Perang Dagang Mereda, AS dan China Sepakati Penurunan Tarif Fentanyl 10%

Kamis, 30 Oktober 2025 - 16:00 WIB
loading...
Perang Dagang Mereda,...
Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bertemu secara langsung pada Kamis di Korea Selatan. FOTO/AP
A A A
BUSAN - Amerika Serikat (AS) dan China sepakat menurunkan tarif produk terkait fentanyl serta menangguhkan kebijakan pengendalian ekspor logam tanah jarang. Kesepakatan tersebut dicapai setelah pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Busan, Korea Selatan, Kamis (30/10).

Washington dalam pertemuan tersebut memutuskan memangkas tarif produk yang terkait fentanyl dari 20% menjadi 10%. Sebagai imbal balik, Beijing menunda penerapan kebijakan pengendalian ekspor logam tanah jarang selama satu tahun. Langkah itu menandai mencairnya ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia setelah bertahun-tahun dilanda gesekan tarif dan pembatasan ekspor.

Trump menyebut pertemuannya dengan Xi sebagai "luar biasa" dan menghasilkan kesepakatan konkret. "Masalah logam tanah jarang telah diselesaikan. Kami akan meninjau kesepakatan ini setiap tahun," ujarnya kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One dikutip dari CNBC.

Ia menegaskan kebijakan baru tersebut akan berlaku segera dan menurunkan total bea masuk atas ekspor produk asal China dari 57% menjadi 47%. Sebagai bagian dari kesepakatan, Beijing juga berkomitmen memperkuat upaya memerangi penyelundupan fentanyl dan melanjutkan pembelian kedelai serta produk pertanian AS.

Reaksi pasar terhadap kesepakatan itu menunjukkan optimisme. Harga kontrak berjangka kedelai di Bursa Chicago turun 1,6%, sementara Indeks Industri Logam Tanah Jarang China (CSI Rare Earths) naik lebih dari 2%, menurut data LSEG.

Selain isu tarif, kedua pemimpin juga membahas kerja sama di bidang teknologi, termasuk pengaturan ekspor chip produksi Nvidia. Namun, Trump menegaskan bahwa chip tercanggih, seperti seri Blackwell, tidak termasuk dalam pembahasan. "Mereka akan berbicara dengan Nvidia dan pihak lain mengenai pengiriman chip tertentu," katanya.

Direktur China di The Asia Group, Han Shen Lin, menilai keputusan AS menurunkan tarif fentanyl menjadi 10% merupakan tanggapan terhadap keluhan utama Beijing sekaligus pengakuan atas upaya China mengendalikan ekspor bahan prekursor fentanyl.

Baca Juga: Setelah 6 Tahun, Trump dan Xi Jinping Bertemu Lagi Ketika Perseteruan Memanas

Trump juga mengumumkan rencana kunjungan kenegaraan ke China pada April mendatang, diikuti kunjungan balasan Presiden Xi ke Washington. Managing Director GreenPoint Business di Ankura Consulting, Alfredo Montufar-Helu, menilai hasil pertemuan itu melampaui ekspektasi. Ia menilai diplomasi personal kedua pemimpin menjadi faktor kunci dalam menahan eskalasi ketegangan sekaligus membuka ruang kerja sama baru, meski sejumlah isu mendasar masih belum terselesaikan.

Pertemuan yang berlangsung selama 1 jam 40 menit itu merupakan yang pertama bagi kedua pemimpin dalam enam tahun terakhir. Dalam pernyataan resminya, kantor berita Xinhua mengutip Xi yang menyerukan "dialog ketimbang konfrontasi" dan menekankan pentingnya komunikasi rutin di berbagai level. Kedua negara sepakat memperkuat kerja sama di bidang perdagangan, energi, ekonomi, serta memperluas pertukaran budaya.

Baca Juga: Pukul Mesin Perang Putin, AS Sanksi Dua Raksasa Minyak Rusia

Suasana akrab antara kedua pemimpin juga tampak sebelum pertemuan. Trump menyebut Xi sebagai "teman lama" sementara Xi menegaskan bahwa pembangunan ekonomi China sejalan dengan visi Trump untuk "Menjadikan Amerika Hebat Kembali". Nada damai ini kontras dengan pertemuan Xi dengan mantan Presiden AS Joe Biden tahun lalu yang berlangsung dalam suasana penuh ketegangan.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
Indonesia Raih Komitmen...
Indonesia Raih Komitmen Pendanaan AIIB USD17 Miliar, Bukti Kepercayaan pada Fiskal RI
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
Purbaya Temui Menkeu...
Purbaya Temui Menkeu China, Perkuat Kerja Sama Pembiayaan dan Investasi
Harga Emas Bangkit usai...
Harga Emas Bangkit usai Trump Sebut Selat Hormuz Dibuka Pekan Ini
AS Siap Mulai Lagi Perang...
AS Siap Mulai Lagi Perang dan Terapkan Kembali Blokade Jika Iran Tidak Patuh
Trump Bela Kesepakatan...
Trump Bela Kesepakatan Iran: Orang-orang Dungu Itu Iri, Orang Jahat, atau Bodoh
Ketua Parlemen Tegaskan...
Ketua Parlemen Tegaskan Iran akan Pungut Biaya dari Kapal untuk Layanan di Selat Hormuz
Rekomendasi
Perkuat Kolaborasi Kampus,...
Perkuat Kolaborasi Kampus, MNC University Inisiasi Konsorsium Perguruan Tinggi ASEAN
Daya Tarik Menarik Thailand:...
Daya Tarik Menarik Thailand: Eksplorasi Kota Bangkok dan Keindahan Pesisir Pattaya
FIFA Beri Lampu Hijau,...
FIFA Beri Lampu Hijau, Michael Oliver Pimpin Laga Belanda vs Swedia
Berita Terkini
Harga Batu Bara buat...
Harga Batu Bara buat PLN Bakal Naik, Begini Penjelasan Bahlil
Bekasi Fajar Cetak Laba...
Bekasi Fajar Cetak Laba Rp30 Miliar, Targetkan Penjualan Lahan Rp600 Miliar
Pertamina Masuk Fortune...
Pertamina Masuk Fortune Southeast Asia 500, Cermin Kekuatan Ekonomi Nasional di Mata Dunia
Bahlil Mengakui Pembangkit...
Bahlil Mengakui Pembangkit PLN Kekurangan Suplai Batu Bara Medium
Antipasi Lonjakan Pengguna,...
Antipasi Lonjakan Pengguna, Jasa Marga Intensifkan Preservasi Rutin Jalan Tol
Keterlambatan RKAB 2026...
Keterlambatan RKAB 2026 Dinilai Hambat Pasokan Batu Bara PLTU Jawa-Bali
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved