Bapanas Ancam Pemain di Balik Kelangkaan Minyak Goreng
Minggu, 25 Januari 2026 - 13:54 WIB
loading...
Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan harga minyak goreng tetap stabil menjelang Ramadan. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan harga minyak goreng tetap stabil menjelang Ramadan. Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan harga minyak goreng, termasuk MinyaKita , tidak boleh melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
Amran mengingatkan pengalaman sebelumnya ketika minyak goreng sempat langka dan harganya berfluktuasi tajam di pasaran. Menurutnya, kondisi tersebut tidak masuk akal mengingat Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia. Oleh karena itu, pemerintah akan mengambil langkah tegas terhadap pihak-pihak yang mencoba memainkan harga.
Baca Juga: Langgar HET, Mentan Amran Tindak Tegas Dua Produsen Minyak Goreng
"Masih ingat tidak? Minyak goreng dulu pernah langka. Masuk akal tidak bisa terjadi itu, tapi kita produsen terbesar dunia. (Jadi) tahun ini ditindak. Aku minta ditindak. Tidak ada imbauan. Tindakan yang ada kalau ingin main-main," ujar Amran dikutip Minggu (25/1/2026).
Ia menegaskan pemerintah akan bekerja untuk kepentingan seluruh pihak, mulai dari produsen, konsumen, hingga pedagang, agar dapat tumbuh bersama. Peran badan usaha milik negara (BUMN) juga diperkuat untuk menjaga pasokan dan melakukan intervensi pasar apabila terjadi kekosongan barang.
Kebijakan tersebut sejalan dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 43 Tahun 2025 yang mewajibkan produsen mendistribusikan MinyaKita paling sedikit 35 persen dari realisasi Domestic Market Obligation (DMO) kepada Perum Bulog dan atau BUMN pangan sebagai Distributor Lini 1 (D1).
Amran menjelaskan, volume DMO minyak goreng yang disalurkan ke BUMN kini meningkat signifikan. Dari sebelumnya hanya sekitar 60 ribu hingga 70 ribu kiloliter, kini menjadi 700 ribu kiloliter. Dengan demikian, stok minyak goreng berada di Bulog dan ID FOOD sehingga pemerintah dapat hadir secara langsung melalui operasi pasar.
Baca Juga: Amran Ancam Cabut Izin Feedloter dan Distributor yang Bikin Daging Sapi Mahal
"Sekarang 700 ribu kiloliter. Minyak goreng ada di Bulog dan ID FOOD. Jadi pemerintah harus hadir. Nanti operasi pasar, baru sekarang Bulog besar-besaran. 700 ribu kiloliter kita siapkan. ID FOOD dengan Bulog," jelas Amran.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi minyak kelapa sawit Indonesia pada 2024 mencapai 45,44 juta ton, dengan ekspor sebesar 22,98 juta ton ke berbagai negara. Indonesia menguasai 48,38% pangsa pasar ekspor minyak sawit global, disusul Malaysia sebesar 32,80%.
Amran menegaskan, kebijakan operasi pasar dilakukan demi melindungi masyarakat dari gejolak harga, terutama menjelang hari besar keagamaan nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri. Saat ini, stok cadangan pangan pemerintah (CPP) minyak goreng berupa MinyaKita dikelola oleh Perum Bulog dan ID FOOD dengan jumlah mencapai 7 ribu kiloliter per 22 Januari 2026.
Adapun harga MinyaKita telah diatur dalam Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 1028 Tahun 2024, dengan harga maksimal Rp13.500 per liter di tingkat D1, Rp14.000 per liter di tingkat D2, Rp14.500 per liter di tingkat pengecer, dan harga eceran tertinggi di tingkat konsumen sebesar Rp15.700 per liter.
Amran mengingatkan pengalaman sebelumnya ketika minyak goreng sempat langka dan harganya berfluktuasi tajam di pasaran. Menurutnya, kondisi tersebut tidak masuk akal mengingat Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia. Oleh karena itu, pemerintah akan mengambil langkah tegas terhadap pihak-pihak yang mencoba memainkan harga.
Baca Juga: Langgar HET, Mentan Amran Tindak Tegas Dua Produsen Minyak Goreng
"Masih ingat tidak? Minyak goreng dulu pernah langka. Masuk akal tidak bisa terjadi itu, tapi kita produsen terbesar dunia. (Jadi) tahun ini ditindak. Aku minta ditindak. Tidak ada imbauan. Tindakan yang ada kalau ingin main-main," ujar Amran dikutip Minggu (25/1/2026).
Ia menegaskan pemerintah akan bekerja untuk kepentingan seluruh pihak, mulai dari produsen, konsumen, hingga pedagang, agar dapat tumbuh bersama. Peran badan usaha milik negara (BUMN) juga diperkuat untuk menjaga pasokan dan melakukan intervensi pasar apabila terjadi kekosongan barang.
Kebijakan tersebut sejalan dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 43 Tahun 2025 yang mewajibkan produsen mendistribusikan MinyaKita paling sedikit 35 persen dari realisasi Domestic Market Obligation (DMO) kepada Perum Bulog dan atau BUMN pangan sebagai Distributor Lini 1 (D1).
Amran menjelaskan, volume DMO minyak goreng yang disalurkan ke BUMN kini meningkat signifikan. Dari sebelumnya hanya sekitar 60 ribu hingga 70 ribu kiloliter, kini menjadi 700 ribu kiloliter. Dengan demikian, stok minyak goreng berada di Bulog dan ID FOOD sehingga pemerintah dapat hadir secara langsung melalui operasi pasar.
Baca Juga: Amran Ancam Cabut Izin Feedloter dan Distributor yang Bikin Daging Sapi Mahal
"Sekarang 700 ribu kiloliter. Minyak goreng ada di Bulog dan ID FOOD. Jadi pemerintah harus hadir. Nanti operasi pasar, baru sekarang Bulog besar-besaran. 700 ribu kiloliter kita siapkan. ID FOOD dengan Bulog," jelas Amran.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi minyak kelapa sawit Indonesia pada 2024 mencapai 45,44 juta ton, dengan ekspor sebesar 22,98 juta ton ke berbagai negara. Indonesia menguasai 48,38% pangsa pasar ekspor minyak sawit global, disusul Malaysia sebesar 32,80%.
Amran menegaskan, kebijakan operasi pasar dilakukan demi melindungi masyarakat dari gejolak harga, terutama menjelang hari besar keagamaan nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri. Saat ini, stok cadangan pangan pemerintah (CPP) minyak goreng berupa MinyaKita dikelola oleh Perum Bulog dan ID FOOD dengan jumlah mencapai 7 ribu kiloliter per 22 Januari 2026.
Adapun harga MinyaKita telah diatur dalam Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 1028 Tahun 2024, dengan harga maksimal Rp13.500 per liter di tingkat D1, Rp14.000 per liter di tingkat D2, Rp14.500 per liter di tingkat pengecer, dan harga eceran tertinggi di tingkat konsumen sebesar Rp15.700 per liter.
(akr)
Lihat Juga :