Lihat Juga :