Industri AMDK di Antara Tekanan Energi dan Logistik, Menunggu Keberpihakan Negara
Jum'at, 08 Mei 2026 - 17:30 WIB
loading...
A
A
A
Di saat yang sama, tekanan juga datang dari sisi hilir. Kebijakan pembatasan angkutan Over Dimension Over Load (ODOL), yang ditargetkan mencapai implementasi penuh pada 2027, membawa konsekuensi langsung terhadap efisiensi distribusi. Kapasitas angkut menurun, frekuensi perjalanan meningkat, dan pada akhirnya biaya logistik melonjak.
Di titik inilah industri menghadapi apa yang dapat disebut sebagai tekanan ganda-double squeeze-yang menjepit dari dua arah sekaligus: biaya produksi yang meningkat dan biaya distribusi yang membengkak.
Pengamat politik ekonomi, Andreas Ambesa menilai, jika tidak dikelola secara hati-hati, kondisi ini berpotensi menimbulkan efek lanjutan terhadap harga di tingkat konsumen. Dalam situasi daya beli yang belum sepenuhnya pulih, kenaikan harga produk kebutuhan dasar seperti air minum berisiko memicu tekanan inflasi yang lebih luas.
“Pelaku industri berada dalam dilema klasik: menjaga keberlanjutan usaha atau mempertahankan keterjangkauan harga bagi masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga: Darurat, Pemerintah Pangkas Bea Masuk LPG dan Bahan Baku Plastik Jadi 0 Persen
Lebih jauh, Andreas mengingatkan, bahwa kesiapan ekosistem logistik nasional dalam menghadapi kebijakan zero ODOL belum sepenuhnya matang. Tanpa transisi yang terukur, kebijakan yang pada dasarnya bertujuan baik ini justru berpotensi menimbulkan disrupsi pada rantai pasok, terutama bagi industri dengan distribusi masif seperti AMDK.
Di luar tekanan struktural tersebut, industri juga menghadapi dinamika lain yang tak kalah penting: perubahan persepsi publik. Kunjungan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ke salah satu fasilitas produksi AMDK, misalnya, memicu perbincangan luas mengenai sumber dan kualitas air minum dalam kemasan.
Di titik inilah industri menghadapi apa yang dapat disebut sebagai tekanan ganda-double squeeze-yang menjepit dari dua arah sekaligus: biaya produksi yang meningkat dan biaya distribusi yang membengkak.
Pengamat politik ekonomi, Andreas Ambesa menilai, jika tidak dikelola secara hati-hati, kondisi ini berpotensi menimbulkan efek lanjutan terhadap harga di tingkat konsumen. Dalam situasi daya beli yang belum sepenuhnya pulih, kenaikan harga produk kebutuhan dasar seperti air minum berisiko memicu tekanan inflasi yang lebih luas.
“Pelaku industri berada dalam dilema klasik: menjaga keberlanjutan usaha atau mempertahankan keterjangkauan harga bagi masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga: Darurat, Pemerintah Pangkas Bea Masuk LPG dan Bahan Baku Plastik Jadi 0 Persen
Lebih jauh, Andreas mengingatkan, bahwa kesiapan ekosistem logistik nasional dalam menghadapi kebijakan zero ODOL belum sepenuhnya matang. Tanpa transisi yang terukur, kebijakan yang pada dasarnya bertujuan baik ini justru berpotensi menimbulkan disrupsi pada rantai pasok, terutama bagi industri dengan distribusi masif seperti AMDK.
Di luar tekanan struktural tersebut, industri juga menghadapi dinamika lain yang tak kalah penting: perubahan persepsi publik. Kunjungan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ke salah satu fasilitas produksi AMDK, misalnya, memicu perbincangan luas mengenai sumber dan kualitas air minum dalam kemasan.
Lihat Juga :