Kembangkan Ekosistem Bioenergi, PLN EPI Perkuat Kolaborasi Swasta-Koperasi
Kamis, 27 November 2025 - 22:08 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Tekan Biaya Bahan Bakar Pembangkit, PLN EPI Pacu Pengembangan LNG Midstream
Untuk memperkuat ketahanan supply chain, lanjut dia, PLN EPI mengembangkan model kemitraan yang melibatkan koperasi sebagai sub-hub dan aggregator sebagai pengolah biomassa. "Kami baru saja menandatangani MoU dengan Kementerian Koperasi. Mereka siap menjadi sub-hub untuk mengumpulkan biomassa, sementara aggregator akan mengolahnya menjadi pelet atau bentuk lain yang memenuhi standar pembangkit," jelas Hokkop.
Ia juga menekankan bahwa aspek kualitas biomassa adalah hal yang tidak bisa ditawar. Menurut dia, banyak produk di pasar yang berisiko menurunkan performa pembangkit, seperti menyebabkan derating. "Karena itu Kami harus memastikan sumber dan kualitas biomassa benar-benar aman dan memenuhi standar operasional,” tegasnya.
Sementara itu, VP Strategi & Pengembangan Bisnis Biomassa Anita Puspita Sari menegaskan bahwa co-firing biomassa merupakan solusi transisi energi yang paling siap diterapkan. Mendekati Akhir 2025, sebanyak 48 lokasi PLTU telah mengimplementasikan co-firing, menggantikan sebagian batu bara dengan biomassa tanpa perlu membangun pembangkit baru. "Kontribusinya signifikan. Ada equivalent emission reduction yang diperoleh dari penggantian bahan bakar fosil dengan biomassa," kata Anita.
Baca Juga: Tumbuh 107%, PLN EPI Raih Laba Rp2,24 Triliun Sepanjang 2024
Untuk memperkuat ketahanan supply chain, lanjut dia, PLN EPI mengembangkan model kemitraan yang melibatkan koperasi sebagai sub-hub dan aggregator sebagai pengolah biomassa. "Kami baru saja menandatangani MoU dengan Kementerian Koperasi. Mereka siap menjadi sub-hub untuk mengumpulkan biomassa, sementara aggregator akan mengolahnya menjadi pelet atau bentuk lain yang memenuhi standar pembangkit," jelas Hokkop.
Ia juga menekankan bahwa aspek kualitas biomassa adalah hal yang tidak bisa ditawar. Menurut dia, banyak produk di pasar yang berisiko menurunkan performa pembangkit, seperti menyebabkan derating. "Karena itu Kami harus memastikan sumber dan kualitas biomassa benar-benar aman dan memenuhi standar operasional,” tegasnya.
Sementara itu, VP Strategi & Pengembangan Bisnis Biomassa Anita Puspita Sari menegaskan bahwa co-firing biomassa merupakan solusi transisi energi yang paling siap diterapkan. Mendekati Akhir 2025, sebanyak 48 lokasi PLTU telah mengimplementasikan co-firing, menggantikan sebagian batu bara dengan biomassa tanpa perlu membangun pembangkit baru. "Kontribusinya signifikan. Ada equivalent emission reduction yang diperoleh dari penggantian bahan bakar fosil dengan biomassa," kata Anita.
Baca Juga: Tumbuh 107%, PLN EPI Raih Laba Rp2,24 Triliun Sepanjang 2024
Lihat Juga :