Kinerja Kredit Melempem, Sinyal Ekonomi Indonesia Masih Lesu
Sabtu, 23 Agustus 2025 - 19:23 WIB
loading...
Lemahnya penyaluran kredit menunjukkan menurunnya permintaan pembiayaan dari dunia usaha. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat adanya perlambatan pertumbuhan kredit pada Juli 2025, yang hanya tumbuh 7,03 persen secara year-on-year (yoy). Perlambatan ini terjadi di seluruh segmen, mulai dari usaha mikro hingga industri.
Pengamat Perbankan & Praktisi Sistem Pembayaran, Arianto Muditomo menilai kondisi ini menjadi sinyal adanya perlambatan aktivitas ekonomi secara menyeluruh.
Baca Juga: Pertumbuhan Kredit Melambat, Tanda Perekonomian Belum Pulih?
Menurut Arianto, lemahnya penyaluran kredit menunjukkan menurunnya permintaan pembiayaan dari dunia usaha dan rumah tangga. Hal ini bisa disebabkan oleh daya beli yang lesu, investasi yang tertahan, atau kehati-hatian pelaku usaha dalam menghadapi ketidakpastian.
"Artinya, mesin pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi maupun investasi tidak bekerja optimal, sehingga berpotensi menekan pertumbuhan PDB dalam beberapa kuartal mendatang," jelas Arianto kepada SindoNews, Sabtu (23/8).
Arianto menjelaskan bagi sektor perbankan, perlambatan kredit menunjukkan fungsi intermediasi yang tidak berjalan maksimal. Bank menjadi sulit menyalurkan dana pihak ketiga (DPK) ke sektor produktif, yang berpotensi menekan margin bunga bersih (NIM).
Baca Juga: Prabowo Pamer Ekonomi RI Tumbuh 5,12%, Serap 1,2 Juta Lapangan Kerja
Jika tren ini berlanjut, bank akan semakin bergantung pada pendapatan nonbunga (fee-based income) untuk menopang profitabilitas. Di sisi lain, lemahnya kredit juga dapat meningkatkan risiko kualitas aset, karena ekspansi kredit yang rendah sering kali diiringi oleh meningkatnya risiko gagal bayar di sektor riil.
"Dengan demikian, perlambatan kredit menjadi alarm dini baik bagi otoritas maupun pelaku usaha untuk mencari stimulus baru yang dapat menggerakkan permintaan," pungkas Arianto.
Pengamat Perbankan & Praktisi Sistem Pembayaran, Arianto Muditomo menilai kondisi ini menjadi sinyal adanya perlambatan aktivitas ekonomi secara menyeluruh.
Baca Juga: Pertumbuhan Kredit Melambat, Tanda Perekonomian Belum Pulih?
Menurut Arianto, lemahnya penyaluran kredit menunjukkan menurunnya permintaan pembiayaan dari dunia usaha dan rumah tangga. Hal ini bisa disebabkan oleh daya beli yang lesu, investasi yang tertahan, atau kehati-hatian pelaku usaha dalam menghadapi ketidakpastian.
"Artinya, mesin pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi maupun investasi tidak bekerja optimal, sehingga berpotensi menekan pertumbuhan PDB dalam beberapa kuartal mendatang," jelas Arianto kepada SindoNews, Sabtu (23/8).
Arianto menjelaskan bagi sektor perbankan, perlambatan kredit menunjukkan fungsi intermediasi yang tidak berjalan maksimal. Bank menjadi sulit menyalurkan dana pihak ketiga (DPK) ke sektor produktif, yang berpotensi menekan margin bunga bersih (NIM).
Baca Juga: Prabowo Pamer Ekonomi RI Tumbuh 5,12%, Serap 1,2 Juta Lapangan Kerja
Jika tren ini berlanjut, bank akan semakin bergantung pada pendapatan nonbunga (fee-based income) untuk menopang profitabilitas. Di sisi lain, lemahnya kredit juga dapat meningkatkan risiko kualitas aset, karena ekspansi kredit yang rendah sering kali diiringi oleh meningkatnya risiko gagal bayar di sektor riil.
"Dengan demikian, perlambatan kredit menjadi alarm dini baik bagi otoritas maupun pelaku usaha untuk mencari stimulus baru yang dapat menggerakkan permintaan," pungkas Arianto.
(nng)
Lihat Juga :