Asyiknya Thailand, Covid Reda, Warga Dibayari Pemerintah untuk Liburan
Senin, 14 September 2020 - 12:19 WIB
loading...
A
A
A
Tak hanya restoran, hotel-hotel di Neger Gajah Putih itu pun mulai bergeliat. Namun, meski keadaan membaik, pemilik Hotel Chiang Mai Woody Eupapantawong mengatakan bahwa keuntungan belum akan kembali seperti semula sampai wisatawan asing kembali. "Tapi saya 100% mendukung kampanye pemerintah yang mendorong masyarakat untuk berlibur ini," ujarnya.
Untuk diketahui, dalam skema ini, Pemerintan Thailand hanya mengalokasikan dana sebesar 10,8 juta baht (sekitar Rp5,15 miliar), yang disalurkan melalui aplikasi e-wallet. Setiap bagian dari proses perjalanan, mulai dari membuat reservasi hotel hingga membayar makan malam, dilakukan melalui aplikasi tersebut dan kredit perjalanan hanya dapat digunakan di bisnis yang terdaftar.
Warga negara Thailand yang mendaftar menerima diskon 40% dari harga tiket pesawat dan akomodasi 10 malam. Setelah check-in di hotel, Pemerintah Thailand menambahkan tunjangan pengeluaran harian ke aplikasi e-wallet mereka, sekitar USD25 (sekitar Rp365 ribu) pada akhir pekan dan USD38 (sekitar Rp550 ribu) selama seminggu.
Warga Bangkok Kietthisak Khem-Siripat memanfaatkan skema subsidi tersebut untuk mengajak keluarganya berlibur ke Krabi. "Ini adalah hal yang sangat bagus karena menimbulkan keseimbangan antara ekonomi dan kesehatan," ujarnya seraya memuji langkah pemerintah tersebut. "Memang tak semua biaya liburan ditanggung, tapi setidaknya kami mendapatkan diskon," tuturnya.
Kendati demikian, sektor pariwisata Thailand masih jauh dari pulih. Sejak Maret lalu, kota-kota besar, pantai, pasar hingga pegunungan Thailand yang biasa menjadi sasaran turis sepi tanpa pengunjung. Padahal, Thailand menargetkan kunjungan sekitar 40 juga wisatawan asing tahun ini. Jumlah kunjungan wisman diprediksi merosot tinggal 8 juta saja.
(Baca Juga: Sudah Terapkan Protokol Kesehatan, Bali Masih Pikir-pikir Undang Wisman)
Hal ini berdampak signifikan bagi pengusaha yang bergerak di sektor pariwisata. Aeng-chaun, pemilik restoran yang telah beroperasi 22 tahun di Krabi misalnya, selama lockdown terpaksa menutup restorannya. "Saat dibuka lagi Mei lalu, kami terpaksa memotong gaji karyawan 50%," ujarnya.
Untuk diketahui, dalam skema ini, Pemerintan Thailand hanya mengalokasikan dana sebesar 10,8 juta baht (sekitar Rp5,15 miliar), yang disalurkan melalui aplikasi e-wallet. Setiap bagian dari proses perjalanan, mulai dari membuat reservasi hotel hingga membayar makan malam, dilakukan melalui aplikasi tersebut dan kredit perjalanan hanya dapat digunakan di bisnis yang terdaftar.
Warga negara Thailand yang mendaftar menerima diskon 40% dari harga tiket pesawat dan akomodasi 10 malam. Setelah check-in di hotel, Pemerintah Thailand menambahkan tunjangan pengeluaran harian ke aplikasi e-wallet mereka, sekitar USD25 (sekitar Rp365 ribu) pada akhir pekan dan USD38 (sekitar Rp550 ribu) selama seminggu.
Warga Bangkok Kietthisak Khem-Siripat memanfaatkan skema subsidi tersebut untuk mengajak keluarganya berlibur ke Krabi. "Ini adalah hal yang sangat bagus karena menimbulkan keseimbangan antara ekonomi dan kesehatan," ujarnya seraya memuji langkah pemerintah tersebut. "Memang tak semua biaya liburan ditanggung, tapi setidaknya kami mendapatkan diskon," tuturnya.
Kendati demikian, sektor pariwisata Thailand masih jauh dari pulih. Sejak Maret lalu, kota-kota besar, pantai, pasar hingga pegunungan Thailand yang biasa menjadi sasaran turis sepi tanpa pengunjung. Padahal, Thailand menargetkan kunjungan sekitar 40 juga wisatawan asing tahun ini. Jumlah kunjungan wisman diprediksi merosot tinggal 8 juta saja.
(Baca Juga: Sudah Terapkan Protokol Kesehatan, Bali Masih Pikir-pikir Undang Wisman)
Hal ini berdampak signifikan bagi pengusaha yang bergerak di sektor pariwisata. Aeng-chaun, pemilik restoran yang telah beroperasi 22 tahun di Krabi misalnya, selama lockdown terpaksa menutup restorannya. "Saat dibuka lagi Mei lalu, kami terpaksa memotong gaji karyawan 50%," ujarnya.
Lihat Juga :