Harga Emas Dunia Dekati USD4.100, Ini 3 Faktor Penyebabnya
Senin, 13 Oktober 2025 - 14:02 WIB
loading...
Harga emas dunia terus mengalami penguatan signifikan pada perdagangan sesi Asia Oceania, mendekati level resistensi baru. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Harga emas dunia terus mengalami penguatan signifikan pada perdagangan sesi Asia Oceania, mendekati level resistensi baru. Kenaikan harga ini didorong oleh serangkaian ketegangan global, mulai dari ancaman perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China hingga ketidakpastian politik di AS dan Eropa.
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mencatat bahwa harga emas sempat menyentuh USD4.060 per troy ounce tadi pagi dan saat ini bertransaksi di level USD4.047.
Ibrahim memprediksi, harga emas berpotensi menuju level resistensi di USD4.080 hingga USD4.100 pada transaksi hari ini, meskipun bursa AS dan Jepang sedang libur (Hari Adat Nasional dan Kolumbus). Baca Juga: Harga Emas Dunia Rontok, Emas Antam Ikut Anjlok Rp17.000 per Gram
"Ada kemungkinan besar dalam transaksi di hari ini, ini akan menuju level di 4.100," ujar Ibrahim dalam risetnya, Senin (13/10/2025).
Ibrahim Assuaibi mengidentifikasi tiga faktor utama yang memicu kenaikan harga emas dan melemahnya indeks dolar.
Penguatan emas dipengaruhi oleh ancaman mantan Presiden AS Donald Trump yang akan mengenakan biaya impor 100 persen terhadap produk China, dimulai dari komoditas tanah jarang. Aksi balasan dari China turut menciptakan ketegangan baru, mendorong investor mencari aset safe-haven seperti emas.
Perpolitikan di AS masih stagnan karena belum ada kesepakatan antara Partai Republik dan Partai Demokrat mengenai batas atas pendanaan pinjaman. Ibrahim menyoroti Partai Demokrat yang masih kukuh mempertahankan program kesehatan tanpa pemotongan 50%.
Di tengah kebuntuan fiskal ini, Ibrahim memperkirakan Bank Sentral AS (The Fed) kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan minggu ini. Kebijakan ini diambil untuk merespons kondisi fiskal AS, meskipun rilis data penting seperti pengangguran dan inflasi kemungkinan tertunda akibat libur panjang.
Ketegangan geopolitik juga menjadi pemicu. Meskipun di Timur Tengah terjadi gencatan senjata, konflik di Eropa terus memanas seiring permintaan rudal oleh Ukraina kepada Prancis untuk menghadapi serangan Rusia. Selain itu, kondisi politik di Prancis dan Jepang juga tidak pasti.
Di Jepang, Perdana Menteri berfokus melegalkan kripto, yang kemungkinan berlawanan dengan Bank of Japan (BOJ) yang mempertahankan suku bunga rendah (anti-kenaikan suku bunga), sehingga membuat indeks dolar melemah dan emas menguat. Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik, Emas Antam Malah Menukik Lagi Hari Ini
Sejalan dengan penguatan harga emas dunia, harga logam mulia di pasar domestik juga diproyeksikan mengalami kenaikan tajam. "Pada saat harga emas dunia naik, logam mulia pun juga naik," kata Ibrahim.
Ibrahim menargetkan harga logam mulia pada minggu ini kemungkinan besar akan menyentuh level Rp2.100.000 hingga Rp2.350.000. Target dalam bulan ini (Oktober) bahkan diprediksi mencapai Rp2.500.000.
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mencatat bahwa harga emas sempat menyentuh USD4.060 per troy ounce tadi pagi dan saat ini bertransaksi di level USD4.047.
Ibrahim memprediksi, harga emas berpotensi menuju level resistensi di USD4.080 hingga USD4.100 pada transaksi hari ini, meskipun bursa AS dan Jepang sedang libur (Hari Adat Nasional dan Kolumbus). Baca Juga: Harga Emas Dunia Rontok, Emas Antam Ikut Anjlok Rp17.000 per Gram
"Ada kemungkinan besar dalam transaksi di hari ini, ini akan menuju level di 4.100," ujar Ibrahim dalam risetnya, Senin (13/10/2025).
Ibrahim Assuaibi mengidentifikasi tiga faktor utama yang memicu kenaikan harga emas dan melemahnya indeks dolar.
Penguatan emas dipengaruhi oleh ancaman mantan Presiden AS Donald Trump yang akan mengenakan biaya impor 100 persen terhadap produk China, dimulai dari komoditas tanah jarang. Aksi balasan dari China turut menciptakan ketegangan baru, mendorong investor mencari aset safe-haven seperti emas.
Perpolitikan di AS masih stagnan karena belum ada kesepakatan antara Partai Republik dan Partai Demokrat mengenai batas atas pendanaan pinjaman. Ibrahim menyoroti Partai Demokrat yang masih kukuh mempertahankan program kesehatan tanpa pemotongan 50%.
Di tengah kebuntuan fiskal ini, Ibrahim memperkirakan Bank Sentral AS (The Fed) kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan minggu ini. Kebijakan ini diambil untuk merespons kondisi fiskal AS, meskipun rilis data penting seperti pengangguran dan inflasi kemungkinan tertunda akibat libur panjang.
Ketegangan geopolitik juga menjadi pemicu. Meskipun di Timur Tengah terjadi gencatan senjata, konflik di Eropa terus memanas seiring permintaan rudal oleh Ukraina kepada Prancis untuk menghadapi serangan Rusia. Selain itu, kondisi politik di Prancis dan Jepang juga tidak pasti.
Di Jepang, Perdana Menteri berfokus melegalkan kripto, yang kemungkinan berlawanan dengan Bank of Japan (BOJ) yang mempertahankan suku bunga rendah (anti-kenaikan suku bunga), sehingga membuat indeks dolar melemah dan emas menguat. Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik, Emas Antam Malah Menukik Lagi Hari Ini
Sejalan dengan penguatan harga emas dunia, harga logam mulia di pasar domestik juga diproyeksikan mengalami kenaikan tajam. "Pada saat harga emas dunia naik, logam mulia pun juga naik," kata Ibrahim.
Ibrahim menargetkan harga logam mulia pada minggu ini kemungkinan besar akan menyentuh level Rp2.100.000 hingga Rp2.350.000. Target dalam bulan ini (Oktober) bahkan diprediksi mencapai Rp2.500.000.
(akr)
Lihat Juga :