6 Dampak Perang AS-Iran, Harga Minyak Dunia hingga Gas Langsung Bergejolak
Rabu, 04 Maret 2026 - 06:13 WIB
loading...
A
A
A
Harga minyak Brent melonjak ke posisi USD82 per barel di bursa ICE pada hari Senin kemarin, menandai level tertinggi 14 bulan. Investor khawatir pasokan dari kawasan Teluk terganggu.
Analis energi memperkirakan jika konflik meluas, harga minyak bisa terdorong menuju USD90 hingga USD100 per barel dalam waktu singkat.
Skenario terburuk bahkan menyebut harga minyak bisa melonjak lebih dari 50% dari level saat ini.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) resmi menutup Selat Hormuz pada Sabtu (28/2), sebagai respons langsung atas serangan gabungan AS dan Israel ke wilayahnya sehari sebelumnya. Langkah drastis ini langsung mengancam jalur distribusi minyak mentah global dan memicu kekhawatiran akan lonjakan harga energi yang signifikan.
Baca Juga: Iran Blokade Selat Hormuz, Bagaimana Nasib Impor BBM dan LPG Indonesia dari AS
Penutupan ini terjadi setelah eskalasi militer besar-besaran di kawasan. AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap target-target di Iran, termasuk ibu kota Teheran, yang dilaporkan menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan menargetkan infrastruktur militer AS di Timur Tengah.
Bank sentral kemungkinan akan menahan suku bunga tinggi lebih lama untuk meredam tekanan harga.
Ancaman inflasi terbesar dari perang berasal dari kenaikan harga minyak dan gas karena sekitar seperlima pasokan dunia yang dikirim melalui laut biasanya melewati Selat Hormuz - yang nyaris terhenti total. Juga akan ada efek lanjutan dari hal-hal seperti tarif penerbangan yang lebih tinggi dan biaya distribusi, serta risiko rantai pasokan yang lebih luas jika konflik berlangsung lama.
Mayoritas responden dalam survei global ekonom oleh Bloomberg News memprediksi perang akan memiliki dampak minimal terhadap produk domestik bruto baik di AS, zona euro, maupun China. Namun banyak responden menambahkan bahwa banyak hal akan tergantung pada berapa lama konflik berlangsung.
Analis energi memperkirakan jika konflik meluas, harga minyak bisa terdorong menuju USD90 hingga USD100 per barel dalam waktu singkat.
2. Penutupan Selat Hormuz Jadi Faktor Penentu
Sekitar 20% pasokan minyak dunia melintas melalui Selat Hormuz setiap hari. Ketika Iran menutup atau memblokade jalur ini sebagai respons perang, dunia bakal menghadapi krisis energi dalam hitungan minggu.Skenario terburuk bahkan menyebut harga minyak bisa melonjak lebih dari 50% dari level saat ini.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) resmi menutup Selat Hormuz pada Sabtu (28/2), sebagai respons langsung atas serangan gabungan AS dan Israel ke wilayahnya sehari sebelumnya. Langkah drastis ini langsung mengancam jalur distribusi minyak mentah global dan memicu kekhawatiran akan lonjakan harga energi yang signifikan.
Baca Juga: Iran Blokade Selat Hormuz, Bagaimana Nasib Impor BBM dan LPG Indonesia dari AS
Penutupan ini terjadi setelah eskalasi militer besar-besaran di kawasan. AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap target-target di Iran, termasuk ibu kota Teheran, yang dilaporkan menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan menargetkan infrastruktur militer AS di Timur Tengah.
3. Inflasi Global Berpotensi Kembali Menggila
Kenaikan harga minyak mentah otomatis meningkatkan biaya energi, transportasi, dan produksi. Negara-negara yang baru mulai pulih dari tekanan inflasi berisiko kembali menghadapi lonjakan harga barang dan jasa.Bank sentral kemungkinan akan menahan suku bunga tinggi lebih lama untuk meredam tekanan harga.
Ancaman inflasi terbesar dari perang berasal dari kenaikan harga minyak dan gas karena sekitar seperlima pasokan dunia yang dikirim melalui laut biasanya melewati Selat Hormuz - yang nyaris terhenti total. Juga akan ada efek lanjutan dari hal-hal seperti tarif penerbangan yang lebih tinggi dan biaya distribusi, serta risiko rantai pasokan yang lebih luas jika konflik berlangsung lama.
Mayoritas responden dalam survei global ekonom oleh Bloomberg News memprediksi perang akan memiliki dampak minimal terhadap produk domestik bruto baik di AS, zona euro, maupun China. Namun banyak responden menambahkan bahwa banyak hal akan tergantung pada berapa lama konflik berlangsung.
4. Harga BBM Dalam Negeri Terancam Naik
Bagi Indonesia, dampaknya bisa sangat terasa. Meski tidak mengimpor minyak langsung dari Iran, Indonesia tetap mengikuti harga pasar global. Jika harga minyak dunia terus naik, tekanan terhadap subsidi energi dan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) akan membesar.Lihat Juga :