DBS Soroti Strategi Investasi Adaptif di Tengah Volatilitas Global
Kamis, 05 Februari 2026 - 20:05 WIB
loading...
DBS menggelar Forum Unlocking Indonesias Wealth Potential. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Bank DBS Indonesia menekankan pentingnya strategi investasi yang adaptif untuk menjaga ketahanan portofolio di tengah ketidakpastian global dan volatilitas pasar. Melalui forum “Unlocking Indonesia's Wealth Potential”, bank tersebut mengajak investor memanfaatkan peluang di sektor teknologi dan komoditas dengan tetap memperhatikan risiko global.
"Bagi investor, kondisi ini membuka peluang pada sektor-sektor yang ditopang oleh konsumsi domestik, termasuk ritel dan e-commerce, seiring dengan meningkatnya adopsi digital masyarakat. Selain itu, percepatan pembangunan infrastruktur, khususnya di sektor energi terbarukan, juga menghadirkan peluang investasi jangka panjang yang sejalan dengan agenda transisi energi nasional," ujar Indonesia’s Head of Research, DBS Group Research William Simadiputra seperti dikutip, Kamis (5/2/2026).
Baca Juga: Indonesia Jadi Hub Perdagangan dan Kolaborasi Ekonomi Dunia Islam di Asia Pasifik
Bank DBS Indonesia menyatakan sektor teknologi global masih menjadi pendorong pertumbuhan, terutama di Amerika Serikat yang mencatat peningkatan investasi pada pusat data dan perangkat keras untuk mendukung pengembangan kecerdasan buatan. Meski demikian, investor diminta mewaspadai potensi pembentukan gelembung apabila ekspektasi pertumbuhan tidak selaras dengan fundamental bisnis.
Selain teknologi, pasar komoditas dinilai memasuki fase yang lebih konstruktif menuju 2026, ditopang ekspektasi meredanya ketegangan dagang dan potensi penurunan suku bunga global. Logam industri seperti tembaga dan rare earth elements dipandang strategis, sementara emas tetap relevan sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian.
Di kawasan Asia, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan tetap terjaga seiring membaiknya perdagangan intra-regional dan kemampuan adaptasi ekonomi negara-negara di kawasan. Kondisi ini membuka ruang bagi investor untuk menempatkan portofolio secara selektif dan terdiversifikasi.
Sementara itu, fundamental ekonomi Indonesia dinilai relatif kuat dengan permintaan domestik sebagai motor pertumbuhan serta inflasi yang terjaga. Konsolidasi fiskal pemerintah dan kebijakan moneter yang mendukung stabilitas dinilai mampu menciptakan iklim investasi yang kondusif dalam jangka menengah.
Baca Juga: Purbaya: Ekonomi Indonesia Solid, Lebih Unggul dari Banyak Negara
Head of Segmentation, Liabilities, and Secured Lending PT Bank DBS Indonesia Natalina Syabana menegaskan peran institusi keuangan dalam mendampingi investor menghadapi dinamika pasar.
"Melalui layanan wealth management, fokus kami adalah menghadirkan layanan advisory yang relevan dan terstruktur untuk mendampingi nasabah menavigasi ketidakpastian global sekaligus peluang domestik sehingga nasabah dapat membuat keputusan yang didasarkan pada pemahaman mendalam terhadap tren pasar, menangkap peluang pertumbuhan secara selektif, dan menjaga portofolio tetap tangguh di tengah volatilitas," ucapnya.
"Bagi investor, kondisi ini membuka peluang pada sektor-sektor yang ditopang oleh konsumsi domestik, termasuk ritel dan e-commerce, seiring dengan meningkatnya adopsi digital masyarakat. Selain itu, percepatan pembangunan infrastruktur, khususnya di sektor energi terbarukan, juga menghadirkan peluang investasi jangka panjang yang sejalan dengan agenda transisi energi nasional," ujar Indonesia’s Head of Research, DBS Group Research William Simadiputra seperti dikutip, Kamis (5/2/2026).
Baca Juga: Indonesia Jadi Hub Perdagangan dan Kolaborasi Ekonomi Dunia Islam di Asia Pasifik
Bank DBS Indonesia menyatakan sektor teknologi global masih menjadi pendorong pertumbuhan, terutama di Amerika Serikat yang mencatat peningkatan investasi pada pusat data dan perangkat keras untuk mendukung pengembangan kecerdasan buatan. Meski demikian, investor diminta mewaspadai potensi pembentukan gelembung apabila ekspektasi pertumbuhan tidak selaras dengan fundamental bisnis.
Selain teknologi, pasar komoditas dinilai memasuki fase yang lebih konstruktif menuju 2026, ditopang ekspektasi meredanya ketegangan dagang dan potensi penurunan suku bunga global. Logam industri seperti tembaga dan rare earth elements dipandang strategis, sementara emas tetap relevan sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian.
Di kawasan Asia, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan tetap terjaga seiring membaiknya perdagangan intra-regional dan kemampuan adaptasi ekonomi negara-negara di kawasan. Kondisi ini membuka ruang bagi investor untuk menempatkan portofolio secara selektif dan terdiversifikasi.
Sementara itu, fundamental ekonomi Indonesia dinilai relatif kuat dengan permintaan domestik sebagai motor pertumbuhan serta inflasi yang terjaga. Konsolidasi fiskal pemerintah dan kebijakan moneter yang mendukung stabilitas dinilai mampu menciptakan iklim investasi yang kondusif dalam jangka menengah.
Baca Juga: Purbaya: Ekonomi Indonesia Solid, Lebih Unggul dari Banyak Negara
Head of Segmentation, Liabilities, and Secured Lending PT Bank DBS Indonesia Natalina Syabana menegaskan peran institusi keuangan dalam mendampingi investor menghadapi dinamika pasar.
"Melalui layanan wealth management, fokus kami adalah menghadirkan layanan advisory yang relevan dan terstruktur untuk mendampingi nasabah menavigasi ketidakpastian global sekaligus peluang domestik sehingga nasabah dapat membuat keputusan yang didasarkan pada pemahaman mendalam terhadap tren pasar, menangkap peluang pertumbuhan secara selektif, dan menjaga portofolio tetap tangguh di tengah volatilitas," ucapnya.
(nng)
Lihat Juga :