Indonesia Siap Jadi Pusat Energi Bersih di Asia Tenggara
Jum'at, 25 Juli 2025 - 22:30 WIB
loading...
The 12th IndoEBTKE ConEx 2025 akan kembali digelar. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Indonesia memiliki fondasi yang kokoh untuk menjadi pemimpin kawasan dalam transisi energi bersih. Dengan potensi sumber daya alam melimpah dan posisi strategis sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia siap mendorong dekarbonisasi regional dan mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.
Potensi energi terbarukan Indonesia terbilang luar biasa. Sekitar 40 persen cadangan panas bumi dunia berada di Indonesia, disusul dengan potensi energi surya sebesar 3.286 GW, angin 155 GW, hidroelektrik 95 GW, bioenergi 57 GW, serta energi laut 20 GW. Selain itu, Indonesia menguasai 42 persen cadangan nikel global sebagai komoditas kunci dalam produksi baterai dan sistem penyimpanan energi.
Baca Juga: Dorong Energi Hijau, Pertamina NRE Akuisisi 20% Saham Perusahaan EBT Filipina
Keunggulan geografis dan geopolitik Indonesia di kawasan ASEAN juga memberi nilai tambah sebagai penghubung strategis perdagangan energi bersih antarnegara. Hal ini menjadikan Indonesia tidak hanya sebagai pasar, tetapi juga sebagai pusat pengembangan energi bersih regional.
Komitmen tersebut kembali ditegaskan melalui penyelenggaraan The 12th IndoEBTKE ConEx 2025, konferensi energi terbarukan dan konservasi energi terbesar di Asia Tenggara. Acara ini akan digelar pada 26–28 November 2025 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, oleh METI dan MASKEEI, dengan dukungan lima asosiasi energi lainnya.
Mengusung tema “Positioning Indonesia as a Regional Green Powerhouse to Support Indonesia Emas 2045,” forum ini bukan sekadar tempat berbagi pengetahuan, tetapi juga ajang membangun kemitraan strategis lintas sektor dan lintas negara dalam mendorong pertumbuhan hijau.
"Melalui IndoEBTKE ConEx 2025, kami mendorong sinergi antara sektor publik, swasta nasional, dan mitra internasional untuk membangun ekosistem energi bersih yang inklusif dan terkoneksi global," kata Widi Pancono, Ketua III METI dalam keterangannya, Jumat (25/7).
Baca Juga: 55 Pembangkit Energi Baru Terbarukan Menelan Nilai Investasi Rp25 Triliun, Tersebar di 15 Daerah
Ketua Umum MASKEEI, Andhika Prastawa, menambahkan, acara ini bertujuan menumbuhkan kesadaran publik terhadap konservasi energi, serta mendukung agenda transisi energi berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
Panitia pelaksana, Mada Ayu Habsari, menyatakan tahun ini IndoEBTKE ConEx akan dikemas sebagai Indonesia Clean Energy Week dengan pendekatan terbuka dan kolaboratif. Sebagai pra-acara, diskusi FGD telah digelar pada 24 Juli bersama Boston Consulting Group (BCG) sebagai knowledge partner.
FGD ini berhasil mempertemukan pemangku kepentingan dari berbagai sektor, mulai dari pelaku industri energi tradisional dan energi baru, hingga investor dan pembuat kebijakan. Diskusi berfokus pada empat area strategis: hasil konkret dari konferensi, peran sektor swasta dalam mendukung RUPTL hijau, peluang regional di ASEAN, serta identifikasi hambatan dan strategi pengatasannya.
Ketua Komite IndoEBTKE ConEx 2025, Eka Satria, menyampaikan, konferensi ini akan menjadi wadah penetapan roadmap energi bersih Indonesia, tempat berbagai komitmen diumumkan, kolaborasi dibentuk, dan inovasi ditampilkan. “Kami ingin memastikan forum ini memberi dampak nyata dalam percepatan transisi energi nasional,” ujarnya.
Potensi energi terbarukan Indonesia terbilang luar biasa. Sekitar 40 persen cadangan panas bumi dunia berada di Indonesia, disusul dengan potensi energi surya sebesar 3.286 GW, angin 155 GW, hidroelektrik 95 GW, bioenergi 57 GW, serta energi laut 20 GW. Selain itu, Indonesia menguasai 42 persen cadangan nikel global sebagai komoditas kunci dalam produksi baterai dan sistem penyimpanan energi.
Baca Juga: Dorong Energi Hijau, Pertamina NRE Akuisisi 20% Saham Perusahaan EBT Filipina
Keunggulan geografis dan geopolitik Indonesia di kawasan ASEAN juga memberi nilai tambah sebagai penghubung strategis perdagangan energi bersih antarnegara. Hal ini menjadikan Indonesia tidak hanya sebagai pasar, tetapi juga sebagai pusat pengembangan energi bersih regional.
Komitmen tersebut kembali ditegaskan melalui penyelenggaraan The 12th IndoEBTKE ConEx 2025, konferensi energi terbarukan dan konservasi energi terbesar di Asia Tenggara. Acara ini akan digelar pada 26–28 November 2025 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, oleh METI dan MASKEEI, dengan dukungan lima asosiasi energi lainnya.
Mengusung tema “Positioning Indonesia as a Regional Green Powerhouse to Support Indonesia Emas 2045,” forum ini bukan sekadar tempat berbagi pengetahuan, tetapi juga ajang membangun kemitraan strategis lintas sektor dan lintas negara dalam mendorong pertumbuhan hijau.
"Melalui IndoEBTKE ConEx 2025, kami mendorong sinergi antara sektor publik, swasta nasional, dan mitra internasional untuk membangun ekosistem energi bersih yang inklusif dan terkoneksi global," kata Widi Pancono, Ketua III METI dalam keterangannya, Jumat (25/7).
Baca Juga: 55 Pembangkit Energi Baru Terbarukan Menelan Nilai Investasi Rp25 Triliun, Tersebar di 15 Daerah
Ketua Umum MASKEEI, Andhika Prastawa, menambahkan, acara ini bertujuan menumbuhkan kesadaran publik terhadap konservasi energi, serta mendukung agenda transisi energi berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
Panitia pelaksana, Mada Ayu Habsari, menyatakan tahun ini IndoEBTKE ConEx akan dikemas sebagai Indonesia Clean Energy Week dengan pendekatan terbuka dan kolaboratif. Sebagai pra-acara, diskusi FGD telah digelar pada 24 Juli bersama Boston Consulting Group (BCG) sebagai knowledge partner.
FGD ini berhasil mempertemukan pemangku kepentingan dari berbagai sektor, mulai dari pelaku industri energi tradisional dan energi baru, hingga investor dan pembuat kebijakan. Diskusi berfokus pada empat area strategis: hasil konkret dari konferensi, peran sektor swasta dalam mendukung RUPTL hijau, peluang regional di ASEAN, serta identifikasi hambatan dan strategi pengatasannya.
Ketua Komite IndoEBTKE ConEx 2025, Eka Satria, menyampaikan, konferensi ini akan menjadi wadah penetapan roadmap energi bersih Indonesia, tempat berbagai komitmen diumumkan, kolaborasi dibentuk, dan inovasi ditampilkan. “Kami ingin memastikan forum ini memberi dampak nyata dalam percepatan transisi energi nasional,” ujarnya.
(nng)
Lihat Juga :