Menggusur Pemasok AS, Rusia-China Dapat Menguncang Pasar LNG Global

Minggu, 07 September 2025 - 10:05 WIB
loading...
Menggusur Pemasok AS,...
Pengumuman oleh Moskow pada pekan ini tentang ekspansi ekspor gas Rusia melalui jalur pipa ke China dapat mengguncang pasar gas alam terliquifikasi (LNG) global dan menggusur pemasok AS. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Pengumuman oleh Moskowpada pekan ini tentang ekspansi ekspor gas Rusia melalui jalur pipa ke China dapat mengguncang pasar gas alam terliquifikasi (LNG) global dan menggusur pemasok AS. Hal ini berdasarkan laporan yang dirilis oleh Bloomberg.

Selama kunjungan ke China, Presiden Rusia Vladimir Putin mengonfirmasi bahwa Moskow dan Beijing telah mencapai konsensus mengenai pipa utama terbaru yang melintasi Mongolia. Mega proyek pipa gas ini diyakini akan secara signifikan meningkatkan pasokan yang ada.

Meskipun pejabat China belum menanggapi secara resmi kabar tersebut, Bloomberg mencatat bahwa "ikatan yang menghubungkan Rusia dengan konsumen terpentingnya dipastikan telah menguat". Pipa Power of Siberia 2 diperkirakan dapat beroperasi pada tahun 2030.

Baca Juga: Rusia dan China Sepakat Bangun Pipa Gas Baru, Amankan Pasokan Selama 30 Tahun

Dipadukan dengan peningkatan pasokan lainnya, Rusia dapat menggantikan hingga setengah dari lebih dari 40 juta ton LNG yang saat ini diimpor China setiap tahun, termasuk dari AS, menurut prediksi Bloomberg.

"Mengingat bahwa China adalah importir LNG terbesar, ini akan mengubah pasar LNG secara drastis," tulis analis di AB Bernstein, sebuah perusahaan riset dan perantara Wall Street.

"Untuk proyek LNG yang masih dipertimbangkan, ini akan menjadi hal yang sangat negatif," paparnya.

Laporan tersebut mengemas perkembangan ini sebagai sinyal dari Beijing kepada Washington bahwa mereka tidak membutuhkan LNG AS untuk pertumbuhan jangka panjang. Sebuah pesan yang disampaikan saat hubungan antara kedua negara memburuk.

Ditambahkan juga bahwa China tampaknya nyaman dengan ketergantungan yang lebih dalam pada pasokan Rusia, yang diprediksi Bernstein dapat memenuhi 20% dari permintaan gasnya pada awal 2030-an, meningkat dari sekitar 10% saat ini. Minggu ini, China juga menerima pengiriman pertamanya dari proyek LNG 2 Arktik Rusia, meskipun terdapat sanksi AS.

Moskow telah menuduh pemerintah Barat mengutamakan geopolitik dibandingkan kompetisi yang adil, dengan menunjukkan pembekuan aset negara Rusia dan upaya untuk membatasi ekspor energinya melalui pembatasan ekonomi. Pejabat Rusia berargumen bahwa tindakan semacam itu mendorong Moskow untuk mencari pelanggan yang lebih dapat diandalkan, terutama untuk gas pipa, yang memerlukan investasi infrastruktur yang besar dan kerja sama jangka panjang.

Baca Juga: Konflik Israel-Iran Bikin China Makin Ngebet Bangun Mega Pipa Gas Bareng Rusia

Ancaman terbesarnya kesepakatan gas itu disebutkan bisa menggandakan pengiriman ke negara tetangga Asia-nya pada 2030-an. Efeknya bisa menutup ekspor AS, ketika kesepakatan gas antara China dan Rusia semakin kuat.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Indonesia Raih Komitmen...
Indonesia Raih Komitmen Pendanaan AIIB USD17 Miliar, Bukti Kepercayaan pada Fiskal RI
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Petani dan Pelaku UMKM...
Petani dan Pelaku UMKM Sumut, Riau, hingga Aceh Kirim Hasil Kerajinan Lidi ke China
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Rekomendasi
Belanda vs Swedia: Oranje...
Belanda vs Swedia: Oranje Lebih Dijagokan
Harga Minyak Dunia Sudah...
Harga Minyak Dunia Sudah Turun, PDIP Minta Pemerintah Evaluasi Harga Pertamax
Kasus Ijazah Jokowi,...
Kasus Ijazah Jokowi, Roy Suryo akan Ajukan Penangguhan Penahanan
Berita Terkini
Diskon Tarif Transportasi...
Diskon Tarif Transportasi hingga 30% Kembali Menyapa selama Periode Libur Sekolah 2026
Dorong Ekonomi Hijau,...
Dorong Ekonomi Hijau, Kapal Api Group Rehabilitasi Mangrove di Semarang
Ini Daftar PLTU Terdampak...
Ini Daftar PLTU Terdampak Krisis Pasokan Batu Bara di Pulau Jawa
Dorong Kesejahteraan...
Dorong Kesejahteraan Petani, Inovasi Fungisida Syngenta Hadir di Jember
Lewat Platform Digital...
Lewat Platform Digital Elevate, SIG Perkuat Pengelolaan SDM dan Budaya Inovasi
Daftar Saham Paling...
Daftar Saham Paling Cuan hingga Boncos Sepanjang IHSG Sepekan
Infografis
AS Kerahkan 15.000 Prajurit...
AS Kerahkan 15.000 Prajurit dan 100 Jet Tempur Amankan Selat Hormuz
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved