Menko AHY Ungkap Urgensi Pembangunan Giant Sea Wall, Perpaduan Beton dan Mangrove
Rabu, 24 September 2025 - 19:53 WIB
loading...
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan, pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall (GSW) tidak seluruhnya struktur beton. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan, pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall (GSW) tidak seluruhnya struktur beton, tapi juga menggunakan tanaman mangrove.AHY -sapaan Agus Harimurti Yudhoyono- menjelaskan penggunaan mangrove itu merupakan salah satu pendekatan pembangunan yang digunakan Pemerintah untuk sambil menjaga kelestarian alam.
"Disinilah urgensi hadirnya semacam proteksi terhadap pantura , mengedepankan pendekatan yang integratif, tidak hanya sebuah beton, tapi juga dikombinasikan dengan pendekatan atau solusi yang lebih alamiah, termasuk menggunakan mangrove dan lain sebagainya," ujarnya saat ditemui usai acara The 24th Leaders Dialogue di Universitas Indonesia, Rabu (24/9/2025).
Baca Juga: Sidang Umum PBB, Prabowo Ungkap Rencana Pembangunan Tanggul Laut Raksasa 480 Km
Ia menjelaskan, saat ini kondisi pesisir utara Jawa mengalami ancaman serius terhadap banjir rob. Disamping ada masalah perubahan iklim yang membuat peningkatan muka air laut, penurunan muka tanah juga menjadi penyebab banjir rob yang makin dekat dengan kehidupan masyarakat.
"Masyarakat kita ada puluhan juta yang berada di pesisir pantura Jawa yang setiap saat mengalami ancaman terhadap bencana, apakah terhadap permukaan tanah yang terus menurun, maupun banjir rob akibat permukaan air laut yang tinggi," tambahnya.
Pembangunan tanggul laut raksasa, kata AHY, merupakan upaya pemerintah untuk melindungi aktivitas industri yang banyak di wilayah tersebut. Belum lagi, ada banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari aktivitas industri yang terancam tenggelam oleh banjir rob itu.
Baca Juga: Indonesia Tawarkan Proyek Giant Sea Wall Rp1.750 Triliun ke China hingga Eropa
"Kita perlu mengambil langkah strategis memproteksi kawasan industri strategis atau kawasan ekonomi khusus yang juga harus kita lindungi. Jangan sampai terganggu berdampak pada ekonomi secara signifikan, berpengaruh terhadap lapangan pekerjaan dan juga ekonomi masyarakat luas," pungkasnya.
"Disinilah urgensi hadirnya semacam proteksi terhadap pantura , mengedepankan pendekatan yang integratif, tidak hanya sebuah beton, tapi juga dikombinasikan dengan pendekatan atau solusi yang lebih alamiah, termasuk menggunakan mangrove dan lain sebagainya," ujarnya saat ditemui usai acara The 24th Leaders Dialogue di Universitas Indonesia, Rabu (24/9/2025).
Baca Juga: Sidang Umum PBB, Prabowo Ungkap Rencana Pembangunan Tanggul Laut Raksasa 480 Km
Ia menjelaskan, saat ini kondisi pesisir utara Jawa mengalami ancaman serius terhadap banjir rob. Disamping ada masalah perubahan iklim yang membuat peningkatan muka air laut, penurunan muka tanah juga menjadi penyebab banjir rob yang makin dekat dengan kehidupan masyarakat.
"Masyarakat kita ada puluhan juta yang berada di pesisir pantura Jawa yang setiap saat mengalami ancaman terhadap bencana, apakah terhadap permukaan tanah yang terus menurun, maupun banjir rob akibat permukaan air laut yang tinggi," tambahnya.
Pembangunan tanggul laut raksasa, kata AHY, merupakan upaya pemerintah untuk melindungi aktivitas industri yang banyak di wilayah tersebut. Belum lagi, ada banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari aktivitas industri yang terancam tenggelam oleh banjir rob itu.
Baca Juga: Indonesia Tawarkan Proyek Giant Sea Wall Rp1.750 Triliun ke China hingga Eropa
"Kita perlu mengambil langkah strategis memproteksi kawasan industri strategis atau kawasan ekonomi khusus yang juga harus kita lindungi. Jangan sampai terganggu berdampak pada ekonomi secara signifikan, berpengaruh terhadap lapangan pekerjaan dan juga ekonomi masyarakat luas," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :