Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Guncangan Global
Minggu, 09 November 2025 - 14:30 WIB
loading...
Pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang konsumsi masyarakat yang tetap kuat di tengah tekanan global. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tiga indikator utama ekonomi dan pembangunan, yakni Produk Domestik Bruto (PDB), ketenagakerjaan, serta Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Ketiga indikator tersebut menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia tetap tangguh di tengah ketidakpastian global, dengan tren pertumbuhan yang solid dan berkelanjutan.
Pada Kuartal III-2025, ekonomi nasional tumbuh sebesar 5,04% (year-on-year/yoy), meningkat dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh 4,95%. Sebagai perbandingan, sejumlah negara di kawasan juga mencatat pertumbuhan positif seperti Vietnam tumbuh 8,2%, Malaysia 5,2%, China 4,8%, dan Singapura 2,9%.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, menegaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi masyarakat yang tetap kuat di tengah tekanan global.
"Pertumbuhan ini salah satunya didorong oleh konsumsi masyarakat yang terjaga berkat kebijakan pengendalian inflasi dan meningkatnya aktivitas ekonomi digital," ujar dia dikutip pada Minggu (9/11/2025).
Baca Juga: Ekonomi Kuartal III/2025 Tumbuh 5,04%, Airlangga: Masih On Track Capai Target
Ia menjelaskan peningkatan transaksi elektronik, baik melalui e-retail, marketplace, maupun pembayaran digital seperti uang elektronik dan kartu debit, turut menjaga daya beli masyarakat. Jumlah perjalanan wisatawan nusantara juga naik 21,84% (yoy), sejalan dengan meningkatnya penumpang transportasi umum seperti kereta api dan kapal laut.
Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa tumbuh signifikan sebesar 9,91%, terutama didorong ekspor komoditas nonmigas seperti lemak dan minyak nabati, besi baja, mesin, dan kendaraan. Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara turut memperkuat ekspor jasa. Investasi dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), juga meningkat 5,04%, sementara konsumsi pemerintah tumbuh 5,49%. Kedua komponen tersebut memperkuat fondasi ekonomi nasional di tengah fluktuasi eksternal.
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan tumbuh 5,54%, menjadi sektor penopang utama pertumbuhan ekonomi. Sub-sektor makanan dan minuman, logam dasar, serta kimia dan farmasi menunjukkan kinerja yang solid. Menurut Edy, kenaikan permintaan baik dari dalam negeri maupun ekspor menjadi faktor pendorong utama sektor manufaktur.
Sektor perdagangan besar dan eceran juga tumbuh 5,49%, seiring meningkatnya peredaran produk pertanian dan industri olahan di pasar domestik. Sementara sektor informasi dan komunikasi mencatat pertumbuhan tertinggi, mencapai 9,65%, didorong lonjakan aktivitas digital dan perdagangan daring.
Pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 4,93%, ditopang oleh peningkatan permintaan domestik serta dukungan kebijakan pangan nasional. Secara spasial, ekonomi tumbuh positif di seluruh wilayah Indonesia. Pulau Jawa mencatat pertumbuhan 5,17%, Sulawesi 5,84%, sedangkan Maluku dan Papua tumbuh 2,68%, meski sedikit melambat dibandingkan tahun sebelumnya.
Surplus Neraca Perdagangan
BPS juga mencatat neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus USD33,48 miliar sepanjang Januari–September 2025, meningkat USD11,30 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Surplus ini memperpanjang rekor positif selama 65 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan surplus tersebut terutama disumbang oleh komoditas nonmigas sebesar USD47,20 miliar, sementara sektor migas masih defisit USD13,71 miliar. “Peningkatan nilai ekspor mencerminkan daya saing industri nasional yang terus membaik, khususnya di sektor pengolahan,” ujarnya.
Baca Juga: BPS Ajak Masyarakat dan Dunia Usaha Sukseskan Sensus Ekonomi 2026
Nilai ekspor Indonesia pada periode Januari–September 2025 tercatat naik 8,14%, didorong oleh sektor industri pengolahan yang mencapai USD167,85 miliar atau meningkat 17,02%. Adapun tiga negara tujuan ekspor utama adalah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India dengan kontribusi mencapai 41,81% dari total ekspor nonmigas.
Ekspor ke China didominasi besi dan baja, bahan bakar mineral, serta produk nikel. Sementara ekspor ke Amerika Serikat mencakup mesin elektrik, pakaian rajut, dan alas kaki. Di sisi lain, nilai impor nasional tercatat USD176,32 miliar, naik 2,62% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor nonmigas mencapai USD152,58 miliar atau naik 5,17%, sedangkan impor migas justru turun 11,21% menjadi USD23,75 miliar.
Peningkatan impor didorong oleh kenaikan barang modal yang mencapai USD35,90 miliar, naik 19,13% secara tahunan. Kondisi ini menunjukkan aktivitas investasi dan produksi domestik masih tinggi.
China tetap menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai USD62,07 miliar (40,68%), diikuti Jepang USD11,01 miliar (7,22%), dan Amerika Serikat USD7,33 miliar (4,81%). Impor dari China didominasi oleh mesin, perlengkapan elektrik, dan kendaraan bermotor.
BPS mencatat, surplus perdagangan nonmigas terutama disumbang oleh lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak nabati (USD25,14 miliar), bahan bakar mineral (USD20,15 miliar), besi dan baja (USD14,11 miliar), produk nikel (USD6,50 miliar), serta logam mulia dan perhiasan (USD5,41 miliar). Kinerja positif tersebut menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah perlambatan global, dengan struktur ekspor yang semakin beragam dan daya saing industri nasional yang terus meningkat.
Pada Kuartal III-2025, ekonomi nasional tumbuh sebesar 5,04% (year-on-year/yoy), meningkat dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh 4,95%. Sebagai perbandingan, sejumlah negara di kawasan juga mencatat pertumbuhan positif seperti Vietnam tumbuh 8,2%, Malaysia 5,2%, China 4,8%, dan Singapura 2,9%.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, menegaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi masyarakat yang tetap kuat di tengah tekanan global.
"Pertumbuhan ini salah satunya didorong oleh konsumsi masyarakat yang terjaga berkat kebijakan pengendalian inflasi dan meningkatnya aktivitas ekonomi digital," ujar dia dikutip pada Minggu (9/11/2025).
Baca Juga: Ekonomi Kuartal III/2025 Tumbuh 5,04%, Airlangga: Masih On Track Capai Target
Ia menjelaskan peningkatan transaksi elektronik, baik melalui e-retail, marketplace, maupun pembayaran digital seperti uang elektronik dan kartu debit, turut menjaga daya beli masyarakat. Jumlah perjalanan wisatawan nusantara juga naik 21,84% (yoy), sejalan dengan meningkatnya penumpang transportasi umum seperti kereta api dan kapal laut.
Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa tumbuh signifikan sebesar 9,91%, terutama didorong ekspor komoditas nonmigas seperti lemak dan minyak nabati, besi baja, mesin, dan kendaraan. Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara turut memperkuat ekspor jasa. Investasi dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), juga meningkat 5,04%, sementara konsumsi pemerintah tumbuh 5,49%. Kedua komponen tersebut memperkuat fondasi ekonomi nasional di tengah fluktuasi eksternal.
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan tumbuh 5,54%, menjadi sektor penopang utama pertumbuhan ekonomi. Sub-sektor makanan dan minuman, logam dasar, serta kimia dan farmasi menunjukkan kinerja yang solid. Menurut Edy, kenaikan permintaan baik dari dalam negeri maupun ekspor menjadi faktor pendorong utama sektor manufaktur.
Sektor perdagangan besar dan eceran juga tumbuh 5,49%, seiring meningkatnya peredaran produk pertanian dan industri olahan di pasar domestik. Sementara sektor informasi dan komunikasi mencatat pertumbuhan tertinggi, mencapai 9,65%, didorong lonjakan aktivitas digital dan perdagangan daring.
Pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 4,93%, ditopang oleh peningkatan permintaan domestik serta dukungan kebijakan pangan nasional. Secara spasial, ekonomi tumbuh positif di seluruh wilayah Indonesia. Pulau Jawa mencatat pertumbuhan 5,17%, Sulawesi 5,84%, sedangkan Maluku dan Papua tumbuh 2,68%, meski sedikit melambat dibandingkan tahun sebelumnya.
Surplus Neraca Perdagangan
BPS juga mencatat neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus USD33,48 miliar sepanjang Januari–September 2025, meningkat USD11,30 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Surplus ini memperpanjang rekor positif selama 65 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan surplus tersebut terutama disumbang oleh komoditas nonmigas sebesar USD47,20 miliar, sementara sektor migas masih defisit USD13,71 miliar. “Peningkatan nilai ekspor mencerminkan daya saing industri nasional yang terus membaik, khususnya di sektor pengolahan,” ujarnya.
Baca Juga: BPS Ajak Masyarakat dan Dunia Usaha Sukseskan Sensus Ekonomi 2026
Nilai ekspor Indonesia pada periode Januari–September 2025 tercatat naik 8,14%, didorong oleh sektor industri pengolahan yang mencapai USD167,85 miliar atau meningkat 17,02%. Adapun tiga negara tujuan ekspor utama adalah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India dengan kontribusi mencapai 41,81% dari total ekspor nonmigas.
Ekspor ke China didominasi besi dan baja, bahan bakar mineral, serta produk nikel. Sementara ekspor ke Amerika Serikat mencakup mesin elektrik, pakaian rajut, dan alas kaki. Di sisi lain, nilai impor nasional tercatat USD176,32 miliar, naik 2,62% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor nonmigas mencapai USD152,58 miliar atau naik 5,17%, sedangkan impor migas justru turun 11,21% menjadi USD23,75 miliar.
Peningkatan impor didorong oleh kenaikan barang modal yang mencapai USD35,90 miliar, naik 19,13% secara tahunan. Kondisi ini menunjukkan aktivitas investasi dan produksi domestik masih tinggi.
China tetap menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai USD62,07 miliar (40,68%), diikuti Jepang USD11,01 miliar (7,22%), dan Amerika Serikat USD7,33 miliar (4,81%). Impor dari China didominasi oleh mesin, perlengkapan elektrik, dan kendaraan bermotor.
BPS mencatat, surplus perdagangan nonmigas terutama disumbang oleh lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak nabati (USD25,14 miliar), bahan bakar mineral (USD20,15 miliar), besi dan baja (USD14,11 miliar), produk nikel (USD6,50 miliar), serta logam mulia dan perhiasan (USD5,41 miliar). Kinerja positif tersebut menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah perlambatan global, dengan struktur ekspor yang semakin beragam dan daya saing industri nasional yang terus meningkat.
(nng)
Lihat Juga :