Dari Warung Madura ke Kancah Global, CEO MPStore Buru Inovasi Stablecoin di Singapore Fintech Festival
Senin, 01 Desember 2025 - 16:59 WIB
loading...
Foto: Doc. Istimewa
A
A
A
BANGKALAN - Geliat inovasi keuangan digital dunia kian cepat, dan pemain lokal Indonesia tak mau ketinggalan. Presiden Director PT Mitra Pedagang Indonesia Tbk (MPStore), Abdul Aziz atau akrab disapa A’ad, terbang langsung dari Bangkalan, Madura, ke Singapore Fintech Festival (SFF) 2025 pada 11-14 November 2025. Kehadirannya di Singapore Expo bertujuan memburu ide-ide yang dapat "mendefinisikan ulang" bisnis pembayaran di masa depan, terutama untuk melayani lebih dari 800.000 kliennya yang mayoritas adalah pemilik warung kelontong, termasuk diaspora Madura.
Dalam kunjungannya, A’ad secara khusus tertarik pada teknologi stablecoin yang dipamerkan oleh raksasa sistem pembayaran global, Visa. Ia mengeksplorasi layanan konversi stablecoin ke dompet digital yang memungkinkan transaksi di lokapasar atau gerai fisik.
"Bukan tidak mungkin, inovasi ini akan menentukan masa depan industri finansial digital," ujar A’ad, yang tahun lalu berhasil mengadopsi layanan link payment dan soundbox payment dari SFF.
Tahun ini, dua teknologi utama yang menjadi incaran MPStore adalah remitensi dan stablecoin. A’ad memiliki visi besar: memotong biaya pengiriman uang yang mahal dan rumit bagi diaspora Indonesia. Ia membayangkan layanan remitensi dapat diambil langsung menggunakan aplikasi MPStore di warung-warung kelontong Madura.
![Dari Warung Madura ke Kancah Global, CEO MPStore Buru Inovasi Stablecoin di Singapore Fintech Festival]()
"Ke depan, saya ingin remitensi bisa diambil pakai MPStore di warung-warung kelontong Madura," tegasnya. Bahkan, ia membayangkan suatu hari, turis asing di Bali bisa berbelanja di warung kelontong Madura dengan modal stablecoin yang dikonversi langsung ke dompet digital melalui layanan MPStore.
Belanja Ide dan Siap Adaptasi Regulasi
Meskipun aset kripto belum diakui sebagai alat pembayaran di Indonesia, A’ad menyatakan kesiapan perusahaannya untuk beradaptasi begitu regulasi memungkinkan. Ia menilai, ajang SFF juga memberikan pengetahuan penting tentang regulasi finansial digital di banyak negara.
Selain MPStore, perwakilan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Renny Amnatha, juga tampak antusias menggali inovasi di SFF, terutama terkait agentik e-dagang dan remitensi yang didorong oleh Artificial Intelligence (AI).
"Ini kesempatan bagi kami untuk belanja ide, membangun jaringan, dan menemukan vendor teknologi yang sesuai. Bisa saja sebagian inovasi akan menjadi inisiatif kami," kata Renny, yang hadir bersama rekannya.
SFF 2025, yang merupakan tahun ke-10 penyelenggaraannya, dihadiri oleh ribuan peserta, 900 pembicara, dan 600 peserta pameran global seperti JP Morgan, DBS, Visa, hingga Binance. Mereka tidak sekadar hadir, melainkan turut menentukan wajah industri keuangan digital masa depan, sejalan dengan adagium bahwa manusia menciptakan teknologi, dan pada akhirnya teknologi membentuk manusia.
Dalam kunjungannya, A’ad secara khusus tertarik pada teknologi stablecoin yang dipamerkan oleh raksasa sistem pembayaran global, Visa. Ia mengeksplorasi layanan konversi stablecoin ke dompet digital yang memungkinkan transaksi di lokapasar atau gerai fisik.
"Bukan tidak mungkin, inovasi ini akan menentukan masa depan industri finansial digital," ujar A’ad, yang tahun lalu berhasil mengadopsi layanan link payment dan soundbox payment dari SFF.
Tahun ini, dua teknologi utama yang menjadi incaran MPStore adalah remitensi dan stablecoin. A’ad memiliki visi besar: memotong biaya pengiriman uang yang mahal dan rumit bagi diaspora Indonesia. Ia membayangkan layanan remitensi dapat diambil langsung menggunakan aplikasi MPStore di warung-warung kelontong Madura.

"Ke depan, saya ingin remitensi bisa diambil pakai MPStore di warung-warung kelontong Madura," tegasnya. Bahkan, ia membayangkan suatu hari, turis asing di Bali bisa berbelanja di warung kelontong Madura dengan modal stablecoin yang dikonversi langsung ke dompet digital melalui layanan MPStore.
Belanja Ide dan Siap Adaptasi Regulasi
Meskipun aset kripto belum diakui sebagai alat pembayaran di Indonesia, A’ad menyatakan kesiapan perusahaannya untuk beradaptasi begitu regulasi memungkinkan. Ia menilai, ajang SFF juga memberikan pengetahuan penting tentang regulasi finansial digital di banyak negara.
Selain MPStore, perwakilan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Renny Amnatha, juga tampak antusias menggali inovasi di SFF, terutama terkait agentik e-dagang dan remitensi yang didorong oleh Artificial Intelligence (AI).
"Ini kesempatan bagi kami untuk belanja ide, membangun jaringan, dan menemukan vendor teknologi yang sesuai. Bisa saja sebagian inovasi akan menjadi inisiatif kami," kata Renny, yang hadir bersama rekannya.
SFF 2025, yang merupakan tahun ke-10 penyelenggaraannya, dihadiri oleh ribuan peserta, 900 pembicara, dan 600 peserta pameran global seperti JP Morgan, DBS, Visa, hingga Binance. Mereka tidak sekadar hadir, melainkan turut menentukan wajah industri keuangan digital masa depan, sejalan dengan adagium bahwa manusia menciptakan teknologi, dan pada akhirnya teknologi membentuk manusia.
(unt)
Lihat Juga :