Pemerintah Perlu Kembangkan Kawasan Salt Triangle Bipolo-Sabu-Rote sebagai Lumbung Garam Nasional
Jum'at, 26 September 2025 - 10:43 WIB
loading...
Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan potensi besar sebagai penghasil garam nasional. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan potensi besar sebagai penghasil garam nasional. Kualitas bahan baku yang tinggi, didukung iklim panas dan kadar salinitas optimal, menjadikan garam NTT disebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia.
Direktur Eksekutif Indonesia Maritime Institute (IMI), Dr. Y. Paonganan yang akrab disapa Ongen, menyarankan pemerintah menetapkan kawasan Salt Triangle yang meliputi Bipolo (Kupang), Sabu, dan Rote Ndao sebagai kawasan ekonomi khusus untuk industri garam. “Tiga kawasan ini memiliki kriteria yang sangat potensial untuk pencapaian swasembada garam nasional pada tahun 2027,” kata Ongen dalam keterangan persnya, Jumat (26/9).
Baca Juga: Prabowo Pamer di PBB: Indonesia Swasembada Beras, Bakal Jadi Lumbung Pangan Dunia
Menurutnya, bila memenuhi syarat, kawasan salt triangle ini bahkan bisa ditingkatkan statusnya menjadi Free Trade Zone (zona perdagangan bebas) berbasis industri garam dan sektor maritim lainnya. "Selain garam, industri maritim lain seperti perikanan, pariwisata bahari, hingga industri perkapalan juga bisa dikembangkan di kawasan tersebut," tambah Ongen.
Ongen menambahkan, NTT memiliki iklim yang sangat ideal untuk mengembangkan potensi gram, menurutnya, karakteristik cuaca panas dengan intensitas sinar matahari tinggi, mirip dengan kawasan produsen garam premium di Australia. "Itu artinya tiga Kawasan itu memiliki potensi, sehingga pemerintah bisa segera menetapkan sebagai kawasan ekonomi khusus," tegas Ongen.
Meski peluangnya besar, Ongen melihat sejumlah tantangan juga mengemuka, mulai dari infrastruktur jalan, listrik, dan pelabuhan, hingga persoalan sosial seperti kepemilikan lahan dan partisipasi masyarakat lokal. "Selain itu, peningkatan kualitas produksi dan sertifikasi mutu garam menjadi kunci agar produk NTT mampu bersaing di pasar domestik maupun ekspor," tegasnya.
Baca Juga: Ekspor Sawit Indonesia Sumbang Lebih dari Rp480 Triliun per Tahun
Ongen menekankan perlunya sinergi antara pemerintah pusat, daerah, investor, dan masyarakat lokal. Dengan demikian, manfaat pembangunan tidak hanya dinikmati korporasi besar, tetapi juga memberi nilai tambah bagi masyarakat pesisir di NTT.
"Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan Salt Triangle Bipolo-Sabu-Rote berpeluang menjadi ikon baru industri garam nasional dan pintu masuk pengembangan sektor maritim lainnya. Langkah ini sekaligus mendukung target pemerintah mencapai swasembada garam pada 2027," tututp Doktor Ilmu Kelautan IPB ini.
Direktur Eksekutif Indonesia Maritime Institute (IMI), Dr. Y. Paonganan yang akrab disapa Ongen, menyarankan pemerintah menetapkan kawasan Salt Triangle yang meliputi Bipolo (Kupang), Sabu, dan Rote Ndao sebagai kawasan ekonomi khusus untuk industri garam. “Tiga kawasan ini memiliki kriteria yang sangat potensial untuk pencapaian swasembada garam nasional pada tahun 2027,” kata Ongen dalam keterangan persnya, Jumat (26/9).
Baca Juga: Prabowo Pamer di PBB: Indonesia Swasembada Beras, Bakal Jadi Lumbung Pangan Dunia
Menurutnya, bila memenuhi syarat, kawasan salt triangle ini bahkan bisa ditingkatkan statusnya menjadi Free Trade Zone (zona perdagangan bebas) berbasis industri garam dan sektor maritim lainnya. "Selain garam, industri maritim lain seperti perikanan, pariwisata bahari, hingga industri perkapalan juga bisa dikembangkan di kawasan tersebut," tambah Ongen.
Ongen menambahkan, NTT memiliki iklim yang sangat ideal untuk mengembangkan potensi gram, menurutnya, karakteristik cuaca panas dengan intensitas sinar matahari tinggi, mirip dengan kawasan produsen garam premium di Australia. "Itu artinya tiga Kawasan itu memiliki potensi, sehingga pemerintah bisa segera menetapkan sebagai kawasan ekonomi khusus," tegas Ongen.
Meski peluangnya besar, Ongen melihat sejumlah tantangan juga mengemuka, mulai dari infrastruktur jalan, listrik, dan pelabuhan, hingga persoalan sosial seperti kepemilikan lahan dan partisipasi masyarakat lokal. "Selain itu, peningkatan kualitas produksi dan sertifikasi mutu garam menjadi kunci agar produk NTT mampu bersaing di pasar domestik maupun ekspor," tegasnya.
Baca Juga: Ekspor Sawit Indonesia Sumbang Lebih dari Rp480 Triliun per Tahun
Ongen menekankan perlunya sinergi antara pemerintah pusat, daerah, investor, dan masyarakat lokal. Dengan demikian, manfaat pembangunan tidak hanya dinikmati korporasi besar, tetapi juga memberi nilai tambah bagi masyarakat pesisir di NTT.
"Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan Salt Triangle Bipolo-Sabu-Rote berpeluang menjadi ikon baru industri garam nasional dan pintu masuk pengembangan sektor maritim lainnya. Langkah ini sekaligus mendukung target pemerintah mencapai swasembada garam pada 2027," tututp Doktor Ilmu Kelautan IPB ini.
(nng)
Lihat Juga :