Pertemuan Trump-Zelenskiy Didihkan Harga Minyak, India Didesak Hentikan Impor dari Rusia

Selasa, 19 Agustus 2025 - 15:45 WIB
loading...
Pertemuan Trump-Zelenskiy...
Sebuah flare membakar gas alam yang berlebih di Basin Permian di Loving County, Texas, AS. 23 November 2019. FOTO/Reuters
A A A
JAKARTA - Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Senin (19/8) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy di Washington. Pertemuan tersebut berlangsung usai kegagalan perundingan AS-Rusia di Alaska akhir pekan lalu.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 75 sen atau 1,14% menjadi USD66,60 per barel. Sementara, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat 62 sen atau 0,99% dan ditutup di level USD63,42 per barel.

Penguatan harga minyak tersebut menutup pelemahan pada pekan sebelumnya, ketika Brent turun 1,1% dan WTI terkoreksi 1,7%. Analis menilai, pertemuan Trump dan Zelenskiy memberi sinyal politik yang kembali menghidupkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global. Kedua pemimpin membahas peluang kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik bersenjata di Ukraina, yang disebut sebagai perang paling mematikan di Eropa dalam delapan dekade terakhir.

Investor mencermati potensi dampak dari dinamika politik tersebut terhadap aliran pasokan minyak global. Perkembangan baru itu dapat mendorong pengetatan sanksi maupun membuka peluang rekonsiliasi yang berimplikasi pada harga energi.

Analis komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, menilai pasar belum sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan "dividen perdamaian". "Tercapainya kesepakatan damai bisa menekan harga minyak dan gas di Eropa lebih lanjut," kata dia dikutip dari CNBC, Selasa (19/8).

Baca Juga: Trump dan Putin Bertemu di Alaska Hari Ini, Harga Minyak Mendidih ke Level Tertinggi dalam Sepekan

Namun, Trump menegaskan kepada Ukraina agar melupakan ambisi merebut kembali Krimea yang telah dianeksasi Rusia maupun bergabung dengan NATO. Ia menegaskan lebih sejalan dengan Moskow dalam mencari kesepakatan damai daripada gencatan senjata sementara.

Sikap tersebut dinilai sejalan dengan hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Alaska yang berakhir tanpa kesepakatan konkret. Trump disebut meninggalkan perundingan dengan pandangan yang kian mendekat pada posisi Presiden Rusia Vladimir Putin.

Di sisi lain, penasihat Gedung Putih Peter Navarro menyoroti pembelian minyak mentah Rusia oleh India. Menurutnya, transaksi tersebut secara tidak langsung membiayai perang Moskow di Ukraina dan harus dihentikan segera.

"India kini berperan sebagai pusat kliring global minyak Rusia, mengubah minyak yang diembargo menjadi ekspor bernilai tinggi sekaligus memberi Moskow aliran USD yang vital," kata Navarro.

Baca Juga: Presiden Zelensky Pilih Jaminan Keamanan untuk Ukraina

Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran baru di pasar minyak terkait potensi gangguan pasokan. Analis SEB, Ole Hvalbye, menilai komentar tajam pejabat AS itu justru mendorong minat beli di pasar energi. Sementara, analis Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menambahkan kombinasi antara sikap keras AS terhadap impor minyak Rusia oleh India dan penundaan pembicaraan perdagangan telah kembali menyoroti risiko energi sebagai sandera gesekan geopolitik dan diplomatik, meski peluang perdamaian di Ukraina semakin terbuka.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Siap-siap Banjir Pasokan...
Siap-siap Banjir Pasokan Minyak Dunia, Morgan Stanley Koreksi Harga Brent di Angka USD75/Barel
Donald Trump Raup Rp25...
Donald Trump Raup Rp25 Triliun dari Bisnis Kripto, Lampaui Pendapatan Properti yang Dibangun Puluhan Tahun
Apes, Uni Eropa Terancam...
Apes, Uni Eropa Terancam Kehilangan Pasokan Gas AS usai Tinggalkan Rusia
Malaysia Prediksi Gejolak...
Malaysia Prediksi Gejolak Harga Energi Berlanjut Dua Tahun ke Depan
AS-Iran Kembali Saling...
AS-Iran Kembali Saling Balas Serangan, Harga Minyak Langsung Mendidih
Harga Minyak Kembali...
Harga Minyak Kembali ke Level Sebelum Perang, Mengapa Bensin Tak Ikut Turun?
Paksa Rusia Mengakhiri...
Paksa Rusia Mengakhiri Perang, Ukraina Intensifkan Serangan Drone ke Moskow
Siapkan Kemenangan pada...
Siapkan Kemenangan pada Pemilu Pertengahan, Trump Gelar Konvensi Partai Republik
Kesepakatan MiG untuk...
Kesepakatan MiG untuk Drone antara Polandia dan Drone Ukraina Batal, Ini Pemicu Utamanya
Rekomendasi
XPENG V1SION Night 2026,...
XPENG V1SION Night 2026, Tandai Babak Baru XPENG di Indonesia
Perkuat Kualitas Informasi,...
Perkuat Kualitas Informasi, Pegadaian Berkomitmen Tingkatkan Kompetensi Ratusan Jurnalis
Hadapi Pemilu 2029,...
Hadapi Pemilu 2029, DPC PPP Lebak Bidik Gen Z lewat Strategi Kreatif dan Inklusif
Berita Terkini
Pertaruhan Masa Depan...
Pertaruhan Masa Depan Ketahanan Energi, Komut Pertamina Cek Keandalan GRR Tuban
Seret, Penerimaan Pajak...
Seret, Penerimaan Pajak hingga Akhir Juni 2026 Belum Menyentuh Separuh Target APBN
Lesca Gadai Premier...
Lesca Gadai Premier Tawarkan Likuiditas Cepat dan Privat bagi Pelaku Bisnis
Pertamina dan Pupuk...
Pertamina dan Pupuk Indonesia Jajaki Kolaborasi Strategis untuk Perkuat Ketahanan Energi dan Pangan Nasional
AQUA Masih Dominasi...
AQUA Masih Dominasi Penjualan Air Mineral di Berbagai Kota Besar
Siap-siap Banjir Pasokan...
Siap-siap Banjir Pasokan Minyak Dunia, Morgan Stanley Koreksi Harga Brent di Angka USD75/Barel
Infografis
Hindari Tarif Trump,...
Hindari Tarif Trump, Apple Terbangkan 1,5 Juta iPhone dari India
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved