Penjualan Turun, Laba Tahun Berjalan Indocement Tetap Meningkat 12%
Kamis, 02 April 2026 - 16:10 WIB
loading...
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk melaporkan kinerja perusahaan. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk mencatat penurunan volume penjualan dan pendapatan sepanjang 2025, namun berhasil membukukan kenaikan laba bersih. Kinerja ini ditopang oleh efisiensi operasional serta kontribusi ekspor yang meningkat signifikan.
"Total volume penjualan semen dan klinker mencapai 19.941 ton pada 2025, angka ini turun 2,7% dibandingkan 2024. Penurunan terutama disebabkan oleh melemahnya penjualan domestik sebesar 3,9%, meskipun ekspor melonjak hingga 73,9%," kata Direktur Utama Indocement, Christian Kartawijaya di Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Baca Juga: PLN Catat Lonjakan Penggunaan SPKLU Lebih dari 4 Kali Lipat Dibanding Tahun 2025 di Arus Mudik Lebaran
Sepanjang 2025, pendapatan neto perusahaan tercatat sebesar Rp17,73 triliun atau turun 4,4% dibandingkan Rp18,55 triliun pada tahun sebelumnya. Kontribusi terbesar berasal dari penjualan semen sebesar Rp16,83 triliun, disusul beton siap pakai Rp1,52 triliun dan tambang agregat Rp252,28 miliar.
Di tengah tekanan pendapatan, perseroan mampu menjaga profitabilitas melalui pengendalian biaya. Beban pokok pendapatan turun 4,2% menjadi Rp11,96 triliun, sehingga menghasilkan laba kotor Rp5,77 triliun dengan margin 32,5%.
Efisiensi juga tercermin dari beban usaha yang ditekan 1,1% menjadi Rp3,68 triliun. Selain itu, perusahaan mencatatkan keuntungan Rp670 miliar dari divestasi terkait pembentukan usaha patungan dengan PT Cipta Mortar Utama.
Kinerja operasional turut diperkuat dengan perbaikan beban operasi lain yang turun menjadi minus Rp49,9 miliar, serta margin laba usaha yang tercatat 15,3% dan margin EBITDA sebesar 24,1%.
Baca Juga: Menhub Klaim Arus Mudik–Balik Lebaran 2026 Lebih Lancar, Kecepatan Rerata Kendaraan 81 Km/Jam
Secara keseluruhan, laba tahun berjalan Indocement pada 2025 mencapai Rp2,2 triliun atau meningkat 12% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan beban pajak penghasilan sebesar 7,1% turut mendukung peningkatan laba tersebut.
Manajemen memperkirakan tekanan permintaan akibat musim hujan dan libur Idulfitri hanya berdampak pada kuartal I-2026. Memasuki kuartal II, permintaan semen diproyeksikan meningkat seiring musim kering dan naiknya aktivitas konstruksi, meski risiko kenaikan biaya energi akibat ketidakpastian geopolitik tetap perlu diantisipasi.
"Total volume penjualan semen dan klinker mencapai 19.941 ton pada 2025, angka ini turun 2,7% dibandingkan 2024. Penurunan terutama disebabkan oleh melemahnya penjualan domestik sebesar 3,9%, meskipun ekspor melonjak hingga 73,9%," kata Direktur Utama Indocement, Christian Kartawijaya di Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Baca Juga: PLN Catat Lonjakan Penggunaan SPKLU Lebih dari 4 Kali Lipat Dibanding Tahun 2025 di Arus Mudik Lebaran
Sepanjang 2025, pendapatan neto perusahaan tercatat sebesar Rp17,73 triliun atau turun 4,4% dibandingkan Rp18,55 triliun pada tahun sebelumnya. Kontribusi terbesar berasal dari penjualan semen sebesar Rp16,83 triliun, disusul beton siap pakai Rp1,52 triliun dan tambang agregat Rp252,28 miliar.
Di tengah tekanan pendapatan, perseroan mampu menjaga profitabilitas melalui pengendalian biaya. Beban pokok pendapatan turun 4,2% menjadi Rp11,96 triliun, sehingga menghasilkan laba kotor Rp5,77 triliun dengan margin 32,5%.
Efisiensi juga tercermin dari beban usaha yang ditekan 1,1% menjadi Rp3,68 triliun. Selain itu, perusahaan mencatatkan keuntungan Rp670 miliar dari divestasi terkait pembentukan usaha patungan dengan PT Cipta Mortar Utama.
Kinerja operasional turut diperkuat dengan perbaikan beban operasi lain yang turun menjadi minus Rp49,9 miliar, serta margin laba usaha yang tercatat 15,3% dan margin EBITDA sebesar 24,1%.
Baca Juga: Menhub Klaim Arus Mudik–Balik Lebaran 2026 Lebih Lancar, Kecepatan Rerata Kendaraan 81 Km/Jam
Secara keseluruhan, laba tahun berjalan Indocement pada 2025 mencapai Rp2,2 triliun atau meningkat 12% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan beban pajak penghasilan sebesar 7,1% turut mendukung peningkatan laba tersebut.
Manajemen memperkirakan tekanan permintaan akibat musim hujan dan libur Idulfitri hanya berdampak pada kuartal I-2026. Memasuki kuartal II, permintaan semen diproyeksikan meningkat seiring musim kering dan naiknya aktivitas konstruksi, meski risiko kenaikan biaya energi akibat ketidakpastian geopolitik tetap perlu diantisipasi.
(nng)
Lihat Juga :