Pil Wegovy Novo Nordisk Pikat Pasar AS, Catat 18.000 Resep di Pekan Pertama
Senin, 02 Februari 2026 - 20:35 WIB
loading...
Novo Nordisk mencatat awal yang menjanjikan dalam peluncuran obat penurun berat badan Wegovy versi pil di AS. FOTO/Ist
A
A
A
JAKARTA - Raksasa farmasi Novo Nordisk mencatat awal yang menjanjikan dalam peluncuran obat penurun berat badan Wegovy versi pil di Amerika Serikat (AS) dengan angka preskripsi yang melampaui ekspektasi pasar. Inovasi terapi oral sekali sehari ini menjadi alternatif tanpa jarum bagi pasien sekaligus memperkuat posisi perusahaan dalam persaingan ketat di pasar obat obesitas global.
"Wegovy pil mencatat 18.410 resep di AS pada pekan penuh pertama yang berakhir 16 Januari 2026," demikian laporan Reuters mengutip data dari lembaga riset kesehatan IQVIA.
Baca Juga: Selama 2025, Pengawasan Obat dan Makanan Cegah Potensi Kerugian Ekonomi Rp49,8 Triliun
Capaian ini dinilai sebagai adopsi awal yang sangat kuat (robust early uptake), melampaui tren peluncuran beberapa obat suntik berbasis hormon GLP-1 sebelumnya. Sebagai perbandingan, hanya dalam empat hari pertama peluncurannya pada 5 Januari, obat ini telah mengantongi 3.071 resep.
Keberhasilan ini didorong oleh strategi harga kompetitif yang menyasar segmen pasien pembayar mandiri (self-pay), mengingat skema asuransi di AS belum mencakup luas obat obesitas. Novo Nordisk menawarkan dosis awal 1,5 mg dan 4 mg seharga USD149 per bulan, sementara dosis pemeliharaan tinggi dibanderol USD299 per bulan. Aksesibilitas pun diperluas melalui jaringan apotek fisik seperti CVS dan Costco hingga platform telehealth digital seperti Ro dan GoodRx.Sentimen positif dari data resep tersebut langsung direspons hijau oleh lantai bursa pada pertengahan Januari 2026.
Saham Novo Nordisk di Denmark melonjak sekitar 6,5 persen mencapai level tertinggi sejak September lalu. Para investor melihat momentum ini sebagai peluang besar bagi perusahaan untuk mengembalikan tren pertumbuhan di bawah kepemimpinan CEO baru yang menjabat sejak tahun lalu.Di sisi lain, kehadiran pil Wegovy memberikan tekanan bagi kompetitor utamanya, Eli Lilly, yang saat ini masih menunggu keputusan FDA terkait pil obesitas eksperimental mereka, orforglipron.
Persaingan industri farmasi ke depan diprediksi tidak lagi hanya bertumpu pada efikasi medis, tetapi juga pada keterjangkauan harga bagi pasien non-asuransi serta kemudahan logistik distribusi obat. Formulasi pil Wegovy dinilai unggul secara logistik karena tidak memerlukan penyimpanan rantai dingin (cold chain) seperti versi suntik. Hal ini memudahkan proses distribusi global, termasuk rencana ekspansi ke Inggris yang keputusannya diharapkan keluar sebelum akhir tahun.
Baca Juga: Transformasi OMAI DLBS dari Bahan Alam ke Obat Modern
Kemudahan ini membuka jalan bagi penanganan obesitas yang lebih masif di berbagai negara yang memiliki kendala infrastruktur medis. Urgensi ketersediaan terapi obesitas yang efektif juga kian terasa di Indonesia seiring dengan tren kenaikan angka penderita.
Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas nasional pada individu usia di atas 18 tahun naik menjadi 23,4 persen dari angka 21,8 persen pada 2018. Kondisi ini menunjukkan bahwa saat ini sekitar satu dari empat orang dewasa di Indonesia hidup dengan kondisi obesitas.
Data tersebut juga menyoroti prevalensi obesitas sentral pada penduduk usia 15 tahun ke atas yang mencapai 36,8 persen. Tingginya angka ini membawa risiko serius terhadap peningkatan beban penyakit kronis nasional, seperti diabetes tipe 2 dan gangguan jantung, sehingga diperlukan solusi pengobatan yang lebih terjangkau dan mudah diakses oleh masyarakat luas.
"Wegovy pil mencatat 18.410 resep di AS pada pekan penuh pertama yang berakhir 16 Januari 2026," demikian laporan Reuters mengutip data dari lembaga riset kesehatan IQVIA.
Baca Juga: Selama 2025, Pengawasan Obat dan Makanan Cegah Potensi Kerugian Ekonomi Rp49,8 Triliun
Capaian ini dinilai sebagai adopsi awal yang sangat kuat (robust early uptake), melampaui tren peluncuran beberapa obat suntik berbasis hormon GLP-1 sebelumnya. Sebagai perbandingan, hanya dalam empat hari pertama peluncurannya pada 5 Januari, obat ini telah mengantongi 3.071 resep.
Keberhasilan ini didorong oleh strategi harga kompetitif yang menyasar segmen pasien pembayar mandiri (self-pay), mengingat skema asuransi di AS belum mencakup luas obat obesitas. Novo Nordisk menawarkan dosis awal 1,5 mg dan 4 mg seharga USD149 per bulan, sementara dosis pemeliharaan tinggi dibanderol USD299 per bulan. Aksesibilitas pun diperluas melalui jaringan apotek fisik seperti CVS dan Costco hingga platform telehealth digital seperti Ro dan GoodRx.Sentimen positif dari data resep tersebut langsung direspons hijau oleh lantai bursa pada pertengahan Januari 2026.
Saham Novo Nordisk di Denmark melonjak sekitar 6,5 persen mencapai level tertinggi sejak September lalu. Para investor melihat momentum ini sebagai peluang besar bagi perusahaan untuk mengembalikan tren pertumbuhan di bawah kepemimpinan CEO baru yang menjabat sejak tahun lalu.Di sisi lain, kehadiran pil Wegovy memberikan tekanan bagi kompetitor utamanya, Eli Lilly, yang saat ini masih menunggu keputusan FDA terkait pil obesitas eksperimental mereka, orforglipron.
Persaingan industri farmasi ke depan diprediksi tidak lagi hanya bertumpu pada efikasi medis, tetapi juga pada keterjangkauan harga bagi pasien non-asuransi serta kemudahan logistik distribusi obat. Formulasi pil Wegovy dinilai unggul secara logistik karena tidak memerlukan penyimpanan rantai dingin (cold chain) seperti versi suntik. Hal ini memudahkan proses distribusi global, termasuk rencana ekspansi ke Inggris yang keputusannya diharapkan keluar sebelum akhir tahun.
Baca Juga: Transformasi OMAI DLBS dari Bahan Alam ke Obat Modern
Kemudahan ini membuka jalan bagi penanganan obesitas yang lebih masif di berbagai negara yang memiliki kendala infrastruktur medis. Urgensi ketersediaan terapi obesitas yang efektif juga kian terasa di Indonesia seiring dengan tren kenaikan angka penderita.
Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas nasional pada individu usia di atas 18 tahun naik menjadi 23,4 persen dari angka 21,8 persen pada 2018. Kondisi ini menunjukkan bahwa saat ini sekitar satu dari empat orang dewasa di Indonesia hidup dengan kondisi obesitas.
Data tersebut juga menyoroti prevalensi obesitas sentral pada penduduk usia 15 tahun ke atas yang mencapai 36,8 persen. Tingginya angka ini membawa risiko serius terhadap peningkatan beban penyakit kronis nasional, seperti diabetes tipe 2 dan gangguan jantung, sehingga diperlukan solusi pengobatan yang lebih terjangkau dan mudah diakses oleh masyarakat luas.
(nng)
Lihat Juga :