Setelah 14 Tahun Tidur, PHE ONWJ Reaktivasi Anjungan EZB Hasilkan 374 Barel per Hari
Senin, 03 November 2025 - 20:16 WIB
loading...
Setelah 14 tahun tidak beroperasi, Anjungan EZB di lepas pantai Kabupaten Subang kembali berproduksi. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Setelah 14 tahun tidak beroperasi, Anjungan EZB di lepas pantai Kabupaten Subang kembali berproduksi. Upaya reaktivasi yang dilakukan PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) ini berhasil menambah pasokan minyak mentah sebesar 374 barel per hari (BOPD).
Keberhasilan tersebut diperoleh melalui pengaktifan kembali dua sumur lama, yakni EZB-1S dan EZB-3S, yang mulai diuji produksi pada 26 Oktober 2025. Langkah ini menjadi bagian dari strategi PHE ONWJ sebagai Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di bawah pengawasan SKK Migas, untuk mengoptimalkan aset eksisting dan mendukung target produksi nasional demi ketahanan energi.
General Manager PHE ONWJ, Muzwir Wiratama, menjelaskan bahwa reaktivasi lapangan tua merupakan strategi penting dalam menjaga kesinambungan produksi migas nasional di tengah tantangan alamiah penurunan produksi dari lapangan yang telah lama beroperasi.
"Ini adalah bukti komitmen kami dalam menjalankan nilai Amanah mengelola aset negara. Misi kami jelas: membangunkan kembali setiap potensi yang masih tersimpan demi kontribusi nyata bagi produksi nasional," ujar Wira, sapaan akrab Muzwir Wiratama, di Jakarta, Senin (3/11/2025).
Baca Juga: Anjungan OOA PHE ONWJ Resmi Beroperasi di Laut Utara Jawa Barat
Ia menambahkan, menghidupkan kembali anjungan yang sudah lebih dari satu dekade tidak beroperasi bukanlah pekerjaan mudah. Proses tersebut memerlukan analisis teknis yang mendalam serta penerapan standar keselamatan kerja tertinggi.
"Tim kami memastikan kembali integritas fasilitas, menganalisis ulang data bawah permukaan, serta menerapkan teknologi adaptif untuk memancing minyak keluar dari sumur-sumur tua," kata Wira.
Menurutnya, produksi awal sebesar 374 BOPD menjadi bukti kemampuan teknis dan inovasi para perwira PHE ONWJ. Salah satu kunci keberhasilan adalah penggunaan metode gas lift untuk membantu mengalirkan minyak ke permukaan.
"Sederhananya, kami memberikan ‘napas buatan’ kepada sumur agar minyak yang tersisa bisa terangkat. Ini adalah capaian nyata sekaligus bukti kompetensi tim kami," ujarnya.
Wira menegaskan, pencapaian tersebut sejalan dengan visi besar pemerintah untuk memperkuat kedaulatan dan ketahanan energi nasional. Ia menilai, mengoptimalkan potensi lapangan tua merupakan bentuk efisiensi dan inovasi yang penting di tengah menipisnya cadangan baru.
"Kita tidak bisa hanya menunggu penemuan ladang minyak baru. Mengelola dengan cerdas apa yang sudah ada adalah langkah strategis menuju kemandirian energi Indonesia," tegasnya.
Baca Juga: PHE ONWJ Lanjutkan Proyek Peremajaan Jalur Pipa Bawah Laut, Target Rampung 2026
Lebih lanjut, Wira menyebutkan bahwa reaktivasi dua sumur tersebut hanyalah langkah awal. PHE ONWJ telah menyiapkan rencana lanjutan untuk mengoptimalkan potensi produksi di Anjungan EZB, termasuk di sumur EZB-1L, EZB-4, dan EZB-2.
"Angka 374 BOPD ini baru permulaan yang sangat menjanjikan. Kami akan terus memantau, melakukan optimalisasi, dan memperluas kegiatan serupa di sumur lain dengan prinsip aman, efisien, dan berkelanjutan," pungkasnya.
Keberhasilan tersebut diperoleh melalui pengaktifan kembali dua sumur lama, yakni EZB-1S dan EZB-3S, yang mulai diuji produksi pada 26 Oktober 2025. Langkah ini menjadi bagian dari strategi PHE ONWJ sebagai Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di bawah pengawasan SKK Migas, untuk mengoptimalkan aset eksisting dan mendukung target produksi nasional demi ketahanan energi.
General Manager PHE ONWJ, Muzwir Wiratama, menjelaskan bahwa reaktivasi lapangan tua merupakan strategi penting dalam menjaga kesinambungan produksi migas nasional di tengah tantangan alamiah penurunan produksi dari lapangan yang telah lama beroperasi.
"Ini adalah bukti komitmen kami dalam menjalankan nilai Amanah mengelola aset negara. Misi kami jelas: membangunkan kembali setiap potensi yang masih tersimpan demi kontribusi nyata bagi produksi nasional," ujar Wira, sapaan akrab Muzwir Wiratama, di Jakarta, Senin (3/11/2025).
Baca Juga: Anjungan OOA PHE ONWJ Resmi Beroperasi di Laut Utara Jawa Barat
Ia menambahkan, menghidupkan kembali anjungan yang sudah lebih dari satu dekade tidak beroperasi bukanlah pekerjaan mudah. Proses tersebut memerlukan analisis teknis yang mendalam serta penerapan standar keselamatan kerja tertinggi.
"Tim kami memastikan kembali integritas fasilitas, menganalisis ulang data bawah permukaan, serta menerapkan teknologi adaptif untuk memancing minyak keluar dari sumur-sumur tua," kata Wira.
Menurutnya, produksi awal sebesar 374 BOPD menjadi bukti kemampuan teknis dan inovasi para perwira PHE ONWJ. Salah satu kunci keberhasilan adalah penggunaan metode gas lift untuk membantu mengalirkan minyak ke permukaan.
"Sederhananya, kami memberikan ‘napas buatan’ kepada sumur agar minyak yang tersisa bisa terangkat. Ini adalah capaian nyata sekaligus bukti kompetensi tim kami," ujarnya.
Wira menegaskan, pencapaian tersebut sejalan dengan visi besar pemerintah untuk memperkuat kedaulatan dan ketahanan energi nasional. Ia menilai, mengoptimalkan potensi lapangan tua merupakan bentuk efisiensi dan inovasi yang penting di tengah menipisnya cadangan baru.
"Kita tidak bisa hanya menunggu penemuan ladang minyak baru. Mengelola dengan cerdas apa yang sudah ada adalah langkah strategis menuju kemandirian energi Indonesia," tegasnya.
Baca Juga: PHE ONWJ Lanjutkan Proyek Peremajaan Jalur Pipa Bawah Laut, Target Rampung 2026
Lebih lanjut, Wira menyebutkan bahwa reaktivasi dua sumur tersebut hanyalah langkah awal. PHE ONWJ telah menyiapkan rencana lanjutan untuk mengoptimalkan potensi produksi di Anjungan EZB, termasuk di sumur EZB-1L, EZB-4, dan EZB-2.
"Angka 374 BOPD ini baru permulaan yang sangat menjanjikan. Kami akan terus memantau, melakukan optimalisasi, dan memperluas kegiatan serupa di sumur lain dengan prinsip aman, efisien, dan berkelanjutan," pungkasnya.
(nng)
Lihat Juga :