Trump Ancam Blokade Iran Berbulan-bulan, Harga Minyak Melonjak USD126 per Barel
Jum'at, 01 Mei 2026 - 19:18 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Bohongi AS, Ilmuwan Harvard Justru Bantu China Membangun 'Tentara Super'
Trump menyebut blokade laut dinilai lebih efektif dibandingkan serangan langsung terhadap fasilitas energi Iran. Pemerintah AS berharap tekanan ekonomi tersebut dapat memaksa Iran membatasi aktivitas produksi minyaknya yang saat ini menghadapi keterbatasan kapasitas penyimpanan.
Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran baru terhadap risiko resesi global dan tekanan stagflasi. Ekonom Paul Krugman menilai pasar sebelumnya terlalu meremehkan dampak penutupan Selat Hormuz terhadap ekonomi dunia.
Sementara, ahli strategi pasar Deutsche Bank Jim Reid mengatakan krisis energi berkepanjangan telah mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara utama. Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi global akan bertahan lebih lama di tengah kenaikan biaya energi dan bahan baku industri.
Pelaku pasar kini mengantisipasi kemungkinan harga minyak kembali mendekati rekor tertinggi USD147 per barel seperti pada 2008 apabila krisis pasokan di Teluk terus berlanjut. Iran bahkan sebelumnya memperingatkan harga minyak dunia dapat menembus USD200 per barel jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lebih lama.
Trump menyebut blokade laut dinilai lebih efektif dibandingkan serangan langsung terhadap fasilitas energi Iran. Pemerintah AS berharap tekanan ekonomi tersebut dapat memaksa Iran membatasi aktivitas produksi minyaknya yang saat ini menghadapi keterbatasan kapasitas penyimpanan.
Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran baru terhadap risiko resesi global dan tekanan stagflasi. Ekonom Paul Krugman menilai pasar sebelumnya terlalu meremehkan dampak penutupan Selat Hormuz terhadap ekonomi dunia.
Sementara, ahli strategi pasar Deutsche Bank Jim Reid mengatakan krisis energi berkepanjangan telah mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara utama. Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi global akan bertahan lebih lama di tengah kenaikan biaya energi dan bahan baku industri.
Pelaku pasar kini mengantisipasi kemungkinan harga minyak kembali mendekati rekor tertinggi USD147 per barel seperti pada 2008 apabila krisis pasokan di Teluk terus berlanjut. Iran bahkan sebelumnya memperingatkan harga minyak dunia dapat menembus USD200 per barel jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lebih lama.
(nng)
Lihat Juga :