Harga Emas Sentuh Rekor Tertinggi, Waktunya Beli atau Jual?
Rabu, 24 Desember 2025 - 11:29 WIB
loading...
Harga emas kompak menjulang tinggi menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, baik emas Antam, Galeri24, serta UBS terpantau meroket tajam. Begini saran pakar, apakah beli atau jual?. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Harga emas kompak mengalami kenaikan menjelang momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, baik emas Antam, Galeri24, serta UBS terpantau meroket tajam. Harga emas Antam kini berada di posisi Rp2.590.00 per gram dengan kenaikan Rp29.000 dibanding perdagangan sebelumnya Rp2.561.000/gram.
Sementara itu harga emas Galeri24 saat ini berada di angka Rp2.594.000 per gram. Terjadi peningkatan hingga Rp58.000 dibanding hari sebelumnya yang dibanderol Rp2.536.000 per gram.
Untuk emas UBS dijual di harga Rp2.652.000 per gram, naik hingga Rp59.000 dibandingkan dengan harga di hari sebelumnya yang dibanderol seharga Rp2.593.000 per gram. Baca Juga: Harga Emas Antam Terus Meroket, Hari Ini Naik Rp29 Ribu Jadi Rp2.590.000 per Gram
Lantas dengan harga emas menyentuh rekor tertinggi, apakah menjadi waktu yang tepat untuk melakukan pembelian emas, atau justru malah menjual? Berikut paparannya.
Menurut Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik, UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat menerangkan, keputusan beli atau jual emas seharusnya tidak didasarkan pada euforia rekor harga semata. Menurutnya faktor utama yang perlu dipertimbangkan adalah tujuan investasi , horizon waktu, serta kemampuan menanggung risiko.
"Kalau tujuan Anda adalah perlindungan nilai jangka panjang, misalnya menjaga daya beli tabungan dari ketidakpastian ekonomi, maka rekor bukan alasan otomatis untuk berhenti membeli, juga bukan alasan otomatis untuk mengejar harga," ungkapnya, Rabu (24/12/2025).
Ia menyarankan, strategi pembelian bertahap dengan porsi yang wajar dalam total aset, serta kesiapan menghadapi fluktuasi harga. Strategi ini dinilai lebih rasional dibandingkan bertaruh pada satu titik harga puncak.
Baca Juga: Gajian? Langsung ke Pegadaian Digital! Ada Diskon dan Goldback Menanti
Namun bagi investor dengan tujuan spekulasi jangka pendek, Achmad mengingatkan, bahwa harga rekor justru menjadi area paling berisiko. Sentimen pasar, menurutnya dapat berbalik dengan cepat seiring perubahan kondisi geopolitik maupun ekspektasi suku bunga global.
"Di area rekor, sentimen mudah berbalik. Satu kabar tentang meredanya ketegangan geopolitik atau perubahan ekspektasi suku bunga bisa memicu koreksi cepat," sebut Achmad.
Sebaliknya bagi investor yang telah membeli emas di harga jauh lebih rendah, kondisi saat ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan penyesuaian portofolio. Menjual sebagian emas guna mengunci keuntungan dinilai sebagai langkah yang sehat untuk menurunkan risiko dan menambah likuiditas.
"Beli, jika tujuan Anda membangun perlindungan nilai secara bertahap dan Anda siap menahan fluktuasi, bukan mengejar untung cepat. Jual atau setidaknya jual sebagian, jika Anda sudah untung besar dan butuh menurunkan risiko, menambah likuiditas, atau menyeimbangkan kembali aset," tegas Achmad.
Ditegaskan juga bahwa, keputusan beli atau jual emas harus selaras dengan tujuan hidup dan ketahanan keuangan masing-masing individu.
"Rekor harga bukan kompas moral. Kompasnya tetap tujuan hidup, ketahanan keuangan, dan kedisiplinan. Emas pada akhirnya bukan lomba menebak puncak, melainkan cara menjaga kewarasan finansial saat dunia sedang tidak pasti," tutupnya.
Sementara itu harga emas Galeri24 saat ini berada di angka Rp2.594.000 per gram. Terjadi peningkatan hingga Rp58.000 dibanding hari sebelumnya yang dibanderol Rp2.536.000 per gram.
Untuk emas UBS dijual di harga Rp2.652.000 per gram, naik hingga Rp59.000 dibandingkan dengan harga di hari sebelumnya yang dibanderol seharga Rp2.593.000 per gram. Baca Juga: Harga Emas Antam Terus Meroket, Hari Ini Naik Rp29 Ribu Jadi Rp2.590.000 per Gram
Lantas dengan harga emas menyentuh rekor tertinggi, apakah menjadi waktu yang tepat untuk melakukan pembelian emas, atau justru malah menjual? Berikut paparannya.
Menurut Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik, UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat menerangkan, keputusan beli atau jual emas seharusnya tidak didasarkan pada euforia rekor harga semata. Menurutnya faktor utama yang perlu dipertimbangkan adalah tujuan investasi , horizon waktu, serta kemampuan menanggung risiko.
"Kalau tujuan Anda adalah perlindungan nilai jangka panjang, misalnya menjaga daya beli tabungan dari ketidakpastian ekonomi, maka rekor bukan alasan otomatis untuk berhenti membeli, juga bukan alasan otomatis untuk mengejar harga," ungkapnya, Rabu (24/12/2025).
Ia menyarankan, strategi pembelian bertahap dengan porsi yang wajar dalam total aset, serta kesiapan menghadapi fluktuasi harga. Strategi ini dinilai lebih rasional dibandingkan bertaruh pada satu titik harga puncak.
Baca Juga: Gajian? Langsung ke Pegadaian Digital! Ada Diskon dan Goldback Menanti
Namun bagi investor dengan tujuan spekulasi jangka pendek, Achmad mengingatkan, bahwa harga rekor justru menjadi area paling berisiko. Sentimen pasar, menurutnya dapat berbalik dengan cepat seiring perubahan kondisi geopolitik maupun ekspektasi suku bunga global.
"Di area rekor, sentimen mudah berbalik. Satu kabar tentang meredanya ketegangan geopolitik atau perubahan ekspektasi suku bunga bisa memicu koreksi cepat," sebut Achmad.
Sebaliknya bagi investor yang telah membeli emas di harga jauh lebih rendah, kondisi saat ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan penyesuaian portofolio. Menjual sebagian emas guna mengunci keuntungan dinilai sebagai langkah yang sehat untuk menurunkan risiko dan menambah likuiditas.
"Beli, jika tujuan Anda membangun perlindungan nilai secara bertahap dan Anda siap menahan fluktuasi, bukan mengejar untung cepat. Jual atau setidaknya jual sebagian, jika Anda sudah untung besar dan butuh menurunkan risiko, menambah likuiditas, atau menyeimbangkan kembali aset," tegas Achmad.
Ditegaskan juga bahwa, keputusan beli atau jual emas harus selaras dengan tujuan hidup dan ketahanan keuangan masing-masing individu.
"Rekor harga bukan kompas moral. Kompasnya tetap tujuan hidup, ketahanan keuangan, dan kedisiplinan. Emas pada akhirnya bukan lomba menebak puncak, melainkan cara menjaga kewarasan finansial saat dunia sedang tidak pasti," tutupnya.
(akr)
Lihat Juga :