Pertamina Libatkan AI Kelola Blok Rokan, Targetkan Efisiensi Rp762 Miliar
Kamis, 16 Oktober 2025 - 22:03 WIB
loading...
Operation Head Subsurface Development & Planning Zona Rokan, Mochamad Taufan. FOTO/Nanang Wijayanto/SindoNews
A
A
A
PEKANBARU - PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), mengimplementasikan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pengelolaan ribuan sumur minyak di Wilayah Kerja (WK) Rokan, Riau. Langkah ini menjadi bagian dari transformasi digital di sektor hulu migas untuk memperkuat efisiensi dan menjaga stabilitas produksi nasional.
Digitalisasi di WK Rokan dijalankan melalui fasilitas Digital & Innovation Center (DICE), yang berfungsi sebagai pusat pemantauan dan analisis data secara real time terhadap seluruh proses operasional, mulai dari pengeboran, pengapalan, lifting, hingga produksi.
Operation Head Subsurface Development & Planning Zona Rokan, Mochamad Taufan, menjelaskan DICE menjadi sarana integrasi berbagai data dari ribuan sumur migas di WK Rokan agar dapat diolah secara cepat dan tepat melalui teknologi AI.
"DICE membantu mengintegrasikan data dari ribuan sumur agar bisa diolah menjadi rekomendasi akurat dalam waktu singkat menggunakan AI," ujar Taufan di Rumbai, Pekanbaru, Kamis (16/10).
Baca Juga: PHR Zona 4 Catat Rekor Produksi Minyak Tertinggi 30 Ribu Barel per Hari
Menurut dia penerapan teknologi digital dan AI penting untuk mengelola operasi WK Rokan yang masif dan kompleks. Melalui pendekatan berbasis data, Pertamina berhasil menahan laju penurunan produksi dari 11 persen per tahun sebelum alih kelola, menjadi nol persen setelah pengoperasian DICE.
Fasilitas DICE dilengkapi 66 layar digital interaktif yang menampilkan berbagai data dan indikator kinerja, seperti aktivitas pengeboran, jadwal terintegrasi atau Integrated Drilling Schedule, kesiapan lokasi pengeboran, hingga kondisi peralatan produksi. Semua data tersebut menjadi dasar dalam proses pengambilan keputusan manajemen PHR secara cepat dan presisi.
"Manajemen PHR menggunakan data dari DICE untuk mendukung proses pengambilan keputusan strategis di lapangan," kata Taufan.
WK Rokan sendiri merupakan wilayah kerja terbesar di Indonesia dengan luas mencapai 6.400 kilometer persegi, mencakup 12.600 sumur aktif, 35 stasiun pengumpul, serta jaringan pipa alir sepanjang 13.200 kilometer dan 500 kilometer jaringan shipping line.
"Kalau dibentangkan, jaringan pipa WK Rokan hampir tiga kali jarak Sabang–Merauke. Kegiatan pengeboran di wilayah ini pun sangat masif, sekitar 500 sumur pengembangan per tahun atau lebih dari separuh total pengeboran di Indonesia," ujarnya.
Taufan menambahkan, pemanfaatan AI menjadi bagian dari program Optimization Upstream (OPTIMUS) yang dijalankan Subholding Upstream Pertamina. Program ini bertujuan mengoptimalkan produksi sekaligus menekan biaya operasional. Hingga akhir 2025, OPTIMUS ditargetkan memberikan efisiensi hingga USD 46 juta atau sekitar Rp762 miliar.
Baca Juga: KPI Beberkan Lima Terobosan Strategis Jawab Tantangan Energi Global
Selain efisiensi biaya, OPTIMUS juga mendorong budaya kerja baru yang berbasis kolaborasi, optimalisasi proses, dan pemanfaatan teknologi digital di lingkungan Subholding Upstream Pertamina.
Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menyebut WK Rokan merupakan tulang punggung produksi minyak nasional dengan kontribusi sekitar 26 persen terhadap total produksi nasional.
"Pertamina berkomitmen meningkatkan produksi migas untuk menjaga ketahanan energi nasional. Di WK Rokan, berbagai inovasi digital terus kami kembangkan agar tingkat produksi tetap terjaga," ujar Fadjar.
Digitalisasi di WK Rokan dijalankan melalui fasilitas Digital & Innovation Center (DICE), yang berfungsi sebagai pusat pemantauan dan analisis data secara real time terhadap seluruh proses operasional, mulai dari pengeboran, pengapalan, lifting, hingga produksi.
Operation Head Subsurface Development & Planning Zona Rokan, Mochamad Taufan, menjelaskan DICE menjadi sarana integrasi berbagai data dari ribuan sumur migas di WK Rokan agar dapat diolah secara cepat dan tepat melalui teknologi AI.
"DICE membantu mengintegrasikan data dari ribuan sumur agar bisa diolah menjadi rekomendasi akurat dalam waktu singkat menggunakan AI," ujar Taufan di Rumbai, Pekanbaru, Kamis (16/10).
Baca Juga: PHR Zona 4 Catat Rekor Produksi Minyak Tertinggi 30 Ribu Barel per Hari
Menurut dia penerapan teknologi digital dan AI penting untuk mengelola operasi WK Rokan yang masif dan kompleks. Melalui pendekatan berbasis data, Pertamina berhasil menahan laju penurunan produksi dari 11 persen per tahun sebelum alih kelola, menjadi nol persen setelah pengoperasian DICE.
Fasilitas DICE dilengkapi 66 layar digital interaktif yang menampilkan berbagai data dan indikator kinerja, seperti aktivitas pengeboran, jadwal terintegrasi atau Integrated Drilling Schedule, kesiapan lokasi pengeboran, hingga kondisi peralatan produksi. Semua data tersebut menjadi dasar dalam proses pengambilan keputusan manajemen PHR secara cepat dan presisi.
"Manajemen PHR menggunakan data dari DICE untuk mendukung proses pengambilan keputusan strategis di lapangan," kata Taufan.
WK Rokan sendiri merupakan wilayah kerja terbesar di Indonesia dengan luas mencapai 6.400 kilometer persegi, mencakup 12.600 sumur aktif, 35 stasiun pengumpul, serta jaringan pipa alir sepanjang 13.200 kilometer dan 500 kilometer jaringan shipping line.
"Kalau dibentangkan, jaringan pipa WK Rokan hampir tiga kali jarak Sabang–Merauke. Kegiatan pengeboran di wilayah ini pun sangat masif, sekitar 500 sumur pengembangan per tahun atau lebih dari separuh total pengeboran di Indonesia," ujarnya.
Taufan menambahkan, pemanfaatan AI menjadi bagian dari program Optimization Upstream (OPTIMUS) yang dijalankan Subholding Upstream Pertamina. Program ini bertujuan mengoptimalkan produksi sekaligus menekan biaya operasional. Hingga akhir 2025, OPTIMUS ditargetkan memberikan efisiensi hingga USD 46 juta atau sekitar Rp762 miliar.
Baca Juga: KPI Beberkan Lima Terobosan Strategis Jawab Tantangan Energi Global
Selain efisiensi biaya, OPTIMUS juga mendorong budaya kerja baru yang berbasis kolaborasi, optimalisasi proses, dan pemanfaatan teknologi digital di lingkungan Subholding Upstream Pertamina.
Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menyebut WK Rokan merupakan tulang punggung produksi minyak nasional dengan kontribusi sekitar 26 persen terhadap total produksi nasional.
"Pertamina berkomitmen meningkatkan produksi migas untuk menjaga ketahanan energi nasional. Di WK Rokan, berbagai inovasi digital terus kami kembangkan agar tingkat produksi tetap terjaga," ujar Fadjar.
(nng)
Lihat Juga :